Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Hafiz Quran Tunanetra (1)

Gus Isyroqi Teruskan Wasiat sang Ayah, Banyak Godaan di Juz 15

15 Mei 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Gus Roqi melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang disimak santrinya.

Gus Roqi melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang disimak santrinya. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Menghafalkan ayat suci Alquran sampai 30 juz tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan tekad kuat demi bisa menghafalkan satu per satu firman Allah SWT sampai tuntas.

Namun, tekad itu rupanya mampu ditaklukkan remaja tunanetra asal Jatirejo, Gus Isyroqi Nur Muhammad Limi’roji. Tak lain putra kedua almarhum KH Saifuddin Yahdi, pengasuh Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojogeneng.

SAYUP-SAYUP lantunan ayat-ayat suci itu terdengar merdu di sebuah gazebo belakang pondok pesantren. Diiringi hembusan angin senja, keindahan suara tartil semakin menghanyutkan batin menjadi lebih tentram dan damai.

Serasa dibuai dalam senandung kerinduan kepada sang Pencipta, siapapun yang mendengarnya. Menelisik lebih dalam, lantunan tersebut rupanya muncul dari bibir remaja berbaju takwa putih yang duduk bersila di gazebo tersebut.

Pun juga ketika melihat sosoknya lebih detail, tak akan menyangka jika pemuda itu ternyata penyandang tunanetra. Ya, Isyroqi Nur Muhammad Limi’roji atau yang akrab disapa Gus Roqi memang dianugerahi Tuhan lewat kemampuan suara yang luar biasa.

Kemerduan suaranya, bahkan telah banyak tersiar di berbagai laman media sosial, khususnya Youtube. Tidak hanya ahli tartil biasa, Gus Roqi juga mampu menghafalkan ayat-ayat suci Alquran lengkap 30 juz.

Meski memiliki keterbatasan penglihatan, Gus Roqi tetap istiqamah dalam mengamalkan bacaaan Alquran. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi santri-santrinya. ’’Sekarang masih terus menjaga hafalan, karena memang amanah. Setiap hari nderes bersama-sama bisa sampai lima juz,’’ tuturnya.

Gus Roqi mengaku perjuangannya dalam menghafal Alquran dimulai sejak usia 8 tahun. Atau tepat kala penglihatannya sudah tidak bisa lagi normal. Adalah Mustafrida, 44, sang ibunda yang pertama kali mengenalkan lantunan ayat-ayat suci Alquran. Yang kemudian ia tirukan dengan sangat hati-hati.

Saat itu, ia mengaku bisa menirukan ayar per ayat hanya dengan bermodalkan indera pendengaran. Metode yang digunakan pun harus dibalik, yakni mendahulukan praktik dulu baru mengenali satu persatu huruf hijaiyah beserta tajwid dan gharib-nya.

Saking hati-hatinya, untuk satu hari, ia hanya bisa menghafalkan satu ayat. Lalu hari demi hari terus ia tekuni hingga sampai pada juz terakhir. ’’Ya, saat itu awalnya memang diobrak-obrak sama ibu. Sempat tersendat saat sudah di juz 15. Banyak godaaannya, entah itu ngantuk atau malas,’’ terangnya.

Namun, tekadnya untuk bisa menghafal Alquran rupanya mampu mengalahkan kemalasan itu sendiri. Di mana, ia teringat pada nasihat sang ayah, KH Saifudin Yahdi sebelum meninggal. Agar anak turunnya bisa melanjutkan tongkat estafet dalam mengamalkan hafalan Alquran.

Seperti diketahui, KH Saifudin Yahdi juga hafiz yang menyandang tunanetra. Ia merupakan keturunan ketiga dari sesepuh atau muasis Ponpes Bidayatul Hidayah atau putra dari KH Yahdi Mathlab atau cucu dari KH Mathlab yang juga hafiz Alquran.

Artinya, Gus Roqi merupakan generasi keempat dalam keluarga hafiz Ponpes Bidayatul Hidayah. Dan benar saja, hingga di usia 14 tahun, Gus Roqi mampu menyelesaikan hafalannya. Atau tepatnya saat usia 14 tahun.

Tidak hanya sekadar menghafal, Gus Roqi juga disebut mampu melantunkan secara jelas, baik secara makhrajulhuruf maupun panjang pendeknya huruf ayat per ayat. ’’Sebenarnya target awalnya dua tahun bisa langsung khatam hafal semua. Tapi, ternyata molor empat tahun atau total sampai 6 tahun,’’ ujar putra kedua dari tiga bersaudara ini.

Kini keahliannya dalam menghafal Alquran terus ia jaga dan tularkan ke para santri Pondok Pesantren Quran Al Qurtuby, salah satu asrama dari beberapa kompleks Ponpes Bidayatul Hidayah, Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo.

Setidaknya ada 200-an santri yang ia asuh bersama ustad dan para kiai lainnya. Termasuk sang ibunda dan kakaknya, Gus Ilham Kamali yang turut serta mengampu ratusan santri dalam pembelajaran Alquran. ’’Pangestune mawon (doanya saja). Karena ini amanah dari mbah buyut, jadi harus dijaga,’’ paparnya.  

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia