Minggu, 21 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Veshayu Taranggana Sasadhara, Komikus Cilik

Sudah Ada Enam Cerita Terkumpul dalam Satu Sketchbook

14 Juni 2019, 21: 45: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Veshayu Taranggana Sasadhara menunjukkan cerita komik hasil karyanya di rumahnya Wisma Pungging Permai, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging.

Veshayu Taranggana Sasadhara menunjukkan cerita komik hasil karyanya di rumahnya Wisma Pungging Permai, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

Optimistis dan tak mudah menyerah menjadi prinsip Veshayu Taranggana Sasadhara untuk selalu berkarya. Hasilnya, banyak prestasi melukis dan menggambar yang diraih. Bahkan, di usianya yang menginjak 12 tahun ini sudah membuat karya komik.

AWALNYA, anak kedua dari dua saudara pasangan Wahyudi dan Novi Shanty ini sempat malu-malu menunjukkan hasil karya tangannya berupa sketsa komik yang sudah dibikin. Namun, di balik sikap rendah hati itu, ternyata tersimpan karya menakjubkan dan layak diparesiasiasi.

Ya, dengan bakatnya menggambar dan melukis, diam-diam Tara sapaan akrap Veshayu Taranggana Sasadhara juga mempunyai kemampuan menjadi komikus. ’’Awalnya, saya terispirasi dari kakak. Karena kakak juga suka membuat komik,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto rumahnya di Wisma Pungging Permai, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging.

Di lain sisi, membaca komik juga menjadi hobinya sejak usia 9 tahun. Saat itu, Tara masih duduk di kelas III SD. Tekatnya pun sudah bulat. Sejak itu, dia mulai mencoret-coret buku pelajaran untuk membuat karya komik.

Torehan tangannya bahkan membuat buku pelajar pernah tak tersisa dari gambaran komik. Semua buku tulis di bagian tengahnya disobeki untuk sketsa komik. ’’Karena itu, saya pernah kena marah mama. Mama tahu buku tulis saya kok jadi tipis banget,’’ tuturnya.

Kemarahan mamanya terulang lagi saat mengetahui nilai ulangannya jeblok. Dari soal ulangan 20 nomor, nilai yang didapat hanya 15. Sebab, dari 20 soal, dia hanya benar 3 soal saja. Tapi, bukan ini yang menjadi perhatian.

Melainkan, dari setiap nomor soal itu, oleh Tara, dikasih gambar karakter orang satu-satu. Sebaliknya, situasi ini nyatanya tak membuatnya Tara patah arang. Dengan bakatnya, orang tuanya mulai menyadari.

Hingga akhirnya, bakat Tara mendapat dukungan. Hasilnya, dia kini bisa membuat sekumpulan komik dengan berbagai judul. ’’Sekarang ada enam cerita yang sudah terkumpul dalam satu sketchbook. Lainnya berupa lembaran-lembaran kertas dengan berbagai cerita,’’ bebernya.

Cerita hantu misalnya. Komikus cilik ini mengaku membuat komik tentang hantu terispirasi dari film-film horor yang kerap ditonton. Sedangkan rangkaian cerita lainnya dibuatnya dari kisah nyata kesehariannya. Seperti berjudul Bukber, Perkemahan Musim Semi, dan Berenang.

’’Saya juga pernah menjual gambar saat teman-teman saya ingin digambar. Selembar seribu rupiah. Lumayan juga uangnya bisa buat jajan,’’ kata bocah berkacamata ini seraya tersenyum.

Tara mengaku inspirasi membuat komik ini tak lain berangkat dari hobi membaca. Salah satu komik kesukaannya adalah berjudul Keluarga Irit dari penulis Korea. Tak heran, jika ke toko buku, stan favorit Tara adalah edu comic. Setidaknya sudah puluhan komik berbagai judul dikoleksinya.

Puluhan komik itu juga dibelinya dari hasil keringat sendiri saat mendapatkan uang pembinaan juara di ajang lomba menggambar. Kebetulan, dia juga punya bakat mengambar dan melukis.

’’Kalau judul Keluarga Irit masih empat seri. Tapi, ada juga komik Si Nopal, Plan and Zombie, Why, dan Dinosaurus,’’ terangnya. Ya, setidaknya koleksi komik itu sekaligus menjadi pemicu Tara bisa berkarya dan berkembang. Di era digital kali ini membuat Tara lebih dimudahkan untuk mencari inspirasi dan refrensi. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia