Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Peringati Hari Teater Sedunia, Seniman Berendam di Kubungan Lumpur

02 April 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Aksi panggung pertunjukan teater di area Jembatan Rejoto oleh pegiat teater Mojokerto.

Aksi panggung pertunjukan teater di area Jembatan Rejoto oleh pegiat teater Mojokerto.

Para pegiat teater Mojokerto menggelar pentas dalam rangka memperingati World Theatre Day atau Hari Teater Sedunia. Dengan konsep panggung yang sederhana, mereka berharap bisa menunjukkan eksistensi dunia seni peran melalui teater.

SEBIDANG tanah di bawah Jembatan Rejoto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto itu, disulap menjadi panggung pentas oleh kelompok pegiat teater di Mojokerto Sabtu (30/3) lalu. Di bantaran Sungai Kotok itu nampak berdiri sejumlah orang-orangan sawah. Patung yang terbuat dari dadhuk (daun tebu kering) itu lengkap dengan aksesoris topi petani dan bersarung motif khas Bali.

Di sekelilingnya terdapat janur (daun kepala muda) yang telah dihias sedemikian rupa. Beberapa dupa yang menyala mengeluarkan aroma yang menambah suasana mistis semakin terasa. Beberapa karya rock balancing atau susunan batu membuat panggung semakin menambah cita rasa seni.

Yang mencuri perhatian adalah tiga sosok yang bergeliat di dalam kubangan lumpur. Mereka adalah Kukun Triyoga, Bagus Mahayasa, dan Firda seolah menari mengikuti iringan musik perpaduan gitar, seruling bambu, jimbe, hingga biola itu. Dengan telanjang dada, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut tertutup tanah berwarna cokelat.

”Kaya Hartamu

Tinggi Pangkatmu

Mulya Kedudukanmu

Pengaruh Sifatmu

Kita Pasti Akan Kembali Kepada Tanah

Tanah Adalah Ibunda Kita”

Begitulah kutipan bait yang dibawakan Kukun dalam pagelaran puisi yang dan teater yang mengusung tema tanah, cinta, dan kematian dalam peringatan Hari Teater Sedunia 2019. Melalui puisi dan tiap gerakan yang diperankan ketiga aktor teater itu menyiratkan sebuah pesan tertentu.

’’Mengingatkan orang di dunia agar tidak sombong. Toh kita diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah juga,’’ ungkap Kukun. Pentas pusi dan teater tersebut diprakarsai oleh sanggar sangar Teater Lidhie Art Forum (LAF) Indonesia dan komunitas Persada.

Aksi panggung mereka pun mencuri perhatian warga yang kebetulan melintas di jembatan penghubung antara Kelurahan Pulorejo dan Blooto itu. Ketua Komunitas Persada ini, menambahkan, selain untuk menyambut Hari Teater, pentas yang digelar tersebut juga sebagai wujud eksistensi teater di Mojokerto.

Menurutnya, saat ini keberadaan teater semakin tahun kian meredup. Untuk itu, pentas kali ini diharapkan bisa menggugah kembali insan teater untuk unjuk gigi.

Terlebih, untuk tampil melakukan aksi panggung, tidak harus membutuhkan dana yang besar. Melainkan bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar. ’’Pentas kesenian tidak perlu ribet. Bisa kita lakukan di mana pun dan meng-eksplore apa yang ada di sekitar,’’ paparnya.

Bagus Mahayasa, dalam peringatan Hari Teater Sedunia tahun ini, mereka juga berharap dunia perteateran baik di Kota maupun Kabupaten Mojokerto bisa lebih hidup kembali. Oleh karena itu, dengan pentas puisi dan teater yang digelar tersebut mampu membawa stimulus tersendiri untuk eksistensi kesenian di Mojokerto.

’’Semoga dengan adanya pergelaran ini, kesenian yang ada di Mojokerto semakin berkembang,’’ imbuhnya. Pria yang akrab disapa Gondrong ini juga berharap pola pikir masyarakat tetang kesenian bisa lebih luas. Karena seni tidak hanya sekadar d melalui musik, melukis, maupun olah suara. Melainkan juga seni peran. ’’Kesenian itu bermacam-macam bentuk dan beragam,’’ pungkas penasehat sanggar LAF Indonesia ini.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia