Jumat, 20 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Jejak Syiar Islam Raden Murtolo di Jetis (1)

Sampaikan Dakwah di Tengah Kemaksiatan

18 Mei 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Makam Raden Murtolo di Dusun Pecarikan, Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Makam Raden Murtolo di Dusun Pecarikan, Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Sungai Brantas telah lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Mojokerto pada zaman dulu. Bahkan, pada era Kerajaan Majapahit dimanfaatkan menjadi jalur transportasi air sebagai sarana perdagangan.

Terdapat juga Pelabuhan Canggu yang cukup dikenal kala itu. Tempat tersebut dijadikan sebagai lokasi pengiriman hasil bumi yang diperdagangkan ke luar daerah. Sayangnya, tidak diketahui persis di mana pelabuhan legendaris itu berada.

BEBERAPA pendapat menyatakan bahwa Pelabuhan Canggu berada di sekitar wilayah Kota Mojokerto saat ini. Namun, ada juga yang menilai bahwa pelabuhan yang luas itu terbentang hingga ke wilayah utara Sungai Brantas.

Terlepas dari itu, keberadaan Pelabuhan Canggu menjadi salah satu faktor kejayaan Majapahit. Tetapi, di sisi lain juga mendatangkan kemaksiatan yang kian merajalela.

Pemerhati sejarah dan folklor, Iwan Abdillah menjelaskan, masyarakat di wilayah utara Sungai Brantas, khususnya Kecamatan Jetis masih banyak yang mempercayai, bahwa dulu Pelabuhan Canggu terbentang hingga ke wilayahnya.

Alasan itu diperkat dengan adanya dua dusun dengan nama Pelabuahn. ”Masing-masing berada di Desa Jetis dan di Desa Canggu,” terangnya. Masyarakat mengganggap, bahwa di lokasi itulah Pelabuhan Canggu pada era Majapahit dulu berada.

Iwan mengatakan, seiring padatnya transportasi air di Sungai Brantas membuat Pelabuhan Canggu menjelma menjadi pelabuhan sungai yang cukup sibuk kala itu.

Karena lokasinya dijadikan sebagai pusat perekomian karena menjadi sentra perdagangan. Baik berupa bisnis jasa maupun perdagangan. Karena padatnya aktivitas, sehingga di sekitar Sungai Brantas banyak menyediakan tempat peristirahatan bagi pedagang maupun pendatang dari luar daerah.

”Selain tempat menginap juga ada yang berjualan aneka jualan lainnya yang melayani kebutuhan orang yang datang di pelabuhan,” ulasnya. Bahkan, muncul keberadaan bisnis prostitusi pun tidak bisa terhindarkan.

Sejumlah lokasi dijadikan sebagai tempat pelampiasan hasrat bagi pria hidung belang yang datang di pelabuhan. Kesempatan itu dimanfaatkan karena mayoritas yang datang ke pelabuhan berlayar dari berbagai penjuru wilayah.

”Kondisi itu membuat bisnis prostitusi di sekitar pelabuhan menjadi marak,” tandasnya. Berdasarkan cerita, salah satu kawasan yang dikenal sebagai kompleks lokalisasi saat itu adalah di Pecarikan.

Wilayahnya saat ini berbatasan langsung dengan Dusun Pelabuhan di Desa/Kecamatan Jetis. Nah, di tengah kemaksiatan saat itu, proses dakwah mulai menggema. Salah satu yang memberi perubahan adalah kedatangan tokoh yang bernama Raden Murtolo.

Melalui dakwah, ulama yang juga dikenal dengan nama Mbah Raden Murtadlo ini perlahan mulai mengikis kebiasaan buruk di sekitar pelabuhan. ”Beliau (Raden Murtadlo) berjuang menyebarkan dakwah Islam yang menyadarkan, dan dengan kasih sayang,” papar Camat Jetis ini.

Oleh karena itu, kedatangan Raden Murtadlo pun disambut hangat oleh warga sekitar. Dari waktu ke waktu, perjuangan untuk menghapus praktik prostitusi di pelabuhan berhasil dilakukan.

Hingga akhir hayatnya, salah satu tokoh yang dihormati itu dimakamkan di kompleks makam umum di Dusun Pecarikan, Desa/Kecamatan Jetis.  

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia