Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Tradisi Menyalakan Blanggur saat Ramadan

Suara Ledakan Jadi Acuan Waktu Berbuka Puasa

17 Mei 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Masjid Agung Al-Fattah, Kota Mojokerto, yang dulu menjadi lokasi menyalakan blanggur saat Ramadan. Bunyi blanggur menjadi acuan waktu berbuka puasa.

Masjid Agung Al-Fattah, Kota Mojokerto, yang dulu menjadi lokasi menyalakan blanggur saat Ramadan. Bunyi blanggur menjadi acuan waktu berbuka puasa. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Sekarang masyarakat bisa dengan mudah mengetahui tibanya waktu Magrib. Tidak hanya mengacu pada tenggelamnya matahari, tetapi banyak sumber referensi lain yang bisa menjadi tolok ukur.

Khususnya pada momentum bulan Ramadan seperti saat ini. Waktu berbuka sangat mudah diperoleh dari alat penunjuk waktu. Suara azan di musala-musala, hingga gadget sekali pun.

NAMUN, bagi masyarakat Mojokerto pada masa lalu  dilakukan dengan menanti suara dari petasan besar atau disebut blanggur. Dentuman ledakan itu menjadi tanda berbuka puasa.

Blanggur pada umumnya dinyalakan di masjid-masjid besar. Tentunya yang populer di Mojokerto adalah blanggur yang dinyalakan di Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto. Maka tak heran jika menginjak bulan Ramadan, area sekitar alun-alun dijadikan jujukan warga sebagai ngabuburit.

Mustari Sugiono, 59, warga Lingkungan Kradenan, Kelurahan Kauman, Kota Mojokerto, masih ingat betul tentang tradisi menanti suara blanggur saat Ramadan. Dia mengaku tidak mengetahui pasti sejak kapan mulai diterapkan di Masjid Agung Al-Fattah.

Dia menceritakan, semasa umur belasan tahun atau usia SD dirinya masih sering melihat pengurus Masjid Agung menyalakan blanggur. ’’Dulu awalnya dinyalakan di dekat menara masjid. Ada tempat khusus untuk menyalakan blanggur,’’ ujarnya.

Sejak sore hari, area di sekitar alun-alun sudah dipadati warga. Mulai anak-anak, muda, hingga tua, ingin menyaksikan dentuman blanggur. Tidak hanya warga Kota Onde-Onde, tetapi juga datang dari warga Kabupaten Mojokerto.

Tak heran jika blanggur mampu menyedot antusiasme yang tinggi warga. Pasalnya, pada era 1950-70an, suara ledakan blanggur mampu terdengar hingga wilayah Kabupaten Mojokerto. Sehingga, warga yang penasaran pun ingin menyaksikannya secara langsung.

’’Hanya dinyalakan saat bulan puasa saja. Karena sebagai tanda berbuka,’’ terangnya. Mustari menjelaskan, blanggur merupakan sejenis peledak yang mirip dengan petasan berukuran besar. Di dalamnya terdapat semacam bubuk mesiu yang mampu menghasilkan ledakan dengan suara yang cukup menggelegar.

Cara menyalakannya pun cukup unik. Karena diledakkan seperti menyelakan meriam. ’’Ukurannya sebesar kendil dan ada sumbu di atasnya,’’ ujarnya. Blanggur kemudian dimasukkan ke dalam tabung berbentuk pipa besar yang ditancapkan dalam tanah.

Tabung terbuat dari besi itu berfungsi untuk melontarkan blanggur. Mustari menyatakan, saat sumbu dinyalakan, blanggur diarahkan dengan tegak lurus 90 derajat ke udara. ’’Blanggur meledak saat terlempar ke atas,’’ paparnya.

Dia menyatakan, orang yang menyalakan pun tidak sembarangan. Saat itu, hanya ada satu orang yang ditunjuk pengurus masjid untuk dipercaya sebagai algojo blanggur. Hal itu tak lepas karena potensi bahaya yang bisa terjadi jika terjadi kesalahan.

Seperti yang pernah terjadi pada kisaran tahun 60-an. Kala itu blanggur gagal meledak di atas dan justru meledak saat jatuh ke bawah. Walhasil, dengan daya ledak yang cukup tinggi itu mampu menghancurkan rumah penjaga Masjid Al-Fattah. 

’’Setelah peristiwa itu blanggur diangap berbahaya. Sehingga, tempatnya dipindah untuk dinyalakan di alun-alun,’’ tandasnya. Namun, tradisi itu tidak berlangsung lama, pada dekade 70-80-an blanggur sudah tidak lagi dijadikan sebagai pendanda waktu berbuka puasa.

Itu seiring mulai munculnya pengeras suara yang dipasang di masjid maupun musala. Sehingga sura azan sudah dengan mudah didengar oleh masyarakat.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia