Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sambut Waisak, Buddha Tidur Dibersihkan, Momentum Pembersihan Hati

18 Mei 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pembersihan patung Buddha tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dilakukan untuk menyambut Hari Raya Waisak

Pembersihan patung Buddha tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dilakukan untuk menyambut Hari Raya Waisak (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO - Mendekati Hari Raya Waisak 2019 jatuh pada Minggu (19/5), sejumlah persiapan dan pembersihan patung Buddha tidur di Maha Vihara Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto mulai dilakukan.

Ritual mencuci patung Buddha tidur (sleeping Budhist) terbesar di Indonesia ini sekaligus sebagai simbol untuk membersihkan pikiran dan hati dari hal-hal negatif.’’Filosofi pembersihan patung Buddha tidur ini sama seperti pribadi manusia. Sebelum akan melakukan kegiatan, ritual pembersihan dilakukan secara lahir dan batin,’’ kata Upasaka Pandita (UP) Dhammapalo Maha Vihara Majapahit, Saryono, Jumat (17/5).

Menurutnya, pembersihan patung dengan panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter ini masih sama seperti tahun lalu. Hal itu tak lain sebagai ritual rutin dalam menyambut Hari Raya Waisak yang tahun ini jatuh pada Minggu (19/5) pukul 04.11.

Meski sudah menjadi rutinitas, tahun ini ada sedikit perbedaan. Yakni, dengan diadakannya upacara Perabuhan Patung Buddha tidur dari sebelumnya tidak ada. ’’Rupang yang dibuat dari kardus nanti akan dibakar saat akhir pemujaan,’’ tambahnya. Meski Waisak jatuh pukul 04.11, namun rangkaian upacara sudah digelar sejak pukul 02.30.

Saryono menegaskan, sebenarnya peringatan Waisak dilakukan untuk memperingati tiga peristiwa. Yakni, peristiwa kelahiran, pencerahan, dan wafatnya pada purnama sidi di bulan Waisak. Terlepas dari itu, meski Buddha tidur sudah dikenal hingga Nusantara, di tengah masyarakat sedikit yang mengetahui.

Bahwa, sosok Buddha Mahaparini Bana bukan dalam posisi tidur, melainkan dalam kondisi saat Sidharta wafat. ’’Memang, posisi tertidur miring ke kanan. Beliau meninggal karena kondisi tubuh,’’ tegas Saryono. Perlu diketahui, patung Buddha tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan ini dibangun tahun 1993 oleh seniman asal Solo, Jateng, dengan dibantu seniman lokal asal Kecamatan Trowulan.

Sedangkan pengecatan dilakukan tahun 1999 dengan warna keemasan. ’’Warna itu dianggap sebagai warna dari segalanya,’’ tambahnya. Meski berwarna emas, patung ini terbuat dari cor beton. Sedangkan di bagian bawah patung, terdapat relief-relief yang menggambarkan kehidupan Buddha Gautama.

Yakni, hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir. Sariyono menjelaskan, patung Buddha tidur ini adalah sosok Siddharta Gautama atau Budha Gautama. Yang lahir dengan nama Siddharta Gautama di Taman Lumbini, India, sekitar tahun 623 sebelum masehi (SM). Dia merupakan putra mahkota dari Kerajaan Kosala. Yaitu, kerajaan kuno di India.

Siddharta lantas mendapatkan pencerahan di hutan gaya saat bertapa di bawah pohon bodhi tahun 588 SM. Sang Buddha wafat di usia 80 tahun di Kusinara, India. Peristiwa kelahiran mendapatkan pencerahan dan wafatnya sang Buddha rutin diperingati sebagai Hari Raya Waisak. (ori/ris)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia