Sabtu, 20 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Politik

KPU Mohon Bantuan Doa bagi Petugas Pemilu yang Meninggal dan Sakit

25 April 2019, 15: 18: 53 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suasana rumah duka almarhum Ismani di Lingkungan Pekuncen, Gang 3, Kelurahan Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Suasana rumah duka almarhum Ismani di Lingkungan Pekuncen, Gang 3, Kelurahan Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – KPU Kota Mojokerto mengirim surat ke setiap masjid dan gereja di Kota Mojokerto untuk meminta bantuan salat Gaib dan doa kebaktian bagi petugas Pemilu 2019 meninggal maupun sakit.

Kamis (25/4) surat itu dikirim ke masing-masing takmir masjid dan pengurus gereja. Ketua KPU Kota Mojokerto, Saiful Amin mengungkapkan, Pemilu 2019 merupakan hajat Nasional demi kepentingan bangsa dan negara. Karena itu, lanjut Amin, duka keluarga Petugas Pemilu dari unsur Linmas, KPPS, PPS, dan PPK hingga kepolisian, merupakan duka seluruh bangsa Indonesia.

”Kami juga meminta bantuan doa dari pihak gereja, agar mendoakan petugas pemilu yang meninggal, termasuk yang sedang sakit, agar diberi kesembuhan,” jelasnya. Surat bantuan doa sengaja dikirim hari ini dengan harapan, saat pelaksanaan salat Jumat maupun doa kebaktian Sabtu atau Minggu, di masjid dan gereja bisa menggelar salat Gaib dan doa kebaktian.

Warga menunjukkan foto dan identitas Ismani, Linmas yang meninggal saat bertugas.

Warga menunjukkan foto dan identitas Ismani, Linmas yang meninggal saat bertugas. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

”Salat atau doa kebaktian bisa disisipkan, sebelum atau sesudah salat atau kebaktian,” tandasnya. Amin berharap bantuan salat Gaib dan doa kebaktian menjadi wujud solidaritas Nasional yang saat ini sedang diuji selama tahapan pemilu. Solidaritas ini diperlukan untuk merekatkan ikatan kebangsaan dan Nasionalisme. ”Jangan karena pemilu, solidaritas Nasional ini hilang,” tambahnya.

Di Kota Mojokerto, seorang Petugas Linmas, Ismani, 55, warga Lingkungan Pekuncen Gang 3, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto meninggal saat mengantarkan kotak suara dari TPS 03 Surodinawan ke Kelurahan Surodinawan. Ismani sempat dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, tepat di depan kantor Kelurahan Surodinawan. Namun, ia sudah dinyatakan meninggal ketika tiba di UGD.

Selain bantuan salat Gaib dan doa, KPU Kota Mojokerto telah mengirim data petugas Linmas yang meninggal, maupun dua petugas KPPS yang sakit, dan dirawat di RS ke KPU RI. ”Kami tidak bisa membantu keluarga yang meninggal maupun sakit. Tapi, KPU RI saat ini sedang mengupayakan ada santunan. Kita doakan saja keluarga tetap tabah, dan santunan terealisasi,” kata Amin.

Sementara itu, saat ini KPU RI telah mengajukan pemberian santuan bagi jajaran penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia, sakit akibat kelelahan atau mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas. Sekjen KPU Arif Rahman Hakim menyatakan, KPU telah mengajukan nilai santunan Rp 36 juta per orang bagi keluarga yang ditinggalkan. Sedangkan KPPS yang sakit diusulkan mendapat santunan Rp 16 – 30 juta, bergantung tingkat keparahan sakit yang dialami.

Bila Kemenkeu dalam pekan ini bisa menerbitkan standar biayanya, pekan depan KPU dapat menerbitkan juknis pencairannya. ”Mudah-mudahan sepuluh hari ke depan bisa kami eksekusi,” paparnya kepada Jawa Pos. Sekadar diketahui, penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal di tingkat Nasional menembus 177 orang. Meliputi, jajaran KPU 144 orang, dan Bawaslu 33 orang.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia