Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Penyebaran Islam di Kaki Gunung Pawitra (1)

Berawal dari Kedatangan Ki Gede Padusan ke Tamiajeng

16 Mei 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Mata air Sumber Beji di Dusun/Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, menjadi lokasi awal penyebaran Islam oleh Ki Gede Padusan.

Mata air Sumber Beji di Dusun/Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, menjadi lokasi awal penyebaran Islam oleh Ki Gede Padusan. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Sejarah masuknya Islam di Kabupaten Mojokerto diperkirakan berlangsung mulai abad ke-14. Itu ditandai dengan ditemukannya makam Islam di kompleks Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Di salah satu nisannya tertera tahun 1298 Saka atau 1376 M.

Pada masa berikutnya juga ditemukan Makam Putri Campa yang di atas nisannya terdapat inskripsi tahun 1370 Saka atau 1448 M. Dua bukti itu yang menjadi penanda awal persebaran Islam di Bumi Majapahit.

SELAIN di Trowulan, jejak syiar Islam juga terdapat di kaki Gunung Penanggungan. Tepatnya di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Diperkirakan, masuknya Islam di kawasan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan ini juga tidak berbeda jauh dengan di Trowulan. Yaitu, terjadi di awal abad ke-14.

Pemerhati sejarah dan folklor, Iwan Abdillah menjelaskan, awal masuknya penyebaran Islam diperkirakan bermula di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas. Karena di desa tersebut terdapat bukti sejarah masuknya Islam. Baik berupa situs maupun makam dari tokoh penyebar agama. Dia menceritakan, Desa Tamiajeng dulu dikenal dengan nama Taman Ayu.

Penyematan nama tersebut tidak lepas karena ada sosok perempuan bernama Dewi Supriani. ”Konon perempuan berparas cantik itu adalah selir dari Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, yang sempat bermukim di Tamiajeng,” terangnya.

Bahkan, terdapat sebuah kisah yang menceritakan, Raja Majapahit mengutus seorang tumenggung bernama Surodito. Tujuannya untuk membuka hutan di lembah yang berada di antara Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan. Hingga akhirnya menemukan sebuah lokasi yang menghubungkan dua lereng gunung tersebut.

Lokasi itu kemudian dinamakan Taman Ayu atau saat ini dikenal Dusun/Desa Tamiajeng. ”Taman Ayu kemudian ditunjuk menjadi sebuah perkampungan untuk tempat tinggal selir raja,” ulasnya. Iwan melanjutkan, tepat di utara Taman Ayu terdapat sebuah bukit. Masyarakat setempat menyebut dengan nama Gunung Bale.

Sejak zaman Kerajaan Kahuripan didirikan Raja Airlangga pada abad ke-11, tempat ini sudah menjadi lokasi pusat pendidikan dan latihan para prajurit Kahuripan. Maka tak heran jika terdapat banyak situs cagar budaya yang ditemukan di kawasan Gunung Penanggungan. Bahkan, oleh masyarakat masa lampau, gunung tersebut disucikan, sehingga dikenal dengan nama Gunung Pawitra.

Namun, pada era Kerajaan Majapahit, Taman Ayu diubah fungsi menjadi tempat peristirahatan para Raja Majapahit. Sedangkan di area sebelum masuk Gunung Bale, terdapat sebuah tempat yang diberi nama Putuk Samaran ”Tempat itu adalah pos pemeriksaan para tamu yang akan berkunjung ke raja,” ulas alumnus Jurusan Antropologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Sepeninggal Surodito, perkembangan Taman Ayu mulai berubah. Kondisi itu seiring kedatangan seseorang bernama Ki Gede Padusan. Kedatangan seorang ulama itu sekaligus menjadi awal mula masuknya Islam di Trawas. Iwan mengatakan, Ki Gede Padusan melanjutkan perjalanan dari kaki Gunung Welirang di kawasan Kecamatan Pacet.

Bahkan, sosok yang memiliki nama sapaan Mbah Gede ini juga berjasa sebagai orang yang babat alas untuk membangun desa yang di kawasan Pemandian Air Panas, yaitu Desa Padusan. ”Jalur yang digunakan Ki Gede Padusan untuk menuju Taman Ayu waktu itu melalui jalur kuno,” tandasnya.

Penulis buku Trawas Kaya Legenda ini menyatakan, jalur kuno tersebut melewati jalur di Dusun/Desa Tamiajeng, Kemloko, Krapyak, dan Padusan. Selama berada di Taman Ayau atau Dusun/Desa Tamiajeng, Ki Gede Padusan singgah di sebuah mata air yang bernama Sumber Beji.

”Beliau (Ki Gede Padusan, Red) membangun sebuah musala di sekitar Sumber Beji untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Taman Ayu dan sekitarnya,” imbuhnya. Saat ini, bangunan musala Ki Gede Padusan memang sudah tidak berbekas. Namun, batu-batu andesit sebagai penopang bangunan rumah ibadah tersebut masih tersisa di sekitar Sumber Beji. (rizal amrulloh)

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia