Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Penikam Preman Terminal Bermotif Dendam, Tak Terima Dipukul Paving

07 Mei 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tersangka kasus penikaman terhadap Sutikno, Arifin saat diamankan di Mapolresta Mojokerto.

Tersangka kasus penikaman terhadap Sutikno, Arifin saat diamankan di Mapolresta Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Pelarian pelaku penganiayaan preman Terminal Kertajaya Kota Mojokerto, Arifin alias Temon, 56, berakhir. Warga asal Dusun/Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu berhasil ditangkap Tim Resmob Satreskrim Polresta Mojokerto, Minggu (5/5) lalu.

Arifin yang kini menyandang status tersangka dan sudah dilakukan penahanan ditangkap setelah sebelumnya terbukti melakukan penganiayaan terhadap Sutikno, 43, warga Lingkungan Ngaglik Gotong Royong, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, pada Kamis (2/5) lalu.

’’Hasil penyelidikan, ternyata motif penganiayaan ini adalah dendam,’’ kata Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Ade Warokah. Ia menyebutkan, sebelum terjadi penikaman terhadap korban di depan ponten Terminal Kertajaya, sehari sebelumnya Rabu (1/5) sekitar pukul 01.30, pelaku juga sebagai kernet bus hijau jurusan Mojokerto-Surabaya tersebut lebih dulu dianiaya korban dengan dipukul menggunakan paving.

Akibatnya, Arifin mengalami luka di tangan kiri. ’’Soal keributan itu dipicu apa, masih kita dalami,’’ tuturnya. Atas kejadian tersebut, timbul rasa dendam dalam hati Arifin. Pada keesokan harinya ia yang melihat korban saat baru turun dari bus langsung menghampiri korban.

Sikap korban yang merasa seolah tak bersalah setelah memukul Arifin menggunakan paving membuatnya kian murka. Saat diminta dimintai pertanggung jawaban korban justru berkelit dan menghindar. Dari situ, dengan membawa pisau dapur, Arifin menikam korban sebanyak tiga kali hingga Sutikno bersimbah darah. ’’Pisau itu diambil pelaku dari salah satu warung di kawasan terminal,’’ tuturnya.

Korban mengalami tiga luka tikaman. Masing-masing di pinggang kiri, paha kiri, dan tangan kiri. ’’Setelah melakukan penusukan, pelaku membuang pisau dan melarikan diri,’’ tambahnya. Belakangan diketahui, Arifin adalah residivis dalam kasus yang sama pada tahun 2010.

Kini, oleh polisi, pelaku dijerat pasal 351 ayat 2 KUHP juncto pasal 2 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. ’’Dengan ancaman pidana paling lama 10 tahun penjara,’’ tegasnya. Saat olah tempat kejadian perkara (TKP) polisi turut mengamankan pisau dapur yang masih terdapat bercak darah.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia