Kamis, 21 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Pejabat Bulog Tilap Uang Hasil Penjualan Komoditas Rp 1,6 Miliar

14 Juni 2019, 10: 25: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pegawai Bulog Subdivre Surabaya Selatan, Sigit Hendro Purnomo (kanan), dalam mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan di Kejari Kabupaten Mojokerto.

Pegawai Bulog Subdivre Surabaya Selatan, Sigit Hendro Purnomo (kanan), dalam mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan di Kejari Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Penyidikan kasus korupsi di tubuh Bulog Subdivre Surabaya Selatan yang menyeret tersangka tunggal, Kasi Komersial dan Pengembangan Bisnis Sigit Hendro Purnomo memasuki babak baru.

Rabu (12/6) Kejati Jatim melimpahkan kasus ini ke Kejari Kabupaten Mojokerto. Bersama barang bukti satu unit mobil Toyota Yaris dan satu unit rumah di kawasan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Sigit menjalani pemeriksaan secara singkat.

Sekitar pukul 13.00, Sigit yang mengenakan rompi oranye itu langsung dikawal menuju mobil tahanan dan dijebloskan ke Lapas Kelas IIB Mojokerto. Kajari Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono, mengatakan, jaksa penuntut melakukan penahanan selama 20 hari ke depan.

Sigit diduga telah menilap uang perusahaan senilai Rp 1,6 miliar. ’’Tersangka tidak menyetorkan ke Bulog. Tapi, dimasukkan ke rekening pribadinya,’’ ungkapnya. Memang, sebagai Kasi Bidang Komersial dan Pengembangan Bisnis, Sigit memiliki kewenangan yang cukup besar.

Di antaranya, melakukan penjualan komoditas melalui program Rumah Pangan Kita (RPK). Di sektor ini saja, uang Bulog yang hilang diperkirakan mencapai Rp 618,7 juta. Dana ini belum termasuk penjualan pasar umum atau operasi pasar (OP) yang menelan anggaran sebesar Rp 91,14 juta, serta penjualan jagung mencapai Rp 800 juta.

Belum lagi, stok gula di gudang Bulog yang hilang mencapai 10.118 kilogram (kg) senilai Rp 126,5 juta. ’’Dia menjual secara fiktif, mengeluarkan faktur penjualan secara terus-menerus,’’ ujar Rudy. Mantan Kajari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat ini menambahkan, jumlah itu masih dianggap belum final.

Karena penyidik akan terus mendalami dugaan lenyapnya dana lain yang hilang hingga keterlibatan pejabat lain dalam kasus ini. ’’Sementara masih sendiri. Tapi, saya meyakini paling tidak dia bersama-sama,’’ tegasnya. 

Rudy menambahkan, penahanan terhadap Sigit ini dilakukan setelah penyidik Kejati berhasil mengendus tempat persembunyiannya di kawasan Bandung, pertengahan Maret lalu. Sigit mulai menghilang sejak 31 Oktober 2017. Dia tidak pernah memenuhi panggilan penyidik Kejati Jatim, hingga akhirnya ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak November 2018.

Sigit dijerat dengan pasal 2 dan 3 UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara. 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia