Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Khofifah: Pemetaannya Menggunakan Aplikasi GPS dan Membawa KK Asli

20 Juni 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Wabup Pungkasiadi saat mengunjungi Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Wabup Pungkasiadi saat mengunjungi Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Kendala yang dialami sejumlah siswa dan wali murid di proses pendaftaran peserta didik baru (PPDB) jalur online jenjang SMAN mendapat tanggapan serius Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Menurutnya, penerapan PPDB sistem online tahun ini dinilai sudah sesuai tujuan, yakni pemerataan kepada semua sekolah. Bahkan, penerapan sistem dan aplikasi yang digunakan juga diklaim telah memenuhi syarat. Termasuk soal menentukan jarak antara rumah dengan sekolah dalam sistem zonasi.

Yang akurasinya ditentukan oleh titik koordinat yang tercantum dalam GPS (global positioning system). Dan pengendaliannya juga diawasi langsung oleh tim ahli dari perguruan tinggi (PT) terkemuka di Surabaya.

’’Ini timnya tim advance dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya). Sampean datang ke sana. Saya sudah ketemu bolak-balik dan ke tempat pendaftarannya,’’ tutur Khofifah di sela-sela kunjungannya di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Khofifah mengakui keluhan sejumlah wali murid itu tak lepas dari dinamika selama proses pendaftaran berjalan. Di mana, urutan siswa yang tercantum dalam daftar selalu berubah-ubah. Tergantung dari kedekatan lokasi dan capaian nilai masing-masing siswa.

’’Data itu kan dinamik. Karena ada NEM lebih bagus (basis nilai ujian nasional) dan ada jarak lebih dekat (basis jarak/zonasi). Kayaknya masih banyak yang belum paham,’’ kilahnya. Pun demikian juga soal tahapan pendaftaran online yang sudah disosialisasikan jauh hari.

Termasuk pengambilan PIN pendaftaran yang sudah bisa diakses sebulan sebelum PPDB berlangsung. Bahkan, prosesnya bisa diakses lebih mudah. Atau tidak datang ke sekolah, tapi juga bisa di rumah atau di tempat lain.

’’Itu kan sudah dijelaskan pada saat pengambilan PIN. Saya sendiri yang datang ke sekolah. Bahwa, pemetaannya menggunakan GPS dan membawa KK (Kartu Keluarga) asli. Itu sudah dijelaskan,’’ tandasnya. Secara keseluruhan, pihaknya juga menilai penerapan PPDB kali ini sudah lebih baik dan merata. Karena tidak hanya menggunakan sistem online, tapi juga offline.

Yang peruntukannya khusus bagi siswa dari kalangan keluarga kurang mampu atau keluarga buruh. Yang diberikan kuota sebesar 20 persen dari total pagu yang tersedia. ’’Kayaknya masih banyak yang kurang paham. Ada yang offline dan online. Ada juga yang jalur prestasi sebesar 2 persen. Coba disosialisasikan,’’ tandasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia