Rabu, 23 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Penyebaran Islam di Kaki Gunung Pawitra (2)

Dilanjutkan Mbah Surgi, Dijuluki Bumi Para Wali

17 Mei 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Makam Mbah Surgi di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Makam Mbah Surgi di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Proses masuknya Islam dilakukan dengan berbagai pendekatan. Di antaranya dengan perdagangan, politik, kebudayaan, pendidikan, hingga perkawinan.

Tak terkecuali pada awal penyebaran Islam di kaki Gunung Pawitra. Berawal dari musala yang didirikan Ki Ageng Padusan di Sumber Beji di Dusun/Desa Tamiajeng, kemudian syiar Islam menyebar ke sejumlah wilayah di sekitarnya.

SUMBER BEJI merupakan salah satu mata air alami di wilayah Trawas. Tempatnya berada di tengah perkampungan warga. Sumber tersebut masih memiliki debit air yang masih cukup tinggi. Mungkin alasan itulah yang menjadi alasan Ki Gede Padusan membangun surau aatau musala di lokasi tersebut.

Selain rumah ibadah, Ki Gede Padusan juga mendirikan semacam padepokan di sekitar sumber. Karena Sumber Beji dinilai bahwa mata air bisa menjadi sumber kehidupan. ’’Di lokasi itulah beliau (Ki Gede Padusan, Red) mulai mengajarkan ilmu agama sebagai dasar menjalani kehidupan,’’ terang Iwan Abdillah, pemerhati sejarah dan folklor di Mojokerto.

Menurut cerita, Ki Gede Padusan juga ahli dalam bidang pertanian. Karena itu, kata Iwan, selain mendidik agama, ulama tersebut juga mengajarkan cara bercocok tanam pada masyarakat. Sehingga dibukalah dua bidang pertanian tepat di sisi utara Sumber Beji.

Lokasi yang dulu dikenal sebagai Taman Ayu itu lambat laun dinamakan menjadi Dusun/Desa Tamiajeng. ’’Mbah Gede Padusan sendiri yang mengubah nama tersebut,’’ jelasnya. Tamiajeng merupakan permukiman tertua yang ada di Kecamatan Trawas.

Bahkan, penyebaran Islam kali pertama di kaki Gunung Pawitra bisa jadi berawal dari permukiman yang dihuni sejak era Majapahit ini. Hingga akhirnya, Islam dapat menyebar ke wilayah lain di sekitarnya.

Penulis buku Trawas Kaya Legenda ini, menyatakan, ada sejumlah alasan mengapa Islam mampu dengan mudah diterima masyarakat Trawas kala itu. Disebutkannya, pengajaran ke-Islaman yang dibawa oleh tokoh penyebar agama diterapkan secara akulturasi.

Dengan kata lain masuknya Islam tanpa menghilangkan budaya masyarakat yang sudah ada. Selain metode dakwah, penyebaran Islam juga dilakukan dengan pendekatan pernikahan, membangun kekerabatan, cinta damai, serta membawa semangat rahmatan lil alamin.

Di samping itu, banyak tokoh penyebar agama yang meninggalkan jejak syiarnya di permukiman tertua di Trawas ini. Beberapa ulama juga mengabdikan diri hingga akhir hayat di Tamiajeng. ’’Karena itu, Tamiajeng juga populer dengan julukan sebagai Bumi Para Wali,’’ tandas Camat Jetis, Kabupaten Mojokerto ini.

Tongkat syiar Islam yang dibawa Ki Gede Padusan kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh ulama penyebar agama di Tamiajeng. Salah satunya adalah Mbah Surgi yang makamnya berada di Dusun/Desa Tamiajeng.

Tokoh yang mendapat sebutan sebagai Kiai Penghulu tersebut juga memiliki kesamaan nama dengan beberapa makam di tempat lainnya. Iwan mamaparkan, makam Mbah Surgi tersebar di banyak tempat.

Setidaknya, di wilayah Mojokerto saja terdapat di tiga tempat. Masing-masing di Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari; Lalu juga terdapat di Komlpleks Makam Mendeg, Kecamatan Ngoro; dan di Desa Tamiajeng, Trawas. ’’Belum lagi yang di luar Mojokerto. Karena ada beberapa makam yang juga ditemukan di Pasuruan,’’ ulasnya.

Meski demikian, warga Trawas mempercayai bahwa Mbah Surgi merupakan seseorang yang mendapat tugas dari Syekh Jumadil Kubro untuk melakukan perjalanan ritual ke arah timur.

Di mana perjalanan spiritualnya itu dimulai dari Troloyo atau yang kini berada di Desa Setenonorejo, Kacamatan Trowulan. Selama menempuh perjalanan, Mbah Surgi singgah di Desa Awang-awang. Di lokasi pemberhentian pertama itu ditandai dengan sebongkah batu.

Kemudian, perjalanan dilanjutkan sampai di Mendeg atau di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro. Di lokasi tersebut juga diberi tanda batu. Lalu berlanjut lagi sampai di Kepulungan dan Bugul di Kabupaten

Pasuruan, semuanya juga kembali ditandai dengan batu. ’’Sesampainya di Bugul, Pasuruan, perintahnya tidak lagi ke timur. Melainkan kembali lagi ke barat melalui jalur Prigen,’’ tandasnya.

Alumnus Universitas Airlangga (Unair) jurusan Antropologi ini. menambahkan, sesampainya di Desa Tamiajeng, Mbah Surgi tinggal hingga akhir hayatnya. Warga kemudian memakamkannya di pemakaman desa setempat. ’’Mbah Surgi wafat sekitar tahun 1319,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia