Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Seribu Lebih CJH Kabupaten Mojokerto Mengalami Risiko Tinggi

19 Juni 2019, 18: 59: 57 WIB | editor : Mochamad Chariris

Calon jamaah haji Kabupaten Mojokerto mengikuti manasik haji di halaman gedung IPHI Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Calon jamaah haji Kabupaten Mojokerto mengikuti manasik haji di halaman gedung IPHI Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Calon jamaah haji (CJH) Kabupaten Mojokerto tahun ini nampaknya harus lebih hati-hati dalam menjaga kesehatan selama menjalani rukun Islam kelima nanti.

Bagaimana tidak, berdasarkan hasil analisis tim medis Dinkes Kabupaten Mojokerto, kondisi kesehatan CJH banyak yang berisiko tinggi (risti).Bahkan, jumlahnya mencapai separo lebih atau 63 persen dari total 1.808 CJH yang diberangkatkan Kemenag.

Angka tersebut yang mau tak mau menjadi catatan khusus tim medis dan petugas haji dalam merawat CJH selama proses ibadah berlangsung. Data yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, sebanyak 1.009 dari 1.808 CJH terdeteksi mengalami risti. Mereka tercantum di sembilan penyakit berbeda.

Dengan penyakit asma paling mendominasi, yakni sebanyak 471 orang. Disusul kategori penyakit lansia dan hipertensi diurutan dominasi kedua dengan masing-masing 426 dan 425 orang. Sementara di urutan ketiga, ada penyakit diabetes militus yang diderita 361 CJH.

Dan disusul beberapa penyakit lain, seperti kelainan jantung sebanyak 273 orang, hiperkolesterol 263 orang, obesitas 255 orang, gastritis 125 orang, serta bronkitis 78 orang. Deretan penyakit itu terdekteksi petugas medis saat pengecekan kesehatan beberapa waktu lalu.

Di mana, hasil uji medis itu menjadi syarat CJH dalam melunasi BPIH (biaya penyelenggaraan ibadah haji). ’’Ya, yang risiko tinggi sudah dikawal dan didampingi tim medis Dinkes. Jumlahnya memang cukup banyak,’’ tutur dr. Langit Kresna Janitra, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto.

Kendati berisiko tinggi, mereka tetap direkomendasikan untuk berangkat menuju Tanah Suci atau dinyatakan istithaah (mampu). Pernyataan itu setelah penyakit yang diderita tidak sampai menghalangi sepenuhnya CJH dalam menjalankan rukun ibadah haji.

Meski begitu, butuh pendampingan serta catatan khusus bagi CJH risti dalam menjaga kesehatannya. Termasuk di masa persiapan yang tinggal sebulan lagi jelang keberangkatan.

Rekomendasi obat serta waktu istirahat menjadi dua hal paling penting yang harus diperhatikan petugas medis dan pendamping agar kesehatan CJH tetap stabil. Tidak ada treatment khusus yang diberikan Dinkes kepada CJH. Hanya cukup melatih kekuatan fisik agar perjalanan ibadah haji berlangsung lancar.

’’Ya, latihan berjalan juga penting. Tapi, tidak ada durasi atau jadwal tertentu. Yang penting jamaah bisa menjaga kondisi fisiknya saja,’’ tandasnya. Sesuai jadwal pramanifest, keberangkatan rombongan haji Kabupaten Mojokerto terbagi dalam 6 kloter.

Yakni, 3 kloter penuh, dan 3 kloter gabungan. Dengan total jamaah 1.808 orang. Terdiri dari 1.791 CJH asli Mojokerto, dan 17 CJH pindahan dari daerah lain. Jadwal  keberangkatannya dimulai pada 27 Juli yang akan dilalui 190 CJH kloter gabungan 61, dan kloter penuh 62 dan 63.

Kemudian disusul keberangkatan selang sehari setelahnya yang dilalui kloter penuh 64 ditambah 210 CJH kloter gabungan. Sementara 81 CJH tersisa, akan masuk dalam kloter gabungan 84 yang akan berangkat pada 5 Agustus.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia