Minggu, 19 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Features

Begitu Digigit, Rasa Onde-Onde Toping Seketika Bikin Lidah Manja

27 Maret 2019, 17: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Adinda Yudhasari menunjukkan onde-onde dengan toping berwarna-warni hasil kreasinya.

Adinda Yudhasari menunjukkan onde-onde dengan toping berwarna-warni hasil kreasinya. (Farisma Romawan/radarmojokerto.id)

Ada banyak cara dalam memopulerkan kembali jajanan lawas menjadi makanan hits di masa sekarang. Termasuk onde-onde sebagai jajanan asli khas Mojokerto.

Hal ini yang mendorong Adinda Yudhasari untuk terus berkreasi menciptakan onde-onde kekinian. Lumer dengan variasi toping.

SUDAH bukan rahasia umum jika onde-onde adalah jajanan asli khas Mojokerto sejak zaman dulu. Bentuk dan rasanya masih sama. Bulat, kenyal dengan balutan butiran wijen yang menempel di hampir semua lapisan kulit.

Pun demikian pula dengan rasa dan isinya. Berupa kacang hijau yang dihaluskan lalu ditambahkan rasa manis yang menggigit. Akan tetapi, bentuk dan rasa itu mulai berubah seiringnya waktu dan budaya. Di mana, orang akan bosan menikmati jajanan yang rasanya itu-itu saja.

Sehingga butuh kreasi dan variasi lain demi mempertahankan onde-onde sebagai jajanan khas yang tak lekang zaman. Termasuk onde-onde lumer yang tercipta dari tangan Adinda Yudhasari, 21, warga Dusun/Desa Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Onde-onde buatannya tak lagi hanya berwarna cokelat seperti pada umumnya.Tapi, justru berwarna-warni dengan isi dan rasa yang berbeda pula. Mulai dari rasa cokelat, stroberi (merah) hingga alpukat (hijau).

Pun demikian dengan tekstur isinya yang tak lagi bulat dan halus. Namun, justru lumer atau cair. Ya, onde-onde ala Adinda memang lain dari yang lain. Di mana, isinya tidak lagi menggunakan kacang hijau, melainkan toping dengan varian rasa dan warna. Begitu digigit, rasa legitnya seketika bikin lidah manja.

Kreasi onde-onde miliknya itu sudah ia ciptakan sejak tahun 2016 lalu.  Ketika itu dirinya mulai mencoba mengeluti usaha jajanan. ’’Berawal dari coba-coba, kemudian hasilnya dirasa enak. Akhirnya keterusan sampai sekarang,’’ tutur putri dari pasangan Yudi Supatmi dan Hainun itu.

Namun, butuh waktu tiga bulan bagi Dinda untuk bisa menyempurnakan usaha onde-onde topingnya. Banyak tantangan di awal-awal merintis usahanya. Mulai dari proses produksi, pemasaran, hingga bisa meraup keuntungan. ’’Karena isinya toping, jadi kulit luarnya harus kuat dan tidak bocor saat digoreng,’’ tambahnya.

Untuk pemasaran, ia memulainya dari tempatnya menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Jombang. Dari situ, ternyata banyak peminatnya. Khususnya kalangan muda-mudi yang penasaran dengan bentuk dan warnanya yang menarik.

’’Pertama saya jual ke teman-teman di kampus. Lalu beralih ke metode online. Awalnya, saya antar sendiri sampai ke Ngoro atau Jombang, meski hanya order satu kotak. Tetap saya antar sendiri. Sempat break beberapa bulan, kemudian lanjut kembali mulai tahun 2017 sampai sekarang,’’ ujarnya.

Meski berawal dari coba-coba, peminat onde-onde lumer kini mulai membludak. Bahkan, ia sempat kewalahan dalam melayani pesanan. Dalam sehari, setidaknya ada 30 sampai 50 kotak pesanan onde-onde bisa ia jual dengan harga Rp 16 ribu per kotak.  Metode pemasarannya sama, online yang ia sebar lewat akun media sosial (medsos).

’’Satu pak berisi 8 biji cokelat luber dengan empat varian. Namun, sekarang saya sudah punya kurir yang siap mengantarkan pesanan,’’ imbuhnya. Tidak hanya lewat medsos, Dinda juga mulai melirik wisata budaya di Trowulan sebagai pangsa pasarnya.

Di mana, dalam waktu dekat akan membuka gerai atau kios yang ia pasang di beberapa sudut lokasi wisata, baik wisata candi, Museum, makam religi, hingga Mahavihara dalam kompleks patung Buddha Tidur. Dari situ, ia berharap, onde-onde buatannya bisa menjadi jajanan atau oleh-oleh khas Mojokerto, khususnya Trowulan.

Yang tidak hanya terkenal akan wisata budayanya, tapi juga kulinernya. ’’Secara geografis, rumah saya sudah menunjukkan pasar wisata. Jadi, cukup untuk memasarkan ke pengunjung. Khususnya yang berasal dari luar daerah,’’ pungkasnya.

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia