Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Dr Halila Rama Purnama, SH

Puasa yang Berbeda, Menu ala Medan sampai Bubur Sruntul

12 Mei 2019, 02: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Halila Rama Purnama, SH, Kajari Kota Mojokerto.

Halila Rama Purnama, SH, Kajari Kota Mojokerto. (Nadzir/radarmojokerto.id)

PUASA kali ini merupakan puasa tahun ke-6 yang saya jalani selama bertugas di Jawa Timur (Jatim). Tahun pertama, menjadi sesuatu yang berbeda, karena dikagetkan dengan jadwal imsak yang lebih cepat dari Jakarta.

Sebab, walaupun masih berada dalam waktu Indonesia bagian barat, saya sempat lupa bahwa saya saat itu sudah berada di ujung timur Pulau Jawa. Tapi, Alhamdulillah puasa di tahun pertama tetap berjalan lancar, walau sering terlambat sahurnya. Mengenang masa-masa awal menjalankan ibadah puasa berada di Jatim, saya rasa akan menjadi catatan sejarah sendiri.

Karena sebagai orang Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar) yang biasanya berbuka puasa dengan menu ala Pontianak atau ala Medan saat saya bertugas di Medan atau bahkan dengan ala Jakarta ketika saya bertugas di Jakarta, maka selama di Surabaya, bahkan sekarang berada di Kota Mojokerto, saya harus membiasakan diri dengan menu di sini. Yang saya rasa menjadi ciri khas sendiri.

Cita rasa pedas ternyata banyak saya rasakan pada menu-menu berbuka puasa di Kota Mojokerto. Sehingga tidak ada kesulitan bagi saya untuk menyesuaikan. Hal ini terbukti dengan tetap bertambahnya angka timbangan berat badan saya, hehehe. 

Onde-onde yang menjadi kue khas Kota Mojokerto saat ini juga menjadi kue wajib bagi saya untuk berbuka puasa. Dengan varian isi yang beragam, membuat kue ini bisa tetap menjadi pilihan bagi anak-anak milenial. Kalau di Kalimantan, saya biasa berbuka dengan gorengan bernama bakwan, maka di Kota Mojokerto namanya berubah menjadi ote-ote.

Bahan dasarnya sama, bahkan rasanya juga hampir sama. Hanya yang membedakan hanyalah ukurannya saja. Di Mojokerto ukurannya lebih besar. Tapi, jangan pernah tanyakan bakwan ke penjual ote-ote di Mojokerto. Sebab, bakwan di sini adalah nama lain dari bakso. Nama yang berbeda juga menjadi ciri khas makanan tersebut.

Karena kalau bakso di Kalimantan berisi bulatan daging ditambah dengan tahu isi daging plus kuah daging, mitiaw atau mi kuning ditambah garnish bawang putih goreng, bawang merah goreng, irisan daun bawang. Dan untuk menambah selera, maka bisa ditambahkan cabe, kecap manis, dan perasan jeruk kecil.

Wah, sambil menulis ini rasanya saya ingin cepat-cepat mudik ke Pontianak. Dan ingatan masa kecil selama di sana mulai terbayang, dan ini membuat saya menjadi tersenyum sendiri. Hal yang berbeda ketika saya berada di warung bakwan legendaris di Kota Mojokerto.

Maka bulatan daging yang saya sebut bakso ini dihidangkan bersama kuah daging yang menyegarkan. Bisa juga ditambah mi atau lontong bahkan nasi. Di situ, bakwan gorengnya juga juara. Tempat Jajanan buka puasa di Kota Mojokerto juga bisa saya temukan di sekitaran Alun-Alun Kota Mojokerto.

Sebagai pendatang di kota dengan 3 kecamatan ini, berburu kuliner khas seolah menjadi sesuatu yang wajib bagi saya. Bubur sruntul salah satunya. Dengan bahan dasar tepung beras, kemudian dibentuk bulat-bulat menjadi kecil ditambah beras ketan hitam, kuah santan, serta gula merahnya jangan lupa es batu, maka ini menjadi menu buka puasa yang berbeda buat saya.

Mungkin ini saja yang bisa saya ceritakan, karena kalau diberi kesempatan mungkin tulisan ini akan menjadi promosi kuliner untuk Kota Mojokerto yang mempunyai banyak pilihan tempat makan yang cozy maupun yang asyik.

Serta dengan varian menu yang lengkap dan enak. Bahkan, saya berharap, Kota Mojokerto bisa menjadi Kota Kuliner penyangga Surabaya, karena jaraknya yang semakin dekat dengan Tol Sumo. Tak lupa, kami dari keluarga besar Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto mengucapkan selamat menjalankan ibadah Ramadan 1440 H. (*)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia