Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Empat Bulan, 61 Bencana di Mojokerto, Erupsi Gunung Berapi Jadi Atensi

27 April 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas BPBD dibantu TNI/Polri dan tim relawan mengevakuasi korban bencana dalam simulasi HKBN 2019 di Kantor BPBD, Desa Jabon, Kecamatan. Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jumat (26/4).

Petugas BPBD dibantu TNI/Polri dan tim relawan mengevakuasi korban bencana dalam simulasi HKBN 2019 di Kantor BPBD, Desa Jabon, Kecamatan. Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jumat (26/4). (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Kabupaten Mojokerto adalah salah satu kawasan rawan bencana alam di Jawa Timur (Jatim). Terbukti, dalam tahun ini, belum genap 4 bulan saja, sudah ada 61 bencana.

Mulai banjir, tanah longsor, hingga kebakaran. ”Dalam rentan waktu empat bulan sudah terjadi 43 kali bencana banjir, dan 18 longsor,’’ kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini, Jumat (26/4). Kata dia, angka itu belum termasuk kebakaran dan angin kencang belakangan juga terjadi. Sehingga selama musim pancaraoba ini, masyarakat diimbau meningkatakan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Nah, sebagai upaya kesiapsiagaan, kemarin BPBD menggelar simulasi pertolongan pertama di tengah terjadi bencana alam. Simulasi dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2019 ini dipusatkan di Kantor BPBD Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar.

Dalam simulasi itu, warga dan penghuni kantor digambarkan sedang dalam suasana panik. Mereka berhamburan lari keluar gedung menyelamatkan diri setelah diguncang gempa bumi. Namun, belum sempat lari keluar gedung, penghuni terjebak kebakaran dipicu korsleting listrik.

Akibatnya, sejumlah warga menjadi korban. Peritiwa itu membuat petugas bergerak cepat melakukan pertolongan dan evakuasi. Melibatkan potensi relawan dan unsur TNI/Polri. Mereka bahu membahu melakukan upaya penyelamatan. Di luar gedung, damkar melakukan upaya pemadaman api.

Ya, simulasi ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam rangka mempersiapkan diri. ’’Ancaman bencana sampai saat ini masih cukup banyak. Mulai puting beliung, kebakaran, tanah longor, banjir, dan gempa bumi,’’ papar Zaini.

Simulasi ini dilakukan serentak secara Nasional. Menurut Zaini, simulasi menjadi penting setelah hasil penelitian universitas dari Jepang menyebutkan, orang yang selamat dari bencana itu paling besar adalah dari dirinya sendiri mencapai 30 persen. Disusul dari tetangga 15 persen, dan orang lewat.

’’Sedangkan dari petugas hanya satu persen. Sehingga kalau masyarakat menunggu petugas, maka bencana akan melahapnya. Makanya, masyarakat kita latih,’’ bebernya. Target BPBD, setidaknya 50 persen desa tangguh bencana (destana) yang tersebar di Kabupaten Mojokerto.

Meski, sejauh ini masih ada 7 destana, Zaini meyakini 3 - 4 tahun ke depan sudah bisa penuhi target 50 persen destana.  Sesuai peta yang disusun dari hasil kerja sama dengan UGM, ITB, Mojokerto memang masuk dalam kategori rawan terjadi bencana alam di Jatim. ’’Ada rawan bencana longsor, banjir, puting beliung, erupsi gunung, dan kebakaran,’’ paparnya. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia