Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Korban Pembunuhan lalu Dibakar di Hutan Dihabisi Tetangga Sendiri

15 Mei 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu tersangka pembunuhan korban Priyono alias Yoyok saat ditangkap petugas.

Salah satu tersangka pembunuhan korban Priyono alias Yoyok saat ditangkap petugas. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Misteri kasus pembunuhan yang mayatnya ditemukan hangus dan mengalami luka bakar 90 persen di hutan kayu putih, Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, terungkap. 

Korban adalah juragan rongsokan, Eko Yuswanto, 32, warga Dusun Temenggungan, Desa Kajagan, Kecamatan Towulan, Kabupaten Mojokerto. Bapak dua anak ini dihabisi dengan cara dipukuli benda tumpul, sebelum akhirnya dibakar.

Ironisnya, pelakunya merupakan tetangganya sendiri, Priyono alias Yoyok, 38. Dia tak sendiri. Dibantu Sudanto, 36, warga Dusun Dimoro, Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Eko dibunuh di rumah Dodik, orang tua Sudanto, di Dusun Kenanten Gang 2, Desa Kenanten, Kecamatan Puri. Kini, keduanya sudah ditangkap.

’’Dua pelaku ini terbukti terlibat dalam pembunuhan (Eko Yuswanto),’’ ungkap Kapolresta Mojokerto AKBP Sigit Dany Setyono, Selasa (14/5). Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto menyebutkan, kedua tersangka berhasil ditangkap petugas gabungan polresta dan Jatanras Polda Jatim di dua lokasi berbeda.

Kali pertama petugas menangkap Priyono alias Yoyok di rumahnya, Selasa (14/5) sekitar pukul 00.15. Tidak ada perlawanan. Dia yang sejak Senin (13/5) siang sudah dibidik petugas hanya bisa pasrah saat digerebek di rumahnya.Bermodal keterangan Priyono, tak lama petugas kembali menangkap Sudanto di area rumahnya sekitar pukul 10.00.

Penangkapan kedua ini tidak berjalan mulus. Aksi kejar-kejaran sempat terjadi. Namun, kesigapan petugas di lokasi, Sudanto yang hendak melarikan diri dengan mengendarai sepeda motor bebek modifikasi tanpa nopol itu berhasil ditangkap. ’’Untuk eksekusi pembunuhannya dilakukan di rumah S (Sudanto) Kenanten,’’ tandasnya.

Hanya saja, soal perannya masing-masing, Sigit belum bisa menjelaskan secara detail. Menyusul, sejauh ini keduanya masih dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Yang jelas, hasil lidik, keduanya terindikasi terlibat dalam aksi pembunuhan. Pembunuhan itu dilakukan keduanya di rumah ayah kandung Sudanto, Dodik, di Desa Kenanten, Minggu (12/5) sekitar pukul 14.15.

Hanya saja, untuk menghilangkan jejak, mayat Eko lantas dibuang ke hutan kayu putih Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Dawarblandong, Senin (13/5) sekitar pukul 00.30. Mayat tersebut dibawa menggunakan pikap nopol W 9204 NJ milik korban.

Tak hanya itu, pelaku juga membakar korban menggunakan satu liter BBM yang sudah disiapkan. ’’Motifnya dendam karena permasalahan istri dari korban dan pelaku. Itu juga diakui pelaku (Priyono),’’ tegasnya. Disebutkannya, istri pelaku Priyono diduga sering dihina dan diperlakukan tidak hormat oleh istri korban.

’’Tetapi, motif ini masih perlu dikonfrontir lagi dengan keterangan yang lain,’’ tambah kapolresta. Apakah pertikaian dua keluarga yang juga tetangga dekat ini sudah berlangsung lama? Pihaknya belum bisa menyimpulkan. Sebab, perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut terhadap pelaku dan saksi.

Faktor itu juga dibenarkan para tetangga korban. Pertikaian dua keluarga itu, dikatakan warga, sudah berlangsung lama. Kali pertama, pertikaiannya antara anak korban dan pelaku. Tak lama, akhirnya mengembang ke istri korban dan pelaku. Sebaliknya, jika dendam itu muncul seketika, Sigit memastikan tentunya hal itu tidak mungkin juga.

Apalagi sampai mendorong niat Priyono melakukan kejahatan yang begitu kejam seperti ini. ’’Artinya, sudah direncanakan sebelumnya,’’ tuturnya. Dugaan itu dikuatkan karena sebelum eksekusi, terlebih dulu korban diajak pesta miras di rumah yang menjadi tempat kelahiran Sudanto.

Nah, ketika sudah terpengaruh minuman beralkohol, keduanya pun lantas melakukan penganiyaan yang berjung pada pembunuhan. ’’Di tengah penganiayaan, korban juga sempat dibekap menggunakan bantal,’’ tuturnya. Bahkan, akibat penganiyaan itu, hasil otopsi oleh Tim Forensik di RS Bhayangkara Polda Jatim, menyebutkan, ada tujuh tulang rusuk bagian kiri korban yang patah.

Selain terdapat luka di bagian dada, di bagian tubuh korban lainya juga ditemukan luka. Seperti di bagian kepala, wajah, dan rahang sebelah kanan. ’’Jadi, penyebab meninggalnya korban akibat luka pada paru-paru yang tertusuk beberapa tulang rusuk yang patah,’’ ujarnya.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, pakaian, daun pintu yang gunakan mengangkat, darah, tempat minuman keras, sepeda motor milik tersangka Sudanto, dan mobil pikap milik korban.

Menurut Sigit, penangkapan tersangka tak lepas dari hasil penyelidikan yang dilakukan petugas gabungan Polresta dan Jatanras Polda Jatim. Petugas yang sebelumnya berhasil mengidentifikasi identitas korban lantas melakukan pemeriksaan terhadap keluarga korban. Bermodalkan keterangan itu, petugas mendapati identitas pelaku utama yang juga orang terakhir bersama korban.

Hingga saat ini, petugas kepolisian masih terus melakukan pengembangan lebih dalam atas kasus ini. Termasuk, melakukan tes DNA terhadap anak dan istri korban. ’’Cerita istrinya dia mengenali Eko dari giginya ada yang gingsul. Alis sebelah kiri ada bekas luka, serta dari kumisnya,’’ ungkap kakak ipar korban, Hidayatik, 32, saat ditemui di rumahnya.

Kata dia, Eko Yuswanto merupakan pengusaha rongsokan skala kecil. Dia mengambil rongsokan dengan pikap ke sejumlah daerah untuk dipilah di rumahnya. Saat ini Eko mempunyai 4 orang tenaga pilah di rumahnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia