Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kusta Rentan Serang Anak, Dinkes Screening Siswa di Sekolah

01 Mei 2019, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto dan RSK Sumberglagah melakukan screening kepada siswa SD di Kecamatan Jatirejo.

Petugas Dinkes Kabupaten Mojokerto dan RSK Sumberglagah melakukan screening kepada siswa SD di Kecamatan Jatirejo. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Tingginya kasus penyakit kusta harus menjadi peringatan bagi masyarakat Kabupaten Mojokerto. Khususnya dalam hal meningkatkan upaya deteksi dini. Terlebih, penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium leprae itu setiap tahun selalu muncul kasus baru.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat, sedikitnya ada 442 kasus sejak 2011 lalu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 kasus baru ditemukan selama setahun terakhir ini. Kabid Pencegahan dan Pengenadalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra mengungkapkan, kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular.

Untuk menekan angka persebaran, dapat dideteksi melalui screening atau penjaringan. ”Khususnya pada usia sekolah, karena anak-anak sumber penularan tertinggi,” paparnya. Kemarin (30/4) Dinkes bersama Rumah Sakit Kusta (RSK) Sumberglagah melakukan screening ke salah satu sekolah dasar di Kecamatan Jatirejo.

Upaya tersebut guna melakukan deteksi dini, karena di lokasi tersebut ditemukan ada temuan kasus. Tak kurang dari 138 siswa mulai kelas I-VI dilakukan pemeriksaan. Indikasi tertularnya kusta tersebut dilihat dari permukaan kulit tubuh. ”Jika terdapat bercak putih, itu salah satu tanda mengarah ke kusta,” paparnya.

Bercak putih kemerahan pada kulit merupakan tanda awal penyakit kusta. Namun, adanya tanda tersebut masih harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium. Langit menjelaskan, yang membedakan bercak penyakit kulit dengan kusta adalah permukaan kulit yang mengalami mati rasa.

”Saat ini, tanda-tandanya masih bercak saja, tiga bulan nanti kita lakukan observasi lagi apakah memang bercak kusta atau tidak,” terangnya. Meski tergolong penyakit menular, namun cara persebaran penyakit kusta tidak mudah. Mantan Kepala Puskesmas Pacet ini menambahkan, pada umumnya penularan terjadi di lingkup keluarga. Pasalnya, penularannya harus melalui kontak langsung setiap hari dan dengan jangka waktu yang cukup lama.

Langit menyebut, penularan akan terjadi dalam kurun waktu sekitar 2-5 tahun. ”Itu pun juga tergantung daya tahan tubuh kita, kalau bagus tidak sampai tertular,” imbuhnya. Dan lebih cenderung rentan menular kepada usia anak-anak. Oleh karena itu, penting halnya untuk melakukan deteksi dini. Selain mencegah penularan, upaya tersebut juga untuk memberikan tindakan pengobatan lebih awal.

Sehingga orang yang tertular kusta tidak sampai terjadi kecacatan. Mengingat, penyakit kusta bisa disembuhkan dengan meminum obat secara rutin dan teratur selama minimal enam bulan. Dia mengaku telah meminta seluruh puskesmas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran kusta. Salah satunya mengupayakan screening ke sekolah-sekolah. Dengan sasaran peserta didik yang baru masuk di jenjang SD nanti.

Khususnya di sekolah berada di wilayah yang menjadi kantong kusta karena kasus terbanyak. Langit merincikan, dari 36 kasus baru tahun ini tersebar di 14 kecamatan. Paling banyak ditemukan di Kecamatan Puri dan Ngoro, dengan masing-masing 5 kasus. Kemudian disusul Dawarblandong 4 kasus, serta Trowulan dan Jatirejo masing-masing 3 kasus. ”Ada beberapa wilayah puskesmas yang nol kasus, tapi semuanya tetap harus antisipasi,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia