Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Konsumen Diminta Waspadai Daging Berformalin dan Mengandung Boraks

17 Mei 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas Dinas Pertanian mengecek kandungan daging ayam di salah satu lapak pedagang di Pasar Raya Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Petugas Dinas Pertanian mengecek kandungan daging ayam di salah satu lapak pedagang di Pasar Raya Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Momentum Ramadan selalu dibarengi dengan melambungnya harga bahan pokok. Tidak hanya bahan pangan utama, sejumlah komoditi lain rupanya juga banyak diburu masyarakat hingga memengaruhi jumlah dan kualitas pasokan.

Termasuk komoditi dari ternak. Seperti daging sapi, daging ayam hingga ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat selama puasa hingga Lebaran nanti. Nah, momentum itu yang dinilai membuka peluang sejumlah oknum pedagang berbuat curang demi meraup untung sebanyak-banyaknya.

Salah satunya dengan menambahkan bahan pengawet, seperti boraks atau formalin untuk memanipulasi kualitas daging. Peluang itu yang kini menjadi perhatian khusus pemerintah dalam mengawasi sejumlah pedagang di sejumlah pasar rakyat. Termasuk Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto yang akhirnya menggelar sidak ke pedagang di Pasar Raya Mojosari kemarin.

Tidak hanya sekadar dimintai asal usul, pedagang juga dimintai tata cara pengelolaan daging sebelum dijual. Termasuk mengecek kandungan daging, apakah mengandung bahan pengawet atau tidak. Setidaknya ada 4 sampel, baik dari daging sapi, ayam, hingga ikan segar diuji lewat tes kandungan. Dan dari empat sampel itu, hasilnya nihil kandungan formalin alias negatif.

’’Untuk sementara kami sudah mengecek daging, tapi tidak ada temuan formalin atau boraks. Kami meneliti tentang kandungannya, mengingat menjelang hari raya. Artinya, kebutuhan konsumsen jauh lebih tinggi. Kita juga menguji cepat boraks pada pedagang penggilingan daging dan semua hasilnya negatif,’’ tutur Soelistyowati, Kadisperta Kabupaten Mojokerto.

Meski nihil kandungan berbahaya, petugas tetap memberikan peringatan khusus kepada pedagang dalam menjaga kualitas daging. Di mana, masih ada beberapa pedagang yang menjual dalam kondisi dingin alias sudah berada di dalam cooling box. Cara tersebut dinilai dapat memengaruhi kesegaran dan kualitas daging itu sendiri. Bahkan, kelayakannya patut dipertanyakan.

’’Sesuai UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan Kesehatan Hewan, bahan pangan ternak yang dijual ke konsumen harusnya dalam kondisi segar dan tidak mengandung formalin atau boraks. Uji kandungan juga untuk mengetahui cemaran mikroba yang dilakukan di laboratorium. Jika nanti ada yang mengandung boraks, kita beri sanksi,’’ tandasnya.

Tidak hanya cek kandungan, Disperta juga mengecek harga jualnya. Di mana, masih ditemukan selisih harga yang cukup besar antara harga jual dari peternak dengan harga jual pedagang ke konsumen. Seperti daging ayam yang semula Rp 18 ribu per kilogram (kg) dari peternak, justru dijual Rp 35 ribu ke konsumen.

Nominal itu dirasa tidak wajar, mengingat momentum Ramadan dan Lebaran masih tiga pekan lagi. Sehingga perlu kontrol lebih ketat dari stakeholder lain dalam hal mengendalikan harga. ’’Masih sangat di bawah dari harga petani dan peternak, khususnya daging ayam. Tapi, untuk bahan pokok hasil pertanian, seperti cabai bawang merah, bawang putih, tomat dan sebagainya masih standar,’’ tandasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia