Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Politik

Putri KPPS Meninggal: Uang Santunan Ini untuk Selamatan dan Anak Yatim

27 April 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Nur Maulidia saat menerima santunan itu langsung dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi Surabaya.

Nur Maulidia saat menerima santunan itu langsung dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi Surabaya. (KPU Kab. Mojokerto for radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Meninggalnya Bida’iyah, anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 008 Desa Bandarsari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto tidak hanya membawa duka mendalam bagi keluarga.

Tapi, juga terhadap seluruh insan penyelenggara Pemilu 2019 hingga layak disebut sebagai pejuang demokrasi. Tidak hanya sebatas julukan, pemerintah bersama KPU juga memberikan perhatian khusus terhadap keluarga korban. Yakni, dengan memberi santunan kepada ahli waris sebagai wujud kepedulian.

Jumat (26/4) anak semata watang almarhumah, Nur Maulidia menerima santunan itu langsung dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Grahadi Surabaya. ’’Kemarin malam (Kamis (25/4), Red) kami dapat perintah dari gubernur untuk bisa mempertemukan ahli waris,’’ tutur Ayuhanafiq, Ketua KPU Kabupaten Mojokerto.

Meski nominal bantuan yang diberikan tidak bisa menggantikan nyawa sang ibu, Maulidia mengaku cukup terharu atas belasungkawa yang diberikan gubernur. Di mana, santunan nantinya digunakan sebaik mungkin untuk biaya selamatan sang ibunda. Termasuk pula digunakan untuk menyantuni anak yatim sebagai kebiasaan sang ibu semasa hidupnya.

’’Ya, nanti bisa dipakai untuk selamatan sampai tujuh hari dan empat puluh hari. Termasuk untuk anak yatim juga kita sisihkan,’’ tambahnya. Meski demikian, Maulidia dan keluarga mengaku masih trauma atas peristiwa yang menimpa sang ibu. Bahkan, ia dengan lantang mengatakan enggan menjadi KPPS menggantikan sang ibu saat pemilu ataupun pilkada yang akan datang.

Baginya, sudah cukup pengorbanan yang diberikan Bida’iyah terhadap proses demokrasi di Indonesia. ’’Kemarin sempat ada yang minta menggantikan ibu, tapi saya nggak, tegaskan menolak. Karena keluarga masih trauma,’’ tegasnya.

Bida’iyah diketahui meninggal dunia beberapa hari pasca menjalankan tugas sebagai anggota KPPS. Almarhumah diduga mengalami kekelahan usai menyelesaikan tahapan rekapitulasi Pilpres dan Pileg 2019 tingkat TPS di desanya.

Dugaan itu terlontar setelah korban mengeluh pusing dan demam. Meski sempat mendapat pertolongan medis selama beberapa hari di RSUD dr Soekandar Mojosari, namun nyawa korban tak tertolong hingga menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (23/4) pagi pukul 09.30.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia