Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Hanya Bisa Peluk Peti Jenazah, Keluarga Tuntut Pelaku Dihukum Setimpal

16 Mei 2019, 22: 20: 05 WIB | editor : Mochamad Chariris

Laili Fitria, istri Eko Yuswanto, menangis dan memeluk peti jenazah suami tercinta.

Laili Fitria, istri Eko Yuswanto, menangis dan memeluk peti jenazah suami tercinta. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO - Isak tangis pecah saat jenazah korban Eko Yuswanto, 32, tiba di rumah duka Dusun Temenggungan, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Rabu (15/5). Setelah sebelumnya melalui proses otopsi di RS Bhayangkara Polda Jatim.

Menggunakan mobil ambulans RS Bhayangkara Polda Jatim, jenazah korban pembunuhan itu tiba di rumah duka sekitar pukul 14.30 disambut sanak saudara dan sejumlah kerabat dari Perguruan Silat Setia Hati (PSHT). Seorang keluarga pingsan saat melihat peti jenazah berwarna cokelat dikeluarkan dari mobil ambulans.

Sambil meneteskan air mata, satu per satu keluarga bergiliran mencium peti jenazah Eko Yuswanto yang disemayamkan di ruang tamu. Termasuk istri Eko, Laili Fitria, 28, dan anaknya yang masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka seakan belum rela ditinggal sosok Eko tak lain adalah tulang punggung keluarga. ’’Emoh, aku pingin dilok wajahe bapak. (Saya hanya ingin melihat wajah bapak),’’ ungkap anak kedua korban.

Meski berusaha dibujuk keluarga agar si anak bisa memeluk dan mencium peti sebagai ucapan terakhir, dia tetap menolak. Anak itu hanya ingin membuka peti dan melihat wajah sang ayah untuk kali terakhir. Karena tak diperbolehkan tak lama dia memilih pindah dari ruang tamu. ’’Ayo Nak, ini yang terakhir bisa mencium dan memeluk bapak,’’ ucap seorang keluarga sembari membujuk anak korban.

Sementara itu, istri Eko, Laili Fitria, meminta agar kedua pelaku diberikan hukuman pelaku. Masing-masing Sudanto, 36, warga Dusun Dimoro, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, dan Priyono alias Yoyok, 38, yang tak lain adalah tetangganya.

Dia berharap agar hukum bisa membalas setimpal kepada para pelaku. ’’Saya sudah serahkan kepada pihak kepolisian kasus pembunuhan ini. Semoga mendapatkan hukumnya yang setimpal dan seberat beratnya,’’ katanya sedih. Sebelum meninggal, kali terakhir Laili bertemu suaminya Minggu (12/5). Kebetulan, saat itu, Eko berpamitan bersama pelaku.

Meski, dia mengaku suaminya dan Priyono tidak begitu kenal dekat. Eko saat itu mau diajak keluar lantaran hendak dikenalkan barang rongsokan di area Mojosari. Namun, fakta berbicara lain. Eko yang pergi sekitar pukul 08.00 justru tidak pulang. Eko malah ditemukan tewas dengan mengalami luka bakar 90 persen di kayu putih, Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Senin (13/5).

’’Pokoknya, saya mau keduanya mendapatkan hukuman setimpal karena perbuatannya,’’ tegasnya. Disebutnya, meski tetangga dekat, korban dan terduga pelaku pertama berangkat tidak bersamaan. Terduga pelaku pertama berangkat lebih dulu dan menunggu di Perempatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Perlu diketahui, Eko menikahi Lailil Fitria, 28, 10 tahun lalu. Pernikahan itu pun dikarunia dua orang anak. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia