Minggu, 21 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sungai Gunting Penyebab Banjir Jadi Tanggung Jawab BBWS Brantas

07 Mei 2019, 21: 48: 03 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Tempuran Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang sedang hamil dievakuasi dari banjir ke tempat yang aman.

Warga Tempuran Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang sedang hamil dievakuasi dari banjir ke tempat yang aman. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Banjir yang menggenangi kawasan Sooko bagian barat, tepatnya di Desa Tempuran selama sepekan terakhir memaksa Pemkab Mojokerto terus mencari solusi mengatasi.

Termasuk menelusuri penyebab luberan air Sungai Gunting yang menggenangi sekitar 388 rumah warga di dua dusun. Bekucuk dan Tempuran. Nah, dari hasil mitigasi sementara, diketahui ada tiga faktor penting yang menjadi penyebab banjir tak kunjung surut.

Antara lain, adanya pendangkalan afur Sungai Balongkrai yang mengalir di kawasan tersebut sejak puluhan tahun silam. Di mana, ada penyempitan lebar serta kedalaman sungai yang tidak cukup menampung debit air.

Lalu disusul tingginya debit air Sungai Watudakon dan afur Sungai balongkrai yang sama-sama bermuara di pintu air Sipon, Desa Ngingasrembyong. Sehingga, membuat arus kedua sungai saling bertabrakan lalu meluber ke daratan atau permukiman warga.

Sementara faktor yang terakhir adalah tersumbatnya 2 dari 3 pintu dam Sipon. Di mana, ada banyak sampah kayu yang menyumbat pintu. Sehingga, air tak bisa mengalir lancar. ’’Di sini sudah bermasalah (Desa Tempuran), ditambah lagi di sana (pintu air Sipon) juga tidak normal,’’ tutur M. Zaini, kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto.

BPBD pun tidak mau sendirian dalam mengatasi luberan air yang terus meluas. Ada lembaga atau instansi lain yang lebih bertanggung jawab dalam mengatasi luberan sesuai tupoksi masing-masing. Termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sebagai penanggung jawab utama penanganan dan pengelolaan Sungai Watudakon afur Sungai Balongkrai sebagai anak Sungai Brantas.

Lembaga milik Kementerian PUPR itu pun lantas dituntut mampu mengatasi banjir akibat luapan air secepatnya. ’’Akhirnya disimpulkan menjadi kewenangan BBWS. Hari ini (kemarin, red) kita sudah bersurat dengan tindasan Bu Gubernur. Dan sudah dilakukan pengerukan dengan alat berat,’’ tambahnya.

Meski demikian, Zaini belum bisa memastikan kapan banjir bisa segera surut. Dan warga bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Bahkan, jumlah warga terdampak semakin bertambah hingga mencapai 1.207 jiwa dari 304 KK yang mendiami dua dusun.

Atau naik 10 persen dari hari sebelumnya yang mencapai 1.129 jiwa dari 279 KK. Tidak hanya pemukiman warga, setidaknya ada 75 hektare sawah padi juga ikut terendam banjir luapan sungai yang kini masih berada di ketinggian 30-40 sentimeter.

’’Memang ada peningkatan jumlah warga terdampak, tapi di sisi lain tren ketinggian air menurun,’’ tandas Zaini. Untuk penanggulangan, BPBD kini masih meng-cover dampak bencana dari dana bansos. Yang kini disentralkan di empat titik pengungsian. Yakni di Balai Dusun Pendowo, Desa Ngingasrembyong, yang menampung kurang lebih 500 jiwa.

Lalu Balai Dusun Tempuran yang berkapasitas 200 jiwa serta Balai Desa Ngingasrembyong yang menampung 1.000 jiwa. ’’Kami tetap menjamin kebutuhan dasar warga karena ini juga sudah memasuki ibadah puasa. Kita siapkan sepenuhnya mulai dari berbuka, mandi, cuci dan lain sebagainya,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia