Selasa, 19 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Awal Kedatangan Nippon, Jepang di Mojokerto

Rayahan Jumat Legi, Siasat Kuasai Barang Asing

04 April 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Stasiun Mojokerto yang pernah menjadi sasaran aksi penjarahan pada masa pendudukan Jepang, 7 Maret 1942.

Stasiun Mojokerto yang pernah menjadi sasaran aksi penjarahan pada masa pendudukan Jepang, 7 Maret 1942. (Koleksi Ayuhanafiq for radarmojokerto.id)

Menyerahnya penjajah Belanda tidak lantas membuat warga bersuka cita. Sebab, tidak lama setelah tunduknya kolonial, pasukan Jepang mengambil alih menduduki Tanah Air.

Pada awal kedatangan pasukan tentara Nippon di Mojokerto, mereka memiliki siasat licik demi mendapatkan barang-barang kebutuhan. Rakyat disuruh menjarah barang milik asing yang ujung-ujungnya diminta kembali oleh Jepang. Peristiwa itu dikenal dengan Rayahan Jumat legi.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, Jepang menginjakkan kaki pertama kali di Mojokerto pada awal Maret 1942. Sebelumnya, tentara Nippon telah berhasil menguasai Kota Santri, Jombang setelah memenangkan pertempuran dengan Belanda di Kertosono. ”Saat itu, suasana di Mojokerto terlihat sibuk karena menanti giliran kedatangan Jepang,” terangnya.

Wajah Stasiun Mojokerto kini di Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto.

Wajah Stasiun Mojokerto kini di Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Tepat pada 6 Maret 1942, sejak pagi, pasukan serdadu Hindia Belanda atau KNIL di Mojokerto berkumpul di sejumlah titik. Salah satunya di Jalan Stasiun atau kini berganti nama menjadi Jalan Bhayangkara, Kota Mojokerto. Menurutnya, pasukan kolonial tersebut hendak meninggalkan Mojokerto menggunakan moda transportasi kereta api. Kepergian serdadu Belanda itu tak lain demi mengantisipasi serangan Jepang.

Terbukti, Kota Onde-Onde kemudian digemparkan dengan serangan udara oleh pesawat dari tentara Negeri Matahari Terbit. ”Pesawat menuju ke arah markas detasemen KNIL Mojokerto berada,” paparnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, meski sempat mendapat serangan senapan dari serdadu Belanda, namun upaya itu tak menghentikan pesawat Jepang. Beberapa tempat menjadi luluh lantak akibat menjadi sasaran bom dari udara.

Sementara di jalur darat, sejumlah truk militer dengan tanda bendera Hinomaru dilengkapi lingkaran merah di tengahnya merangsek masuk ke tengah kota. Yuhan memaparkan, di dalam truk tersebut terdapat personel Jepang. ”Tidak ada orang yang berani keluar dari  rumah. Hampir semua kediaman di kawasan elite Kota Mojokerto tertutup rapat,” paparnya.

Yuhan menjelaskan, ketika berhasil menginjakkan kaki di Mojokerto, serdadu Jepang kemudian menghampiri sejumlah rumah untuk mendata penghuninya. Saat matahari terbenam, Kota Mojokerto telah sepenuhnya jatuh di bawah kendali tentara Jepang.

Menurutnya, saat itu, Jepang hendak bermalam di Mojokerto untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Surabaya. Beberapa serdadu memilih bersiaga di pelataran rumah warga. Tidak sedikit pula yang memaksa menginap di dalam rumah. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, saat menduduki Kota Onde-Onde, Jepang membebaskan rakyat untuk menjarah barang milik asing.

Kala itu, kota kecil bentukan pemerintah Hindia-Belanda memang banyak warga asing yang tinggal. Baik dari warga Eropa maupun Asia. Perintah yang dikeluarkan serdadu Nippon itu pun segera menyebar luas. Hingga akhirnya, suasana Kota Mojokerto terlihat kacau karena terjadi penjarahan besar-besaran pada hari berikutnya, 7 Maret 1942.

”Karena perintah menjarah itu dikeluarkan pada hari Jumat Legi (kalender Jawa), maka peristiwa itu dinamakan Rayahan Jumat Legi,” tandasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia