Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Predator Sembilan Anak, Dihukum 12 Tahun Penjara dan Dikebiri

03 Mei 2019, 18: 21: 54 WIB | editor : Mochamad Chariris

Muhammad Aris saat menjalani masa tahanan di Mapolres Mojokerto.

Muhammad Aris saat menjalani masa tahanan di Mapolres Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Pemerkosa sembilan anak, Muhammad Aris, 21, dihukum berat oleh majelis Hakim Pengadilan Negeri Mojokerto, kemarin. Selain harus menjalani hukuman penjara selama 12 tahun, ia juga akan dikebiri.

Warga Mangelo Tengah, Desa/Kecamatan Sooko ini, dinilai tak manusiawi lantaran terbukti dan mengakui adanya pemerkosaan yang telah dilakukan. Terbukti, sembilan anak telah digagahi untuk melampiaskan nafsu bejatnya.

Ketua Majelis Hakim Joko Waluyo, menjatuhkan vonis berat. Yakni, 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara. Vonis ini lebih rendah dibanding tuntutan jaksa penuntut umum selama 17 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara.

Meski mengurangi hukuman penjara, namun hakim memberikan hukuman tambahan. Yakni, berupa suntikan kimia. Obat inilah yang akan mengebiri dan membuat terdakwa tak lagi mampu ereksi.

Hukuman berat yang diberikan hakim ini menyusul perilaku terdakwa yang sangat kejam, keji, dan tak manusiawi. Dan, pelaku kali terakhir melampiaskan nasfunya kepada seorang bocah di Masjid Miftakhul Huda, Mangelo, Sooko, dan perumahan Surodinawan, Oktober 2018 silam.

Kuasa hukum Aris, Handoyo, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto, mengatakan, hukuman terhadap kliennya tersebut terlalu berat. Alasannya, hukuman badan selama 12 tahun yang akan dijalani, dianggap sudah cukup untuk mengevaluasi perbuatannya. ’’Kalau masih ada tambahan suntikan kimia, tentu jauh lebih berat,’’ paparnya.

Karena, Aris tak hanya menjalani sidang ini saja. Di wilayah hukum Kota Mojokerto, Aris juga tengah menjalani sidang dan masih dalam tahap mendengarkan saksi-saksi dan segera mendengar tuntutan JPU.

’’Kalau kasus yang di kota juga divonis 12 tahun, berarti sudah 24 tahun harus dijalani. Saya rasa, waktu itu sudah sangat panjang untuk merenung,’’ tandas dia. Protes atas vonis hakim ini PN Mojokerto itu, memastikan Handoyo akan melawannya melalui banding. ’’Kami banding. Karena, vonis itu sudah sangat berat,’’ tambah Handoyo.

Sementara itu, JPU Syarief Simatupang, SH, saat dikonfirmasi menegaskan, kejari masih pikir-pikir atas putusan hakim tersebut. Akan tetapi, ia mengamini jika terdakwa telah melanggar UU Perlindungan Anak. Pelaku dengan sangat tega melakukan pemerkosaan terhadap sembilan anak.

Selama proses persidangan, kata Syarief, terdakwa terus terang mengakui perbuatannya. Bahkan, secara blak-blakan telah menggagahi anak-anak yang lepas dari pantauan orang tuanya. ’’Kami rasa, putusan itu sudah tepat,’’ ungkapnya.

Hakim PN Mojokerto Joko Waluyo tak sekali ini memberikan hukuman berat terhadap pelaku pemerkosaan anak. Maret lalu, seorang terdakwa kasus pembunuhan disertai pemerkosaan anak di bawah umur, Rosat, 48, dijatuhi hukuman mati. Putusan itu jauh dari tuntutan JPU selama 15 tahun dan denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan.

 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia