Kamis, 23 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Makam Troloyo, Kuburan Pelataran, Pemakaman Muslim Trah Majapahit

25 April 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pelataran Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan sebelum dipugar.

Pelataran Makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan sebelum dipugar. (Koleksi Tropenmuseum Nederland for radarmojokerto.id)

Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan adalah  salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Mojokerto.

Pemakaman muslim itu tergolong cukup unik, karena berada di tengah situs-situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang notabene bercorak Hindu-Buddha. Konon, makam ini juga diperuntukkan bagi tempat bersemayamnya keturunan bangsahan era Majapahit.

HAMPIR setiap hari, Makam Troloyo nyaris tidak pernah sepi. Tarutama pada hari pasaran Jawa tertentu, banyak dikunjungi para peziarah. Salah satu tujuan utamanya tak lain adalah Makam Syekh Jumadil Kubro atau yang dikenal sebagai punjer Wali Songo.

Kompleks Makam Troloyo ramai dikunjungi peziarah hingga saat ini.

Kompleks Makam Troloyo ramai dikunjungi peziarah hingga saat ini. (dok/radarmojokerto.id)

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq, menceritakan, ramainya peziarah di Makam Troloyo telah terjadi sejak lama. Setidaknya, catatan awal tentang suasana makam tersebut pernah tertulis dalam buku Life in Java yang terbit tahun  1864.

Yuhan menyatakan, dalam buku karangan Wiliam Barrington d’Almedia menceritakan tentang pengalaman si penulis ketika berkunjung ke kompleks Makam Troloyo. Pada pertengahan abad ke-19 itu, tertulis luas area makam 3,5 akre atau sekitar 1,4 hektare.

”Saat itu, Makam Troloyo disebut sebagai Kuburan Plataran (Koobooran Plataharan),” paparnya.  Dengan luas tersebut, maka Troloyo menjadi kompleks pemakaman terbesar di tanah Jawa kala itu. Yuhan merincikan, di area makam memiliki empat plataran atau kompleks makam yang cukup luas. Sedangkan dua lainnya memiliki luasan yang lebih kecil.

Masing-masing kompleks pemakaman dikelilingi dengan tembok berbahan batu bata. Tembok khas Majapahit tersebut terlihat kukuh dengan tinggi sekitar 1,8 meter. Pada setiap plataran terdapat akses pintu masuk. ”Antar-kompleks makam dihubungkan dengan jalan setapak,” bebernya.

Dari bentuk makam, sangat terlihat jelas jika kompleks makam tersebut merupakan tempat pemakaman orang Islam. Itu ditandai dengan banyaknya nisan di masing-masing kompleks makam.

Yuhan menyatakan, tidak sembarang orang dapat dimakamkan di Troloyo. Sebab, lokasi tersebut dikhususkan untuk tempat bersemayamnya orang yang memiliki hubungan trah dengan Majapahit.

”Salah seorang yang dimakamkan terakhir di sana (Makam Troloyo, Red) adalah Pangeran Mojoagung tahun 1820 an,” paparnya. Dalam buku Life in Java juga merincikan, dari sejumlah kompleks makam di Troloyo tersebut, terdapat satu plataran yang paling luas sekitar 10,6 meter persegi.

Dia menjelaskan, kompleks makam itu memiliki desain bangunan beratap atau yang dikenal sebagai cungkup. Di samping itu, lantai di area makam terbuat dari susunan batu bata. ”Bisa jadi, kompleks makam bercungkup adalah makam Syekh Jumadil Kubro. Plataran makam tersebut merupakan yang paling banyak dikunjungi peziarah sejak saat itu,” tandasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia