Minggu, 18 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
KH Musthofa, Kedung Klinter, Canggu (2-habis)

Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah

16 Mei 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sketsa KH Mustofa semasa hidup.

Sketsa KH Mustofa semasa hidup. (Istimewa/radarmojokerto.id)

Kealiman KH Musthofa dalam mensyiarkan Islam, khususnya di wilayah utara sungai tidak hanya ditandai dengan berdirinya masjid Al Musthofa di Desa Canggu, kecamatan Jetis.

Tapi juga berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Sroganan dan yayasan pendidikan bertajuk madarasah.

JAMAAH atau pengikutnya tidak hanya dari desa setempat. Tapi sampai ke luar desa hingga menggapai Mojokerto, Jombang dan Sidoarjo. Bahkan, saking masyhurnya, KH Musthofa disebut ’’Tak Pernah Mati’’ meski jasadnya telah terbujur di makam sebelah masjid dan madarasah Al-Musthofa.

Makam KH Musthofa di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Makam KH Musthofa di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Ya, selepas pengembaraannya yang meniru perilaku Sunan Kalijaga,  KH Musthofa lantas mendirikan masjid serta Pondok Pesantren Al-Musthofa di tempat tinggalnya di Dusun Kedung Klinter, Desa Canggu.

Perjuangan pendiriannya pun dilalui tidak dengan mudah. Semula ia mendapat tanah wakaf dari H. Fadhelan. Lalu beliau membangun Madrasah Al-Musthofa pada tahun 1957 yang tanahnya milik dari Bapak Sokib.

Tidak lama kemudian muridnya satu per satu berdatangan. Dari Mojosari, Bangsal, Mojoagung, dan banyak lagi. Termasuk santri madarasah Al Musthofa yang kini telah berjumlah ribuan.

Yayasan pendidikan Al Musthofa pun terus berkembang pesat sebagai pusat pendidikan agama silam formal yang paling disegani. Mulai dari tingkat Madarasah Ibtidaiyah (MI) yang berdiri tahun 1957, Madarasah Tsanawiyah (MTs) di tahun 1988, hingga Madarasah Aliyah (MA) yang berdiri tahun 1995.

Beliau wafat pada 27 september 1959. Bukan tanpa sebab mengapa pengikutnya sampai ke luar daerah. Selain dikenal sebagai kiai di Desa Canggu, beliau juga merupakan guru Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, ribuan murid telah menimba ilmu dari beliau.

Dengan jasanya yang besar dan mulia itu, tentu saja santri-santrinya tidak ada yang lupa dengan beliau.’’Santri-santrinya dan masyarakat sekitar mengadakan Haul KH Mustofa dengan cara semaan Alquran Hari Rabu oleh sedangakan sorenya pembacaan manakib,’’ tutur Solikin, ahli waris. 

Lalu berlanjut di Kamis siang dengan semaan Alquran serta tahlil yang diikuti oleh seluruh jamaah yang datang. Sedangkan tahun 2019 ini, peringatan haul itu telah dilaksanakan pada kali ke-60.

Nah, di setiap rangkaian haul itulah, masyarakat atau pengikut beliau masih bisa merasakan kealimannya. Seakan-akan KH Musthofa hidup kembali di tengah-tengah jamaah membimbing pada ibadah yang lebih khusyuk.

Serta memberi uswah yang baik agar setiap jamaah senatiasa meneladani apa yang beliau lakukan sealama hidupnya. Memang KH Musthofa takkan pernah “mati”.

’’Masih banyak yang datang untuk berziarah dan meminta air sumur di dekat makam beliau yang katanya bisa menyembuhkan penyakit. Tapi semua jamaah sekadar meminta dengan wasilah atau perantara untuk kesembuhan,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia