Senin, 20 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Tulis Novel "Aku Masih Belum Merdeka", Hakam Terinspirasi Gus Dur

29 Maret 2019, 21: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ahmad Hakam Al Faqih dalam launching novel karyanya di Kediri

Ahmad Hakam Al Faqih dalam launching novel karyanya di Kediri (Hakam for radarmojokerto.id)

Berita Terkait

Menjadi santri milenial tidak menjadi penghalang bagi Ahmad Hakam Al Faqih untuk tetap berkarya. Bahkan, di tengah aktivitas nyantri, pemuda asal Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini mampu menyuguhkan karya tulis berupa novel.

Apa aku adalah seorang budak, Mas Bram?

Tidak, Lisa! Kau adalah putri bapak-ibumu.

Kau adalah hal yang berharga bagi orang tuamu, Lisa.

Tidak, Mas Bram! Aku adalah benar-benar budak! Kalau aku bukan budak, kenapa aku tidak boleh memiliki harapan dan cita-cita sendiri? Jawab Lisa dengan wajah yang basah dengan air mata. Isak tangisnya pun sudah tak beraturan. Menandakan rasa sakit yang luar biasa.

Ia merasa tak berharga sekali di mata orang tuanya. Ia merasa kebahagiaannya dan kejelitaannya sebagai wanita dijual demi mendapatkan kekayaan untuk memperlancar visi-misi orang tuanya. Memang sungguh ironi. Tapi, begitulah kenyataannya.

Rumah yang berada di pojok gang buntu itu sepertinya belum merdeka. Meski rumahnya berada di tengah-tengah negara yang merdeka. Padahal, bentuk rumahnya pun lumayan megah dan dikelilingi perekonomian yang cukup. Tapi, Bram mengira seperti itu ketika dia melihat Felisa yang gelisah dan murung, di balik gemerlap kemewahan ia tak gembira. Itu sangat aneh.

Begitulah sedikit sinopsis Novel berjudul Aku Masih Belum Merdeka, karya Ahmad Hakam Al Faqih, mahasiswa asal Mojokerto ini. ’’Karena sudah banyak ustad yang pinter ndalil, akhirnya saya buat novel dan puisi saja,’’ celetuk Hakam, sapaan akrab Ahmad Hakam Al Faqih, mengawali perbincangan dengan Jawa Pos radar Mojokerto.

Saat ditemui JPRM, pria kelahiran 1993 terlihat begitu akrab. Sesekali candaan juga muncul dalam perbincangan ini. ’’Biar diakui santrinya Gus Mus,’’ tandasnya seraya tertawa. Kata dia, penulisan novel ini termotivasi dari pernyataan KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur.

Yakni, Bentuk Negara Madani Itu Ketika Semua Saling Kritik dengan Karyanya Masing-Masing. Pernyatan Presiden keempat itu juga tertulis dalam buku kosmopolitan. Disebutnya, saling kritik dengan karyanya masing-masing ini maksudnya, jika tidak sepaham dengan tulisan seseorang, dirinya menyatakan ketidakterimaan itu harusnya diekspresikan dengan karya tulisan.

Tidak dengan orasi atau bahkan menggerakkan massa ke jalan. ’’Nah, hal itu saya ekspresikan salah satunya dengan bentuk novel berjudul Aku Masih Belum Merdeka,’’ terangnya. Meski Indonesia ini negara demokrasi, dengan prinsip itu, setidaknya dia beranggapan suatu permasalahan tidak harus diselesaikan dengan banyak orang dan mengundang massa untuk turun ke jalan.

Artinya, semua persolan bisa diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat. ’’Berawal dari situ, saya berusaha menganalogikan ke dalam sebuah novel,’’ tandasnya. Aan begitu biasa Ahmad Hakam Al Faqih disapa mengaku tidak mudah dalam menyusun novel setebal 105 halaman tersebut.

Namun, dengan ketelatenan, selama delapan bulan karya pertama itu pun membuahkan hasil. Penyusunan novel itu dilakukannya di tengah kesibukannya sebagai santri di PP Manahsari, Bandar Kidul, Kediri. Pesantren ini diasuh KH Hamid bin Abdul Kodir Munawir. ’’Di sela-sela waktu longgar, aku nulis sambil ngopi. Daripada nggak produktif,’’ tegas Aan.

Aan menyebut, miniatur sederhana dari suatu negara adalah keluarga. Sehingga, jika dilihat dari situ, dalam sistem keluarga sudah pasti terdapat aturan bagaimana menjadi keluarga. Sama dengan negara juga sudah aturan bagaimana Indonesia menjadi negara yang sejahtera. Sehingga dalam Novel tersebut, dia menuliskan tentang kehidupan satu keluarga.

Bahasa yang dilampirkan juga memberikan gambaran akan keadaan dan semangat pemuda-pemudi Indonesia dari sudut pandang masyarakat. Khususnya kalangan milenial di era digital saat ini. ’’Di zaman digital menulis itu sebuah solusi. Atau santri milenial itu harus berkarya dan produktif,’’ tandas anak ketiga pasangan Moch. Bahri dan Istatik Rodliyah itu.

Dengan cetak awal 350 eksemplar, kini karyanya sudah beredar luas di berbagai kota. Seperti Jogjakarta, Semarang, dan Kediri. Tak hanya itu, karya yang dimulainya sejak 2016 silam itu, tak membuatnya puas begitu saja.

Bulan ini dia juga mulai mencetak buku kumpulan karya puisi pesantren yang dibuatnya di sela nyantri. Setelah sebelumnya juga mendapat koreksi. Termasuk dari Sapardi Djoko Damono yang kini patut dijadikan panutan di kancah literasi Indonesia.

’’Dan Alhamdulillah, ternyata sekarang sudah mulai di cetak naskah dengan 80 karya puisi itu saya kirimkan baru dua hari yang lalu,’’ paparnya. Karya yang dihasilkan ini tak lain untuk menumbuhkan minat literasi. Agar terbiasa menjadikan kegiatan membaca buku sebagai salah satu kebutuhan. (ori)

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia