Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Enam Petinggi Yayasan Permata Dipecat, Langsung Ajukan Gugatan

18 April 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ketua Pengurus Yayasan Cholid Firdaus (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan keterangan pers di Sekretariat PWI Mojokerto.

Ketua Pengurus Yayasan Cholid Firdaus (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan keterangan pers di Sekretariat PWI Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Yayasan Permata Mojokerto bergolak. Enam pengurus inti di yayasan ini mendadak dipecat. Pemecatan yang dinilai tak prosedural tersebut akan dilawan melalui meja hijau.

Keenam orang yang diberhentikan itu adalah Ketua Pengurus Yayasan Cholid Firdaus, Sekretaris Yayasan Suhendra, Bendahara Yayasan Sukamat, Wakil Bendahara Yayasan Odiek Prayitno, serta Pengawas Yayasan Permata Mojokerto Budi Rahayu dan Pramudya.

’’Bagi kami, pergantian kepengurusan itu wajar. Tapi, pemberhentian kali ini tidak prosedural,’’ ungkap Cholid Selasa (16/4). Selain masa kepengurusan yang masih separo, enam orang ini juga tak pernah menerima surat peringatan.

’’Padahal, surat peringatan pertama hingga pemecatan, ada proses yang cukup jauh,’’ tandas anggota DPRD Kota Mojokerto ini. Indikasi kesalahan prosedur dalam pemecatan ini juga cukup mencolok.

Cholid menerangkan, dari enam orang yang telah diberhentikan, hanya mendapatkan surat pemberitahuan pemecatan dari Dewan Pembina Yayasan, tertanggal 9 April 2019. Sedangkan, hingga kemarin SK pemberhentiannya belum diterima.

Pasca keluarnya surat pemberhentian enam orang itu, para pengurus dengan formasi baru, langsung bekerja. Dan langsung disosialisasikan ke 170 pegawai di lingkungan Yayasan Permata Mojokerto. Cholid mencium adanya unsur politis saat pemecatan dirinya.

Karena enam orang yang dipecat dari yayasan setelah bergabung dengan Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi). Ormas baru yang diinisiasi Anis Matta dan Fahri Hamzah. Yang cukup membuat enam orang ini kesal, proses penyampaian surat pemberitahuan tak mempertimbangkan etika dan norma kesopanan.

Semisal, surat pemberitahuan yang kini disimpan Sukamat. Surat itu diselipkan di jok motornya. Sedangkan, surat pemecatan Suhendro dititipkan di sebuah warung. Berbagai indikasi pelanggaran yang dilakukan Yayasan Permata Mojokerto, rencananya akan melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto Kamis (18/4).

’’Kami sudah mengantongi sejumlah data dan alat bukti. Dan, pemecatan terhadap enam orang ini melanggar konstitusi yayasan,’’ ungkap penasihat hukum, Edy Yusef, SH.

Terpisah, pembina Yayasan Permata Mojokerto Anwar Sidarta menegaskan, pemecatan kepengurusan di internal YPM bukan persoalan langkah. Namun, sudah menjadi rutinitas demi pembangunan pendidikan yang lebih baik.

Anwar membantah, jika pemecatan itu tak menyalahi AD/ART yayasan. Ada kewenangan yang mengaturnya. ’’Tidak ada yang tidak prosedural. Semua sesuai aturan,’’ paparnya. Perombakan yang dilakukan, justru dinilai sebagai langkah penyegaran kepengurusan.

’’Sekarang, lebih profesional. Banyak PNS-nya. Perombakan ini juga untuk menetralisir kepentingan politik,’’ paparnya. Perlu diketahui, YPM merupakan yayasan pendidikan elite di Kota Mojokerto.

Yayasan ini pendidikan tingkat Play Group, TK, SD hingga SMP. Berbasis ke-Islaman yang matang, sekolah ini menjadi idola sejumlah orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya. 

 

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia