Kamis, 17 Oct 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Jejak Jamhur di Bumi Wilwatikta

Pangeran Bulu, Cucu Sunan Giri, Dapat Tugas Syiar Islam di Sawo

08 Mei 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Makam R. Suwahyu di bukit di Dusun/Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Makam R. Suwahyu di bukit di Dusun/Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

JEJAK peradaban Islam di Mojokerto tidak bisa lepas dari peran ulama penyebar agama di wilayah utara Sungai Brantas. Salah satunya adalah di Kecamatan Jetis.

Wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Gresik yang menjadi tempat bersemayamnya salah satu tokoh Wali Songo ini memiliki bukti sejarah masuknya Islam. Di kawasan itu terdapat makam Pangeran Bulu yang diyakini sebagai cucu dari Sunan Giri.

Makam bercorak Islam tersebut memang berada cukup jauh dari permukiman warga. Tepatnya berada di atas bukit di Dusun/Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Warga setempat menyebutnya sebagai makam panjang.

Pemerhati sejarah dan folklor, Iwan Abdillah, menjelaskan, dipilihnya lokasi pemakaman di Dusun/Desa Jolotundo bisa jadi karena tempat makam panjang keberadaannya tertinggi di antara makam-makam lain di wilayah sekitar. Itu menandakan yang dimakamkan memiliki kedudukan yang ditinggikan di mata masyarakat. ’’Makamnya berada di atas bukit yang relatif rata di puncaknya,’’ terangnya.

Dia menyebutkan, kontur tanah di Dusun/Desa Jolotundo memang memiliki ciri khas perbukitan. Sebab, daratannya berada persis di rangkaian Pegunungan Kendeng. Makam tersebut memiliki panjang kurang lebih empat meter. Tepat di ujung sisi makam tertera nama R. Suwahyu atau kepanjangan dari Raden Suwahyu.

Jika ditelisik dari trah dan catatan riwayat kehidupan Raden Suwahyu pada masa lalu, rasanya jenazahnya memang pantas mendapatkan penghormatan terakhir di lokasi makam panjang. ’’Raden Suwahyu memiliki gelar Pangeran Bulu,’’ paparnya.

Menurutnya, gelar tersebut disematkan karena masa hidup R. Suwahyu pernah menetap di Dusun Bulu yang saat ini masuk dalam wilayah Desa Sawo, Kecamatan Jetis. Oleh warga setempat, Pangeran Bulu lebih akrab disebut sebagai Mbah Suwahyu.

Iwan merincikan, secara silsilah keturunan, Mbah Suwahyu memiliki ayah bernama Zainal Abidin yang bergelar Susuhunan Dalem. Tak lain adalah putra dari Ainul Yaqin atau Raden Paku. Tokoh penyebar agama Islam dari Gresik itu dikenal dengan Sunan Giri. ’’Jadi, Raden Suwahyu ini terhitung cucu langsung dari Sunan Giri,’’ tandasnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Camat Jetis ini, menambahkan, Sunan Giri tidak hanya sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa. Salah satu tokoh Wali Songo ini juga mengalir darah biru keturunan ningrat. Dari garis ibunda Sunan Giri ini bernama Dewi Sekardadu Putri dari Raja Blambangan Minak Sembuyu.  Sedangkan ayahnya adalah Maulana Ishaq, putra dari Syech Jumadil Qubro.

Sehingga memiliki nasab dengan garis Dzurriyat Nabi Muhammad SAW. ’’Itulah yang membuat lazim bila keturunan Sunan Giri ini memiliki pangkat dan derajat secara sosial yang dimuliakan,’’ tandas alumnus Universitas Airlangga (Unair) ini.

Dia menambahkan, gelar Pangeran Bulu merupakan apresiasi dari keturunan raja-raja. Dari 9 saudara kandung Mbah Suwahyu, hampir semuanya mendapat penugasan menjadi pendakwah menyebarkan agama Islam di berbagai tempat.

Antara lain, Sunan Prapen yang memiliki nama Raden Fatikhal, Pangeran Deket Lamongan, Pangeran Sedo Laut, Pangeran Bungkul Surabaya, Nyai Ageng Waru, Nyai Ageng Darukan, Nyai Ageng Ngulukan dan Susuhunan Sedo Margi. ’’Sedangkan Mbah Suwahyu yang dikenal Pangeran Bulu karena mendapat penugasan di daerah Bulu saat ini masuk Desa Sawo, Kecamatan Jetis,’’ tandas Iwan.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia