Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Pendiri Pesantren Pertama di Mojokerto (1)

Kiai Muhammad Ilyas, dari Santri Lelono, Dirikan Pondok Penarip

12 Mei 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana Pondok As-Sholichiyah di Penarip, Kecamatan Kranggan yang menjadi pesantren tertua di Kota Mojokerto.

Suasana Pondok As-Sholichiyah di Penarip, Kecamatan Kranggan yang menjadi pesantren tertua di Kota Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Masuknya Islam di Bumi Majapahit semakin berkembang. Salah satunya ditandai adanya lembaga pondok pesantren (ponpes). Di Mojokerto, keberadaan pesantren diperkirakan dimulai pada abad ke-19. Tidak banyak jejak pesantren yang terekam oleh catatan. Salah satu yang mengawali adalah Pondok Penarip, Kota Mojokerto.

SESUAI namanya, Pondok Penarip berada di Jalan Penarip II, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Pondok pesantren yang dikenal As-Sholichiyah masih eksis sampai saat ini. Asrama tempat para santri menimba ilmu tersebut merupakan salah satu yang tertua di Mojokerto. Pesantren tersebut didirikan oleh Kyai Muhammad Ilyas abad ke-19.

Dzuriyah pendiri Pondok Penarip Kiai Muhammad Rofii Ismail, menuturkan, Kiai Ilyas lahir di Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sejak kecil beliau sudah memutuskan keluar rumah untuk mengembara mencari ilmu. ’’Menurut cerita, Mbah Yai Ilyas keluar rumah sejak sebelum khitan. Kemudian merantau ke Pondok Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon,’’ terang cucu Kiai Ilyas ini.

Kemudian kembali berpetualang ke Kiai Asron di Indarmayu, Jawa Barat. Kiai Ilyas juga sempat berguru kepada Kiai Khozin Siwalan Panji di Japanan, Porong, Sidoarjo. Kemudian sekitar tahun 1870-an, Kota Mojokerto dipilih sebagai pelabuhan terakhir pengembaraannya. ’’Mbah Yai Ilyas datang ke Mojokerto usianya sudah hampir 60 tahun,’’ paparnya.

Menurutnya, awal kedatangan Kiai Ilyas singgah di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Di kawasan tersebut mendirikan sebuah musala yang kini berubah menjadi Masjid Al Mubarok di Jalan Riyanto. Selain digunakan sebagai tempat salat berjamaah, langgar tersebut juga digunakan untuk kegiatan belajar mengaji.

Namun, ujar Kiai Rofii, kala itu masyarakat sekitar masih sulit untuk diajak salat berjamaah maupun mempelajari ilmu Islam. Kemudian Mbah Ilyas meminta petunjuk kepada Allah dan mendapatkan petunjuk untuk pindah ke Lingkungan Sinoman, kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon.

’’Ternyata di Sinoman juga masih sulit masyarakat untuk diajak, akhirnya pindah lagi dan tinggal di Penarip sini,’’ paparnya. Masyarakat setempat menyambutnya dengan hangat. Hingga akhirnya Kiai Ilyas memutuskan untuk menetap dan menikah di Kota Onde-Onde.

Di samping itu, sekitar 1875-an, kiai yang memiliki nama lain Muhammad Sholeh ini juga mendirikan lembaga Pondok Pesantren As-Sholichiyah atau yang dikenal sebagai Pondok Penarip. ’’Pondok ini adalah pondok yang pertama berdiri di Mojokerto Kota maupun Kabupaten Mojokerto,’’ tutur Ketua MUI Kota Mojokerto ini.

Diperkirakan, Pondok Penarip menjadi cikal-bakal berkembangnya pondok pesantren di belahan wilayah lainnya. Beberapa santri yang sempat menimba ilmu di Pondok Penarip adalah Kiai Achyat Chalimy, Kiai Nawawi, Kiai Yahdi Mathlab, Kiai Munasir Ali, Kiai Mansyur, serta Kiai Khusairi. Beberapa tokoh ulama tersebut kemudian menyusul untuk mendirikan pondok pesantren di masing-masing tempat tinggalnya untuk mengamalkan ilmunya.

Kiai Rofii menambahkan, santri di Pondok Penarip kala itu justru yang paling banyak berasal dari luar Mojokerto. Terutama dari tempat kakeknya dulu menimba ilmu. Yaitu, dari Pesantren Babakan, Kabupaten Cirebon serta dari Kertasemaya, Kabupaten Indramayu.

Menurutnya, kedatangan santri-santri tersebut berasal dari anak-cucu dan santri dari guru-guru Mbah Ilyas terdahulu. ’’Karena ada wasiat kalau ingin mengaji atau mondok diminta untuk mencari Mbah Ilyas. Sehingga banyak yang datang ke sini (Pondok Penarip, Red),’’ tandasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia