Minggu, 21 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Terjaring Razia Satpol PP, Anak Punk Langsung Diminta Bersihkan Badan

27 April 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Satpol PP Kota Mojokerto saat membantu memandikan anak punk yang terjaring razia, Kamis (25/4).

Satpol PP Kota Mojokerto saat membantu memandikan anak punk yang terjaring razia, Kamis (25/4). (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Kota Mojokerto masih menjadi tempat transit komunitas anak punk. Satpol PP kerap berupaya penertiban komunitas subkultur tersebut untuk mencegah timbulnya keresahan masyarakat hingga gangguan kamtibmas.

Demikian dikatakan Kabid Trantib Satpol PP Kota Mojokerto Hatta Amrulloh, selepas menertibkan 10 anak punk di kantornya, Kamis (25/4). ’’Jadi, Kota Mojokerto itu masih menjadi tempat transit mereka. Terutama, ketika ada event atau acara komunitasnya,’’ ungkapnya kepada radarmjokerto.id.

Dijelaskannya, komunitas anak punk di kota sebenarnya ada. Mereka biasanya kumpul di sekitaran belakang pertokoan Jalan Majapahit. Yang masih berdekatan dengan area Pasar Kliwon Kelurahan Mentikan. ’’Anak-anak itu memanfaatkan lokasi kosong di situ untuk tempat kumpul,’’ jelas pria asal Tulungagung tersebut.

Kota Mojokerto, lanjut dia, dijadikan tempat transit dan titik kumpul sebelum menghadiri acara komunitas subkultur tersebut. ’’Jadi anak punk dari Jember, Pasuruan, dan lainnya itu kumpul di sini. Lalu, datang ke event-nya bareng-bareng,’’ lanjut Hatta. Untuk itu, ketika momen tertentu, komunitas anak punk itu terlihat banyak tampak di simpang jalan untuk ngamen.

Seperti yang terjadi kemarin, 10 anak punk yang berasal dari berbagai daerah di Jatim diciduk anggota satpol PP di dekat Simpang Jalan Kartini Kota Mojokerto. Mereka kedapatan tengah beristirahat dengan duduk-duduk di pedestarian. ’’Kami bawa ke markas agar tidak muncul keresahan di masyarakat. Apalagi sampai ada gangguan kamtibmas,’’ sambung lulusan STPDN ini.

Di mako, satpol PP meminta komunitas itu untuk mandi dan mencuci pakaiannya. Kesepuluh anak punk itu diketahui dari berbagai daerah seperti Kabupaten Pasuruan, Jember, Jombang, hingga Kota Mojokerto sendiri. Mereka juga diminta tidak mengulangi perbuatan dengan bergerombol dan ngamen di jalanan. ’’Mereka kami antar ke Jalan Bypass agar segera melanjutkan perjalanannya,’’ tandas pejabat eselon III B tersebut.

Salah satu anak punk, Fardani Putra, 15, asal Kabupaten Pasuruan, mengakui, mereka berkumpul dari berbagai daerah. Itu untuk menghadiri acara konser musik di wilayah Nganjuk-Madiun. ’’Baru kemarin di Mojokerto,’’ ujar bocah putus sekolah kelas VII SMP Pasuruan ini.

Penertiban terhadap komunitas ini yang kerap ditemui di jalanan ini kerap dilakukan. Satpol PP mencatat paling tidak sejak awal tahun ini, dua kali kelompok anak punk diciduk. Di antaranya diketahui merupakan anak punk lama yang berasal dari Kota Mojokerto. ’’Yang awal itu sebelum tahun baru,’’ pungkas Hatta. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia