Senin, 27 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Kaki Mengecil, Perut Membuncit, Nenek Tak Mampu Bawa ke Rumah Sakit

10 April 2019, 15: 39: 39 WIB | editor : Mochamad Chariris

Asmiatun mendampingi cucunya, Fajar, yang hari-harinya hanya bisa terbaring di tempat tidur rumahnya Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto.

Asmiatun mendampingi cucunya, Fajar, yang hari-harinya hanya bisa terbaring di tempat tidur rumahnya Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Malang nasib Ahmad Fajar, balita asal Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto ini. Di usianya yang masih 4 tahun, berat badannya hanya 5,5 kilogram (kg).

Tidak seperti berat badan balita pada umumnya. Belakangan, kondisi kesehatannya terus memburuk. Tubuhnya kaku seperti boneka. Semua persendihan Fajar tidak bisa digerakkan secara normal. ’’Yang bisa ditekuk hanya tangan dan kepala saja. Itupun leher harus disangga dengan tangan,’’ kata Asmiatun, 49, nenek Fajar saat ditemui radarmojokerto.id di rumahnya.

Terlihat, kedua kaki dan tangan Fajar hanya tinggal kulit dan tulang. Sedangkan jemaritangannya hanya bisa menggenggam. Dan perutnya membuncit. Selama ini, Fajar cuma bisa berbaring di ranjang. Tubuhnya tidak bisa bergerak, apalagi duduk.

Asmiatun  menjelaskan, kondisi Fajar mulai memburuk sejak ibunya, Yunita, meninggal dunia pada 2016 silam. Yunita meregang nyawa akibat menderita infeksi paru-paru. Saat itu, Fajar masih berusia 18 bulan. Fajar dan kakaknya, Galih, 12, kemudian dirawat Asmiatun.

Sementara ayah Fajar, Rifa’i, selama ini, memilih pulang ke rumah asalnya. ’’Sesekali paling ke sini sambang sambil memberi uang untuk keperluan membeli susu,’’ sesalnya. Asmiatun mengaku sebelum semua organ tubuh Fajar kaku, tak ada tanda-tanda yang aneh dialami Fajar.

’’Pokoknya tiba-tiba berat badannya terus menurun,’’ terangnya. Lima bulan lalu berat badan Fajar masih 9 kg. ’’Tapi, sekarang turun jadi 5,5 kilogram saja,’’ tandasnya.  Padahal, saat Yunita masih hidup, berat badan Fajar normal-normal saja. Ya, kondisi itu dibuktikan juga dengan foto kenangan yang dipajang di dinding rumah tamu Asmiatun.

Dalam framefoto itu, Fajar yang nampak digendong ibunya masih sehat. Persendihannya masih normal. Hanya saja, meski begitu, Fajar tak bisa menyangga lehernya sendiri. ’’Saat itu, usia Fajar masih 15 bulan,’’ cetusnya sembari menunjuk ke arah foto.

Asmiatun menceritakan, cucunya sudah mengalami perbedaan dalam pertumbuhannya sejak lahir. Saat dilahirkan, Fajar tidak bisa menangis, laiknya kelahiran bayi pada umumnya. Meski begitu, saat dilahirkan di RSUD dr Soetomo Surabaya, berat badannya normal 3,5 kilogram.

Namun, harus mendapatkan perawatan medis. Selama 19 hari, tubuhnya dimasukkan inkubator dan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. ’’Dulu, kata dokter katanya keracunan air ketuban. Dia (Fajar) juga sempat tak bernapas selama 5 menit,’’ kenangnya.

Menurutnya, sebelum melahirkan, air ketuban Yunita diketahui sudah dalam kondisi pecah. ’’Kata dokter, syarafnya ada yang terganggu,’’ imbuhnya. Nah setelah kondisinya sehat dan normal, Fajar pun diperbolahkan untuk pulang. Namun, seiring berjalannya waktu, kegembiraan itu berubah 180 derajat.

Itu setelah kondisi pertumbuhan dan kesehatan Fajar terus memburuk pasca ibunya meninggal. Mulutnya tak bisa mengunyah. Dan kini, Asmiatun hanya menyuapi Fajar dengan bubur atau susu formula. Karena kondisi perekonomiannya, Asmiatun belum penah sekalipun membawa Fajar berobat ke dokter.

Keterbatasan biaya membuatnya tak bisa berbuat banyak. Sebab, sang suami, Jumbadi, 54, hanya seorang buruh tani nyambi pemulung. Kondisi itu diperparah dengan kondisi Fajar yang sampai saat ini belum tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS).

’’Penghasilan kami hanya mengandalkan dari suami. Seminggu, rata-rata hanya Rp 400 ribu. Itupun cukup hanya buat makan saja,’’ bebernya. Atas kondisi itu, Asmiatun dan Jumbadi dirudung kebingungan. Tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi.

Meski begitu, ia berharap cucunya segera mendapat perawatan yang layak dan bisa kembali sehat seperti balita pada umumnya. ’’Paling yang ke sini hanya bidan desa. Itupun tiga kali. Hanya memberikan roti dan susu. Tidak rutin,’’ sesalnya Asmiatun.

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia