Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Jejak Jamhur di Bumi Wilwatikta

Cucu Sunan Giri Pernah Tinggal di Kampung Jeruk Keputran, Banjarsari

10 Mei 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana Dusun Keputran, Desa Banjarasri, Kecamatan Jetis, yang pernah disinggahi Pangeran Bulu, cucu Sunan Giri.

Suasana Dusun Keputran, Desa Banjarasri, Kecamatan Jetis, yang pernah disinggahi Pangeran Bulu, cucu Sunan Giri. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

SAMPAI saat ini, anak turun dari Raden Suwahyu masih ada yang tinggal dan menetap di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya di Dusun Jeruk Keputran, Desa Banjarsari. Nama Keputran merupakan julukan dari tempat tinggal para keturunan Sunan Giri.

Semasa hidup, Raden Suwahyu atau Pangeran Bulu pernah meninggalkan jejak penyebaran agama Islam di Desa Banjarasri. Bahkan, di salah satu dusun di desa tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal bagi anak turunnya.

Pemerhati sejarah dan folklor, Iwan Abdillah, menceritakan, asal muasal nama Jeruk Keputran bisa jadi bermula karena dijadikan sebagai tempat tinggal bagi para Susuhunan Dalem atau keturunan dari Raden Paku alias Sunan Giri.

Sehinga disematkanlah nama Keputran di belakang nama kawasan Jeruk. ’’Keputran adalah rumah para anak turun Sunan Giri,’’ terangnya. Hingga saat ini, masih tersisa kepala keluarga yang memiliki garis keturunan langsung dari Mbah Suwahyu.

Adalah putra sulung Pangeran Bulu yang bernama Hisyamudin. Warga yang lebih akrab disapa Mbah Sam’udin ini masih menetap di Dusun Jeruk Keputran.

Iwan menceritakan, terdapat legenda populer bagi penduduk setempat. Konon terdapat sebuah sebuah tempat singgah yang dikenal dengan sebutan Pomahan. Lokasinya berada di areal persawahan masuk wilayah Dusun Jeruk Keputran.

’’Namun lokasinya sudah tidak berbekas. Hanya tersisa batu bata kuno yang berserakan dan sebuah sumur yang menandakan pernah ada peradaban di tempat itu,’’ ujarnya.

Berdasarkan cerita tutur, Pomahan sempat menjadi tempat tinggal dari para keturunan Mbah Suwahyu. Dugaan itu diperkuat dengan adanya bukti foto lama yang masih tersimpan dengan baik oleh di rumah Sam’udin.

Lokasi itu dulu bernama Balong Tunjung. Namun, nama itu kini sudah tidak familier lagi di Banjarasri. Terlebih, bangunan yang bercorak kolonial itu hanya tersisa hamparan sawah saja. ’’Terkait kebenaran Pomahan, masih perlu diuji lagi lebih mendalam,’’ tandas lulusan Jurusan Antropologi Universitas Airlangga (Unair) ini.

Namun, merujuk sebuah foto hitam putih itu semacam pose foto keluarga. Sedangkan latar belakangnya terdapat sebuah rumah besar dan megah pada zamannya. Dalam objek foto tersebut terdapat Mbah Sam’udin dan cucunya yang biasa dipanggil Mbok Bek.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia