Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Dieksekusi di Dalam Mobil,Empat Kali Korban Dibakar Menantu Sendiri

14 Juni 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery dan penyidik melakukan penyelidikan abu korban pembunuhan yang ditemukan di Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M. Solikhin Fery dan penyidik melakukan penyelidikan abu korban pembunuhan yang ditemukan di Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Kasus pembunuhan sadis dengan cara dibakar di sebuah kebun Desa Kesemen, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, terus menunjukkan perkembangan.

Setelah sebelumnya petugas berhasil menangkap tiga terduga pelaku, hasil penyelidikan diketahui para pelaku juga membakar jasad SR, 55, warga Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo hingga empat kali. Hal itu tak lain menjadi upaya pelaku menghilangkan barang bukti.

Ketiga pelaku itu masing-masing adalah WY, warga Sidoarjo. Ia merupakan menantu korban sendiri. Sementara dua lainnya ML dan LM, warga Mojokerto. Kini, ketiganya sedang dalam penanganan Polres Mojokerto untuk pendalaman penyidikan. ’’Pelaku utama sekaligus eksekutor adalah WY,’’ kata Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP M. Solikhin Fery.

Sementara, dua pelaku lainnya diketahui hanya berperan membantu WY. ’’Dari BAP (berita acara pemeriksaan) para pelaku juga mengakui perbuatan mereka,’’ tambahnya. Hanya saja, sejauh ini pihaknya belum memberi penjelasan secara detail motif dari kasus pembunuhan tersebut.

Petugas masih melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Dilain sisi penyidikan juga menunggu bukti otentik untuk bisa menyimpulkan serangkaian fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Bukti itu merupakan hasil tes DNA dari tengkorak dan anak korban berinisial CH, 37, warga Buduran, Kabupaten Sidoarjo yang sebelumnya melaporkan atas hilangnya ibunya, SR, 55, sebulan lalu.

Terhitung sejak ditemukan tengkorak di atas abu pembakaran. ’’Hasil tes DNA ini menjadi kunci serangkaian fakta dan proses penyidikan yang sudah kami lakukan,’’ terangnya. Fery menyebutkan, pihaknya tak mau gegabah dalam menangani kasus pembunuhan yang diduga melibatkan menantu dan mertua tersebut.

’’Sebenarnya, semua petunjuk, fakta, sudah lengkap dan kuat,’’ ujarnya. Pengakuan para pelaku misalnya. Sejauh ini, dalam BAP mereka sudah mengakui perbuatannya. Termasuk peran yang mereka lakukan dalam insiden pembunuhan berencana ini. Bahkan, sebelum akhirnya tengkorak ditemukan, untuk menghilangkan jejak, mereka harus membakar jasad korban hingga empat kali.

Tak heran, jika di TKP (tempat kejadian perkara) petugas hanya menemukan tengkorak dan serpihan tulang di atas abu sisa pembakaran ban saja. ’’Nah, dalam proses pembakaran ini, dua pelaku (ML dan LM) mulai ikut berperan,’’ tuturnya. Sebaliknya, menantu korban, WY, diduga menjadi eksekutor tunggal.

Hasil penyelidikan, penyidik juga menemukan fakta, jika eksekusinya dilakukan WY menggunakan seutas tali di dalam mobil Toyota Avanza warna hitam yang ditumpangi WY dan korban. Kebetulan, WY dan SR saat itu berada dalam satu mobil hendak ke Jombang.

Namun, WY mengajak mertuanya SR ke Desa Sugeng, Kecamatan Trawas. Dalihnya untuk mampir sekaligus menjemput temannya. Namun, di balik itu ada rencana pembunuhan yang dilakukan WY terhadap SR. ’’Lokasi eksekusinya juga tak jauh dari TKP pembakaran,’’ tegasnya. Terungkapnya kasus ini juga dikuatkan dari enam saksi yang sudah dimintai keterangan.

Mereka mengaku sebulan sebelum penemuan tengkorak, sempat bertemu dengan terduga pelaku. Itu setelah mobil Toyota Avanza warna hitam yang diduga digunakan untuk mengangkut sekaligus membuang jasad korban sempat terperosok di lumpur saat malam hari.

Saat itu, pelaku hendak kabur usai membakar mayat di perkebunan seluas 300 hektare milik sebuah perusahaan tersebut. ’’Saat itu, paginya dia (pelaku) minta tolong ke warga. Tapi, mobil baru bisa dievakuasi siang harinya setelah ditarik dengan pikap warga,’’ bebernya.

Sebagaimana diketahui, jalan menuju lokasi penemuan tengkorak berupa jalan setapak dan hanya bisa dilalui satu kendaraan. Saat aksi pembunuhan terjadi, memasuki musim hujan, sehingga jalan di kebun menjadi berlumpur. ’’Kebetulan tempat mobil terperosok itu jaraknya juga dekat. Sekitar 100 meter dari lokasi penemuan tengkorak,’’ tegas Fery. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia