Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Rumah Baru Dibersihkan, Luapan Kali Lamong Kembali Merendam

02 Mei 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto menyelamatkan perabotan rumah tangga.

Warga Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto menyelamatkan perabotan rumah tangga. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO - Penanganan banjir di wilayah Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto sudah darurat dan harus menjadi perhatian serius.

Bagaimana tidak, di musim penghujan ini saja sudah 10 kali banjir terjadi. Ironisnya, banjir imbas dari luapan Kali Lamong itu menjadi bencana tahunan yang tak kunjung ada solusi.

’’Bahkan, sejak saya pindah ke sini tahun 1972, banjir sudah terjadi,’’ ungkap Slamet, warga Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Rabu (1/5). Hanya saja, saat itu luapan banjir belum sampai masuk ke rumah warga.

Sebatas di area rerimbunan bambu belakang rumah. Namun, lambat tahun Kali Lamong yang kian dangkal membuat luapan air semakin parah. Derasnya air pun merendam area persawahan hingga permukiman warga. ’’Tahun 2008 banjir mulai masuk rumah warga,’’ tuturnya.

Sejak tahun itu, lanjut Slamet, setiap musim hujan desanya tak pernah lepas dari ancaman banjir. Bahkan, setiap tahun jika rata-rata bisa mencapai 17 kali banjir. ’’Kalau tahun ini sudah 10 kali,’’ imbuhnya. Rokhani, 70, warga lainnya, menambahkan, setiap musim hujan, bertahun-tahun desanya selalu menjadi langganan banjir.

Sehingga, kondisi itu membuat aktivitas warga lumpuh total. Jangankan untuk melakukan aktivitas pertanian, sekadar memasak saja warga tidak bisa. Ketinggian air rata-rata setinggi lutut. Ketinggian itu belum lagi di rumah yang berdekatan dengan Kali Lamong. ’’Bisa-bisa sampai perut,’’ katanya.

Dari sejumlah banjir yang teradi musim penghujan ini, banjir yang terjadi sekarang dianggap yang terparah. Selain air yang masuk ke rumah cukup tinggi, air tak kunjung surut. Padahal, meski sebelumnya banjir kerap terjadi, sekitar pukul 10.00, air berangsur surut dan warga bisa kembali beraktivitas.

’’Baru saja kemarin (30/4) selesai membersihkan rumah. Eh, tadi (kemarin, Red) sebelum subuh sudah banjir lagi. Malah tambah parah,’’ paparnya. Bahkan, banjir yang terjadi sejak pukul 03.00 dini hari kemarin membuatnya tak sempat mengevakuasi perabotan rumah tangga. Seperti kursi, kasur, almari, dan perabotan lainnya ikut terendam. Ia mengaku banjir terparah pernah terjadi tahun 2010.

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, membenarkan jika desa-desa tersebut sudah menjadi langganan banjir akibat luapan Kali Lamong. Faktornya tak lain karena terjadi pendangkalan sungai yang tak kunjung ada normalisasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

’’Di tahun ini, sekarang (kemarin, Red) memang yang terparah,’’ katanya. Dari pendataan BPBD, banjir luapan dari Kali Lamong ini berdampak pada tiga desa di Kecamatan Dawarblandong. Di antaranya, Dusun Balong, Desa Banyulegi 25 rumah, dan 30 rumah di Dusun Ngarus. Ketinggian air relatif berbeda. Di jalan raya mencapai 1,2 meter.

Sedangkan di dalam rumah sekitar 80 cm. ’’Sekitar pukul 17.30 (kemarin, Red) ketinggian air di jalan rata-rata satu meter, dan 70 cm di dalam rumah,’’ paparnya. Sedangkan di Dusun Klanting, Desa Pulorejo terdapat 20 rumah terendam air denganketinggian air mencapai 70 cm. Di Dusun Brak, Desa Talunblandong setidaknya ada 12 rumah juga turut terdampak.

’’Tren ketinggian airnya sudah menurun. Bahkan, sebagian desa terdampak air sudah surut,’’ tutur Zaini. Kendati demikian, Zaini mengingatkan, kewaspadaan masyarakat harus tetap ditingkatkan. Menyusul potensi banjir susulan akan terjadi jika intensitas hujan dan luapan Kali Lamong kembali terjadi.

Bahkan, air yang awalnya mulai surut di permukiman warga juga berpotensi naik lagi. Mengingat, berdasarkan data BMKG, cuaca ektrem juga masih terjadi sampai 5 Mei mendatang. Sebagai upaya pemerintah, selain siaga di lokasi, Tim Tagana Dinsos Kabupaten Mojokerto, Banser NU, dan relawan sudah membuka dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

’’Yang jelas, sampai sore ini, kami siaga penuh di lokasi. Apalagi, genangan air dipemukiman juga masih terjadi,’’ paparnya.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia