Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Candi Brahu Dibersihkan, Cabut Rumput dengan Tangan Kosong

01 Mei 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jupel Candi Brahu Trowulan saat membersihkan bangunan dari tumbuhan liar yang menempel.

Jupel Candi Brahu Trowulan saat membersihkan bangunan dari tumbuhan liar yang menempel. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Pekerjaan apa pun pasti ada risikonya. Termasuk sebagai juru pelihara (jupel) yang bertugas menjaga dan merawat candi atau benda cagar budaya (BCB).

Baru-baru ini, 6 orang jupel Candi Brahu menyelesaikan pembersihan secara menyeluruh di candi dengan gaya dan kultur Buddha itu. Bagaimana pengalamannya?

SIAPA yang tak tahu Trowulan sebagai kawasan bekas kerajaan paling tersohor se-Nusantara, Majapahit. Ditemukannya ratusan hingga ribuan benda cagar budaya (CBC) dan struktur bangunan candi yang masih kokoh berdiri mengukuhkan Trowulan sebagai kawasan cagar budaya tingkat Nasional.

Bahkan, bisa dikatakan sampai level Internasional. Mengingat, perjalanan dan kiprah Majapahit sebagai kerajaan yang bisa menguasai sampai ke daratan Asia Tenggara. Tidak hanya kiprah dan perjalanannya, struktur dan bentuk bangunan candi peninggalan juga mampu menceritakan betapa hebatnya kerajaan Hindu/Buddha terakhir di pulau Jawa itu.

Di mana, masih berdiri tegak sejumlah candi yang sebagian besar terbuat dari batu bata merah itu. Salah satunya Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan. Candi yang memiliki karakter agama Buddha itu bahkan telah menjadi primadona wisatawan lokal maupun asing ketika berkunjung ke Trowulan.

Akan tetapi, ketangguhan bangunan Candi Brahu dari dulu sampai sekarang bukan tanpa campur tangan manusia. Masih tersisa upaya perawatan dan pemeliharaan rutin yang dilakukan pemerintah. Lewat Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim yang membentuk jupel sebagai pengelola dan perawat situs candi setiap harinya.

Nah, pekan lalu, 6 jupel Candi Brahu baru saja menyelesaikan perawatan candi yang dinilai begitu berat. Yakni, merevitalisasi struktur bangunan secara menyeluruh. Dengan membersihkan struktur candi dari gangguan tumbuhan liar dan kotoran yang menempel. Pembersihan ini menjadi kegiatan rutin yang dilakoni jupel setiap 3 atau 4 bulan sekali.

Di mana, masa pergantian musim yang mulai berjalan memengaruhi bentuk dan penampilan Candi Brahu. ”Mulai dari warnanya yang memudar, serta keberadaan lumut hingga rumput liar yang dapat merusak struktur candi,’’ tutur Marsaid, korlap jupel Candi Brahu.

Marsaid mengaku membersihkan bangunan candi bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan keterampilan dan keberanian tinggi untuk bisa melakoni pekerjaannya. Keberanian itu tak lepas dari ukuran Candi Brahu yang cukup tinggi dan besar. Yakni, memiliki panjang 22,5 meter, lebar 18 meter, serta tinggi 25 meter. Ukuran tersebut yang memaksa jupel harus pandai memanjat candi menggunakan peralat manual yang sederhana.

’’Petugas yang membersihkan situs adalah orang-orang tertentu. Mereka yang sudah diberikan pengetahuan bagaimana cara membersihkan situs dari batu bata merah. Ini memang sudah menjadi tupoksi kita untuk membersihkan situs Candi Brahu,’’ terangnya.

Marsaid menjelaskan, yang lebih diutamakan dari pembersihan candi adalah mencabuti rumput liar yang biasa tumbuh di atas batu bata merah. Apalagi ketika musim hujan seprti saat ini, pertumbuhan rumput liar begitu cepat.

Namun, membersihkan rumput tidak sekadar mencabutnya lalu dibuang. Ada treatment khusus yang harus dilakoni jupel agar tidak memengaruhi struktur batu bata candi. Yakni, tanpa alat alias dengan tangan kosong, serta tanpa bahan kimia. ’’Saat mencabut, harus dipastikan tercabut sampai akar agar tidak cepat tumbuh lagi. Kita tidak boleh menggunakan obat kimia karena akan merusak struktur bangunan candi,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, agar lebih cepat dalam membersihkan, jupel juga dibekali sapu lidi untuk menyapu semua rumput dan lumut liar. Termasuk tangga bambu dan tali tampar sebagai alat sederhana untuk menggapai posisi sulit dengan tingkat kemiringan tinggi.

Nah, untuk menjaga keselamatan, setiap jupel yang naik harus dijaga ketat jupel lainnya. Meski dinilai sangat sulit, namun cara itu harus dilalui agar candi tetap berdiri kokoh tanpa ada sedikitpun bangunan yang berubah. ’’Memang harus ada yang menjaga di bawah saat ada yang naik. Dibutuhkan orang-orang yang berani. Agar tetap selamat dan candi juga bersih tanpa harus merubah struktur,’’ tuturnya.

Perawatan Candi Brahu yang dilakukan sebelum bulan puasa juga bukan tanpa alasan. Hal ini untuk persiapan jelang Lebaran yang biasa dipadati pengujung dari luar kota. Sehingga pesona dan keelokan candi masih tetap terjaga dengan baik. ’’Saat Lebaran akan banyak pengunjung yang datang ke Candi Brahu. Hal ini sebagai bentuk menjaga kelestarian,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia