Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Journey

Pasar Terapung Lokba Intan, Asyiknya Bertransaksi di Atas Sungai

26 April 2019, 23: 13: 52 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga dan wisatawan bertransaksi di sungai terapung Lokba Intan.

Warga dan wisatawan bertransaksi di sungai terapung Lokba Intan. (Ester for radarmojokerto.id)

BANJARMASIN, Ibu Kota Kalimantan Selatan ini mendapat julukan Kota Seribu Sungai. Pasalnya nyaris semua sendi kehidupan masyarakat Banjarmasin tak pernah lepas dari aliran sungai yang mengelilinginya.

Mulai aliran sungai besar seperti Sungai Barito, Sungai Mahakam dan Sungai Martapura, hingga sunga-sungai kecil yang terbentuk semacam kanal. Yang menarik dari kehidupan atas sungai ini adalah pasar terapung yang banyak tersebar di beberapa aliran sungai.

Salah satunya Pasar Terapung Lokba Intan yang terletak di muara sungai Martapura. Pasar tradisional ini sangat populer di Banjarmasin. Dan konon sudah ada sejak ratusan tahun silam. Banyak juga yang menyebut sebagai pasar apung satu-satunya yang masih alami di Indonesia, bahkan dunia.

Sesuai namanya, para pedagang dan pembeli di pasar ini mempunyai ciri khas dengan menggunakan perahu kecil atau yang dalam bahasa Banjar disebut jukung. Mereka kebanyakan berasal dari wilayah sekitar Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, dan beberapa anak sungai lainnya. 

Gambaran keindahan sudah tercipta sejak para pedagang tersebut beranjak menuju pasar. Karena para pedagang tersebut berangkat sejak sebelum subuh. Sehingga biasanya pasar buka ketika matahari beranjak terbit. Pantulan sinar ke air disertai bayangan perahu-perahu kecil inilah yang menciptakan gambaran khas yang sangat indah.    

Inilah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banjarmasin. Nyaris setiap hari pasar ini juga dipadati para pengunjung dari berbagai daerah. Tak jarang pula wisatawan asing yang berdatangan. ’’Ke Banjarmasin rasanya tidak lengkap kalau belum ke pasar apung ini,’’ kata Ester, salah satu traveller dari Mojokerto.

Selain itu, menurut Ester ada keunikan lainnya di pasar apung ini. Yaitu cara pedagang dan pembeli dalam bertransaksi. Di pasar apung ini masih banyak ditemui barter antar pedagang atau yang dalam bahasa Banjar disebut sebagai bapanduk. Sama seperti jual beli lainnya, proses bapanduk ini pun juga dilakukan diatas perahu mereka.

Untuk menuju pasar apung ini tidaklah sulit. Dari pusat Kota Banjarmasin bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar 1 jam dengan perjalanan darat. Atau jika ingin merasakan sensasi lainnya, bisa menggunakan transportasi perahu kecil dengan menyusuri sungai-sungai di sekitar Banjarmasin. ’’Rasanya sangat asyik. Jarang bisa menikmati ramainya pasar di atas sungai,’’ tandas Ester. (nto)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia