Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Kerajinan Gentong dan Guci Bermotif Majapahitan, Nyaris Gulung Tikar

27 April 2019, 03: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ali Musyafa menunjukkan kerajinan gentong, guci, dan pot bermotif Majapahitan di rumahnya Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto.

Ali Musyafa menunjukkan kerajinan gentong, guci, dan pot bermotif Majapahitan di rumahnya Desa Bejijong, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto. (Muh. Ramli/radarmojokerto.id)

Warisan budaya dari nenek moyang harus terus dilestarikan sampai kapanpun dan dengan cara apa pun. Seperti yang dilakukan Ali Musyafa, warga asal Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Ia kini tetap eksis dalam melestarikan budaya ukiran Majapahitan dengan membuat kerajinan gentong, guci, dan pot.

MENGENALKAN budaya peninggalan nenek moyang adalah kewajiban setiap generasi. Bagaimanapun caranya, budaya harus tetap dipertahankan sampai kapanpun, dan dengan cara apa pun. Pasalnya, jika tidak, kecintaan terhadap kearifan lokal itu akan terkikis oleh arus zaman.

Ya, hal itulah yang nampaknya masih diperjuangkan Ali Musyafa, 47, warga Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ia tetap eksis dalam melestarikan budaya ukir Majapahit dengan membuat usaha kerajinan gentong, guci, dan pot bermotif Majapahitan.

Pria akrab dipanggil Ali itu menceritakan, usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 silam itu memang bukan diniatkan sekadar usaha dalam memenuhi kehidupan keluarga. Lebih dari itu, kata Ali, ia sengaja membuat kerajinan bermotif Majapahitan agar budaya Majapahit bisa dikenal khalayak luas hingga mancanegara.

Terbukti, tahun 2001 lau misalnya, kata dia, usaha gentong dan guci berbahan dasar tanah lihat itu bisa menembus hingga ke Bali dan Australia. Tidak hanya itu, ia juga menilai usahanya berjaya tahun 2001 silam itu. Setiap bulan pesanan yang diperolehnya terus menanjak.

”Karena untuk orang-orang Bali itu kan senangnya yang unik dan antik untuk perabotan rumah mereka,’’ katanya. Namun, seribu sayang. Sejak terjadinya peristiwa bom Bali tahun 2002, usaha kerajinannya tersebut terus merosot hingga hampir bangkrut.

Pasalnya, peristiwa yang dikenal bom Bali satu itu setidaknya banyak memakan korban dari Australia. Akhirnya, turis Australia yang sebelumnya berminat membeli gentong dan guci bermotif Majapahitan itupun menaruh kesan negatif pada budaya Indonesia.

”Selain itu, setahu saya, orang-orang luar negeri kan jarang ke Indonesia lagi akhirnya. Mungkin saja saat itu mereka masih takut,’’ jelasnya. Selain itu, kata dia, dampaknya bukan hanya dialaminya, melainkan pada usaha kerajinan yang sama di sekitar Trowulan.

”Kalau saya tetap bertahan. Di Trowulan, yang masih eksis mungkin saya sendiri. Yang lain sudah pindah kerja,’’ tambahnya. Hasil dari komitmennya ternyata membuahkan hasil. Ayah dua anak itu menyatakan, bom Bali satu tersebut tidak sampai berimbas panjang. Sebab, setelah beberapa tahun, buyer Australia dan Bali sudah banyak yang memesan lagi.

”Sampai sekarang satu bulan bisa mengirim dua kali. Untuk harga paling mahal Rp 600 ribu, karena bikinnya juga cukup lama,’’ ujarnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia