Jumat, 06 Dec 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
Polemik Doktrin Kiamat Sudah Dekat (1)

Kiai Abdul Adzim: Kapan Terjadi Kiamat, Hanya Allah yang Tahu

17 Maret 2019, 19: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ketua PC NU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alawy

Ketua PC NU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alawy (farisma romawan/radarmojokerto.id)

Baru-baru ini beberapa warga Kabupaten Mojokerto menjual harta bendanya. Rumah, sepeda motor, perabotan rumah tangga hingga membuka celengan. Hasilnya dimanfaatkan sebagai operasional menuju sebuah pesantren di wilayah Kasembon, Kabupaten Mojokerto.

Mereka juga mengajak istri dan anak-anaknya bergabung. Kiamat sudah dekat dikabarkan menjadi pandangan mereka harus meninggalkan keluarga di kampung halaman. Seperti apa penilaian NU dan Muhammadiyah?

KETUA PC NU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alawy menyayangkan adanya sejumlah warga kabupaten yang menjual semua hartanya demi berpindah ke sebuah pesantren di wilayah Kasembon, Kabupaten Malang. Apalagi dengan dalil kiamat sudah dekat. Ia juga menilai ajaran tersebut juga tidak tepat.

”Dalam Islam percaya kepada tanda-tanda kiamat itu ada dan benar. Kalau kapan terjadi kiamat, itu kan hanya Allah yang tahu. Dan sampai menjual hartanya dan pindah, ya tidak tepat,’’ katanya ditemui di Kantor PC NU Kabupaten Mojokerto, Sabtu (16/3). Kiai Adzim menjelaskan, secara pribadi, ia telah mengetahui adanya beberapa warga yang berpindah ke Kabupaten Malang dengan mengajak keluarganya.

Bahkan, latar belakang aktivitasnya peribadatan keseharian selama di kampung halaman juga tidak menunjukkan adanya kecurigaan apa pun. ”Namun, mereka itu tidak pernah kumpul (bersosialisasi) dengan kami (warga NU, Red),’’ bebernya. Tidak hanya itu, Kiai Adzim menilai beberapa warga tersebut diduga korban pencucian otak atau doktrinasi dari pihak-pihak tertentu.

”Percaya pada tanda-tanda kiamat itu benar, namun salahnya mereka beralasan waktu kiamat akan datang. Salahnya lagi, kalau memang akan terjadi kiamat, di manapun tempatnya pindah, ya pasti kiamat. Tidak harus pindah tempat. Itu hasil dari doktrinan,’’ jelasnya.

Meski demikian Kiai Adzim enggan menyebut ajaran yang diterima oleh beberapa warga tersebut adalah sesat. Hanya saja, pengetahuan agama dan ajaran Islam yang minim akan mudah terdoktrin oleh kelompok-kelompok lain. Kiai Adzim menyebutkan, fenomena ini termasuk hal yang unik. Pasalnya, untuk nama thoriqohnya sendiri, Thoriqoh Muso, Kiai Adzim mengaku baru mendengar. ”Mungkin saja mereka hanya ingin terkenal,’’ ujarnya.

Oleh karena itu, Kiai Adzim menginginkan, agar warga muslim, khususnya warga Nahdliyin di Kabupaten Mojokerto waspada dan hati-hati, jangan sampai terjerumus dengan ajaran serupa. Lebih-lebih menjual rumah, harta benda hingga harus berpindah dan meninggalkan keluarga. ”Mari kita mengikuti ajaran yang benar, dan tidak nyeleneh seperti itu. Ikut ajaran yang wajar-wajar sajalah,’’ tandasnya.

Sekadar diketahui, sejumlah keluarga di Kabupaten Mojokerto menjual semua hartanya lalu berpindah ke sebuah pesantren di wilayah Kasembon, Kabupaten Malang. Salah satunya adalah keluarga Zainuddin, warga Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko. Ia meninggalkan rumah dengan membawa istrinya, Hanik Masruroh, 40, dan keempat anaknya pada akhir Februari lalu.

Tidak hanya itu, Zainuddin juga mengajak sejumlah santri atau pengikutnya. Yakni, pasutri Khurotul Aini, 23, dan Risky, 25, warga Dusun/Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojoketo. Keduanya berangkat pada Kamis (7/3) mengikuti Jamaah Thoriqoh Muso dari sebuah pesantren di Malang. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia