Selasa, 20 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
KH Musthofa, Kedung Klinter, Canggu (1)

Dikenal Sunan Kalijaga dari Utara Sungai Brantas

15 Mei 2019, 20: 33: 07 WIB | editor : Mochamad Chariris

Masjid Al Musthofa di Desa Canggu, Kecamatan Jetis menjadi saksi bisu peninggalan syiar islam KH Musthofa di wilayah utara sungai.

Masjid Al Musthofa di Desa Canggu, Kecamatan Jetis menjadi saksi bisu peninggalan syiar islam KH Musthofa di wilayah utara sungai. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Sosok ulama kharismatik ini menyimpan kisah mirip Sunan Kalijaga pada zamannya. Dari pribadi yang lebih banyak bersentuhan dengan maksiat, namun pada akhirnya memilih jalan terang kepada Tuhan.

Hingga bersungguh-sungguh mensyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya. Bahkan, karamahnya dalam berjuang masih dinikmati masyarakat, khususnya di wilayah utara Sungai Brantas.

ADALAH KH Musthofa. Bernama lengkap Musthofa bin Singokerto. Ia merupakan putra Singokerto yang tinggal di Dusun Kedung Klinter, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. KH Musthofa menikah dua kali.

Sketsat KH Mustofa

Sketsat KH Mustofa (Istimewa/radarmojokerto.id)

Istri pertamanya, Marfuah, dan dikaruniai satu putra bernama Ibrahim. Setelah Marfuah wafat, beliau menikah lagi namun tidak dikaruniai keturunan. Konon, pada masa mudanya, Kiai Musthofa terkenal sakti dengan beberapa ilmu yang dimiliki. Yakni, mampu menghilang saat ada sorotan lampu atau cahaya.

Entah memang sudah anugerah dari Tuhan atau mendapatkan warisan dari gurunya, Hadratussyekh KH Kholil, Bangkalan. Namun, Musthofa muda memang lebih terkenal dan nampak suka mencuri ketimbang mendalami ilmu agama. Akan tetapi, sifat itu tidak lantas dilandasi atas pribadinya sendiri.

Melainkan untuk kepentingan orang lain yang dinilai kurang mampu. Di mana, hasil curiannya kerap dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Atau bisa diandaikan seperti Maling Cluring, mencuri tanpa merusak dan melukai korbannya.

Namun sifat seperti itu pada akhirnya ditinggalkan dan justru kembali nyantri seperti saat masih kecil. Konon, pertaubatannya terjadi lantaran beliau dikejar-kejar orang saat ketahuan mencuri. Musthofa lantas bersembunyi di area makam. Dan saat itu bertepatan dengan azan Magrib yang berkumandang.

Nah, di situlah ia mulai sadar betapa perilakunya sudah tidak pantas lagi untuk diteruskan. Hingga memutuskan taubatan nasukha. ’’Sebenarnya tidak sekadar maling begitu. Tapi, memang dari kecil seperti Mbah Wali Sunan Kalijaga, hasil curiannya dibagikan ke orang-orang miskin. Sejak kecil justru sudah nyantri ke Mbah Kholil Bangkalan,’’ tutur Solikin, salah satu ahli waris.

Sejak itulah beliau bertekad untuk memperbaiki diri dengan bertaubat. Berangkatlah beliau ke pondok pesantren. Dan sampailah beliau di sebuah musala panggung di Desa Sumaji, sekitaran Krian, Sidoarjo. Di sana, beliau sempat dihina dan diusir, tetapi enggan beranjak. Meski tidak diperbolehkan masuk musala, beliau keukeuh tinggal di situ hingga malam hari.

Sampai pada malam hari, pengasuh pondok berkeliling bermaksud membangunkan santri-santrinya untuk qiyamul lail. Saat itulah, sang kiai kaget bukan kepalang lantaran melihat pancaran sinar yang seperti matahari di serambi musala. Dan saat didekati, ternyata sinar terang itu keluar dari tubuh Musthofa yang tertidur pulas.

Peristiwa itu membuat sang kiai meyakini bahwa Musthofa bukanlah anak sembarangan. Dan mulailah Musthofa diajari kembali ilmu agama Islam. Hingga beberapa tahun setelahnya, Musthofa diminta kembali ke rumah untuk mendirikan pondok pesantren. Sempat menolak dengan alasan ilmunya belum cukup, Musthofa lantas melanjutkan mondok ke Pondok Pesantren Sidoresmo, Surabaya.

Di sana, beliau juga banyak mengalami hal-hal di luar nalar. Sehingga sang kiai pengasuh menilai Musthofa mempunyai ilmu laduni. Maka disuruhlah pulang dan segera mendirikan pesantren. Musthofa yang kemudian dikenal dengan KH Musthofa lantas menuruti dan mendirikan Masjid Al-Musthofa, yang berasal dari wakaf H Fadhelan.

Masjid itu sampai saat kini masih berdiri kokoh di Desa Canggu. Tidak hanya masjid, beliau juga mendirikan Madasarah Diniyah dengan sistem pendidikan sorogan di sisi selatan masjid. Madrasah tersebut digunakan untuk mengajar Alquran masyarakat sekitar yang masih terkenal abangan.

Meski sudah menjadi pemangku masjid dan madrasah, karamah atau kesaktian Kiai Musthofa tak pernah padam. Terbukti, ia juga turut serta dalam gelombang pemberontakan melawan sekutu saat era kemerdekaan. Di mana, ia juga terlibat dalam Resolusi Jihad yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari.

’’Beliau juga sempat ikut berperang bersama santri-santri dari Surabaya, Jombang, dan Mojokerto. Santrinya sendiri juga ikut diajak perang dengan dibekali karamah yang dimiliki,’’ tandas Solikin. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia