Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda
Oleh Muh. Muflikhun

Tafsir Spiritual Angkringan

05 Mei 2019, 18: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Nadziril/radarmojokerto.id

Nadziril/radarmojokerto.id

REVOLUSI industri dari 3.0 ke 4.0, menjadikan para pengusaha mulai merubah konsep bisnisnya, mulai dari dekorasi ruangan, penambahan wifi, dan juga mulai berinovasi dalam produk yang mereka tawarkan. Ini semua demi sebuah eksistensi dalam dunia yang serba modern ini. Perubahan inilah yang mulai disadari oleh pengusaha angkringan.

Kemajuan dunia industri menyebabkan angkringan yang biasanya berkonsep tradisional, sekarang disulap menjadi lebih modern dengan berbagai macam perubahan baik pada tempat maupun peralatannya, seperti berada di sebuah kios bukan lagi di pinggir jalan raya, penggunaan meja dan kursi bujur sangkar yang untuk empat orang, penggunaan tungku kayu bakar menjadi kompor gas, lampu kuning menjadi lampu neon, gerobak dorong menjadi gerobak tetap, dan penggunaan wifi dalam angkringan.

Tempat yang semakin nyaman dengan tambahan wifi menjadi nilai tambah tersendiri bagi mahasiswa, pasalnya tidak semua mahasiswa berasal dari golongan anak orang kaya. Sehingga jika ada tempat yang menyediakan barang dagangan murah dan dilengkapi wifi, maka sudah dipastikan bahwa tempat itu akan ramai dengan pengunjung.

Di setiap perubahan pasti membawa dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya yaitu, hilangnya nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan sosial, dan akhlak. Di angkringan kebersamaan yang terjalin bukan atas dasar kepentingan individu melainkan lebih ke arah sosialisasi antar individu. Sedangkan untuk kesetaraan sosial, terjadi ketika kita masuk ke angkringan dengan sinar lampu yang agak redup membuat mata kita tak begitu jeli untuk dapat memastikan pakaian apa yang dipakai oleh orang lain, semuanya terlihat sama tidak ada perbedaan antara orang kaya atau miskin. Akhlak atau budi pekerti sangat dijunjung tinggi ketika kita berada di angkringan tradisional, tapi tidak begitu berlaku di angkringan modern, contoh kecil budaya unggah ungguh yaitu berjalan agak menunduk ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Untuk dampak positif yang ditimbulkan antara lain, pertama kemajuan dibidang pemasaran, tempat lebih nyaman dan bersih, pengalihan dari tempat nongkrong ke tempat pertemuan pejabat, penghasilan bertambah dan lain-lain. Ini semua menjadikan bisnis angkringan mulai dilirik oleh anak-anak muda, selain simpel juga hasil yang diperoleh menggiurkan.

Pada dasarnya angkringan merupakan produk budaya, yang bermula dari perkumpulan orang-orang pada malam hari dengan jamuan jahe susu, nasi kucing, sate telor puyuh, dan mendoan. Perkumpulan tersebut terbentuk karena rasa solidaritas yang tinggi diantara sesamanya. Tapi sekarang ini, rasa solidaritas telah memudar dan tergantikan dengan sikap egois diantara individu, sehingga perkumpulan yang terjadi hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing.

Terbentuknya angkringan karena bertujuan untuk merekatkan kembali nilai-nilai solidaritas di antara sesama  dan juga sebagai upaya mengingat sang maha pencipta. Ini tercermin dari mulai berjualan dimalam hari, yang mana merupakan waktu untuk bersantai dan mendekatkan diri kepada sang maha pencipta, setelah dari pagi hingga sore sibuk mencari nafkah.

Jika nilai-nilai solidaritas telah hilang dari masyarakat Indonesia maka tidak akan ada lagi yang namanya bantuan kemanusiaan, orang sudah tidak kenal lagi nama tetangganya, mudah terjadi konflik antar sesama warga komplek atau desa. Inilah yang sudah terjadi di kota -kota besar, tidak menutup kemungkinan hal-hal itu juga akan terjadi di desa-desa, karena banyak pemuda desa yang merantau ke kota-kota besar dan ketika pulang sudah seperti orang kota yang sudah mulai hilang rasa solidaritasnya.

Di angkringan inilah tercipta sebuah suasana yang damai, sehingga segala persoalan hilang ditelan gelapnya malam, semua bahagia, bersenda gurau bersama tanpa adanya batasan strata sosial. Semua orang menikmati hidangan yang tersedia di situ, sambil berinteraksi satu sama lain, disinilah terjadi hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas) tidak ada yang bertikai, saling hujat apalagi sampai berkelahi.

Allah SWT menciptakan malam supaya hamba-hamba-Nya punya waktu khusus untuk berkeluh kesah, bersyukur, ataupun muhasabah diri (hablum minallah). Seorang hamba yang taat selalu punya waktu untuk muhasabah diri, seperti di angkringan kita tidak hanya datang untuk makan atau minum saja tapi suasana disitu sangat mendukung untuk muhasabah diri, berbeda ketika kita berada di cafe, restoran dan lain-lain.

Dalam hidup terkadang kita bisa khusyuk mengingat Allah ketika sedang berada di luar sholat, bahkan Sayyidina Ali saja tidak bisa khusyuk dalam sholat dari awal sampai akhir, karena yang bisa hanyalah Nabi Muhammad SAW. Godaan yang terlalu berat ketika kita melaksanakan ibadah yang bersifat mahdhah membuat kita tidak bisa khusyuk dari awal sampai akhir. Maka dari itu, ibadah ghairu mahdhah menjadi solusi bagi kita untuk bisa khusyuk 100%.

Di angkringan kita selain menikmati makanan juga harus bisa selalu waspada karena angkringan tradisional biasanya buka di pinggir-pinggir jalan raya, sehingga potensi terjadinya sebuah kecelakaan lalu lintas sangat besar. Itulah mengapa angkringan bisa mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Karena mereka harus selalu mengingat mati, yang kapan saja bisa merenggut kapan saja.

Angkringan bisa dijadikan sebagai usaha untuk mencari keuntungan duniawi dan akhirat. Hal itu bisa tercermin dari kegiatan yang dijalankan setiap harinya, seperti: berjualan di malam hari yang memberi kesan bahwa urusan duniawi dan akhirat harus seimbang. Peralatan tradisional, berarti kehidupan di dunia hanya sementara. Maka dari itu, jangan kau berhias diri dengan dunia tapi hiasilah dirimu dengan amalan baik. Kesunyian, sebagai tamsil suasana malam dalam aktivitas berjualan angkringan menciptakan situasi kontemplatif pada upaya seorang manusia untuk mengakrabi spiritualitas, dengan cara melayani manusia. (*)

*Moh. Muflikhun, lahir di Brebes, 19 September 1998. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Purwokerto. Dia bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Pernah mendapatkan juara 3 pada lomba esai Fakultas FEBI IAIN Purwokerto. Saat ini ia beralamat di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Purwokerto.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia