Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Muhammad Hamzah, Santri dengan Suara Merdu

Berguru Langsung ke Ustad Zulfikar, Dikenal karena "Berandal Qori"

19 Juni 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Muhammad Hamzah, santri yang viral di medsos lewat bakat qorinya.

Muhammad Hamzah, santri yang viral di medsos lewat bakat qorinya. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Jagat maya kembali dihebohkan dengan video viral pemuda berpenampilan biasa, namun memiliki suara merdu dalam melantunkan setiap ayat-ayat suci Alquran dan salawat.

Bak Syamsuri Firdaus, qori asal Bima yang baru saja menjuarai tilawah Alquran pada MTQ Internasional Ke-7 di Turki, Mei lalu, pria ini juga mampu melantunkan setiap ayat Quran dengan nada-nada meliuk nan menyejukkan. Meski penampilannya tergolong urakan, namun bakatnya banyak dikagumi.

Bahkan, di berbagai media sosial (medsos), aksinya bersalawat dan qiroah cukup banyak ditonton netizen. Hingga mencapai 641 ribu viewer di Youtube dan 20 ribu viewer Instagram. Angka itu belum ditambah puluhan ribu akun yang me-repost video berdurasi sekitar semenit itu.

Peningkatan pesat atau viralnya video terjadi selama seminggu belakangan ini. Meski sebenarnya video sudah di-upload beberapa tahun silam. Dari tayangan sekilas, viralnya video aksi qiroah dan salawat tak lepas dari penampilan sang qori yang compang-camping ala preman.

Bahkan, dalam caption-nya, sang pria menjuluki dirinya sendiri sebagai Berandal Qori dengan hastag sebutan yang sama. Caption inilah yang disebut-sebut sebagai asal muasal viralnya aksi Muhammad Hamzah, santri asal Desa Bendung, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

’’Awalnya yang menamai Berandal Qori, ya dari Aji (Aji Sempurno), teman sesama santri. Yang paling banyak ditonton itu ya pas qori di sela-sela ngecat tembok,’’ tutur Hamzah saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto. Hamzah sendiri tak menyangka jika aksinya disukai dan ditonton banyak orang.

Meski di hampir semua videonya, ia selalu menampakkan diri nyeleneh bak berandal jalanan. Dengan celana sobek, menyulut rokok, rambut dikuncir, hingga hanya memakai kaus oblong. Namun, justru di situlah letak perbedaannya.

Di mana, seorang yang lusuh atau kotor sekalipun, pasti punya bakat dan kesitimewaan tersendiri. ’’Saya tak mengira akan seperti ini, ya Alhamdulillah semoga dengan adanya hal ini mampu memberikan semangat bagi generasi muda mudi untuk giat belajar mencari ilmu,’’ ujarnya.

Hamzah mengaku bakat qorinya ia dapat saat menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Sebagai santri, sejumlah ilmu seperti tasawuf, nahwu dan sorof, hingga fiqih wajib ia pelajari dan hafalkan.

Termasuk ilmu tilawah yang semula tidak ia senangi. Namun, karena rasa penasarannya, ia pun mencoba untuk berlatih qori sejak tahun 2011. Dihadapan guru dan ustadnya, Abdul Kholik, setiap minggu, Hamzah wajib diuji keabsahan bacaan Qurannya. Termasuk di hadapan Ustad Zulfikar Basyaiban, qoriah terkenal asal Sidoarjo.

’’Kalau sama Pak Dul (Abdul Kholik) itu setoran mingguan, tapi kalau sama ustad Zulfikar, setoran bulanan,’’ tandas mahasiswa semester 8 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas di Mojokerto ini. Dirasa sudah mahir, Hamzah lantas diminta gurunya untuk menghadiri undangan qori di sebuah hajatan pernikahan.

Nah, di situlah kali pertama Hamzah tampil di muka umum. ’’Saat itu langsung down karena terlalu tinggi ambil nada. Namun, lama kelamaan saya pelajari dan Alhamdulillah sekarang sudah bisa diterima masyarakat,’’ tambahnya.

Atas bakat istimewanya itu, Hamzah mulai banyak menerima tawaran tampil qori di sejumlah acara besar. Termasuk udangan khusus dihadapan KH Marzuki Mustamar dan sejumlah ulama besar PW NU Jatim awal pekan lalu. Sesuai niatnya di awal kali belajar tilawah, yakni santri harus bermanfaat bagi semua umat. Termasuk lewat kemampuannya sebagai qori agar didengarkan banyak orang.  

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia