Selasa, 16 Jul 2019
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Petani dan Hasil Panen Mereka Kini

17 Maret 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petani di Kabupaten Mojokerto menunjukkan hasil panen padi.

Petani di Kabupaten Mojokerto menunjukkan hasil panen padi. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

PERTENGAHAN bulan Maret bersamaan bulan Rajab dalam kalender Hijriyah, merupakan masa panen raya tahap pertama bagi petani padi. Mata Lensa kali ini merekam aktivitas produksi pangan di beberapa wilayah di Kabupaten Mojokerto. Di antaranya di Kecamatan Mojoanyar, Jetis, dan Dawarblandong.

Pagi-pagi sekali para petani sudah berada di ladang dan areal persawahan mereka. Dengan hati-hati, mereka kemudian memotong batang padi yang nantinya akan dimasukkan dalam mesin penggiling gabah atau prontok. Bulir gabah padi lalu terpisah dari tangkainya.

Gabah kemudian dijemur di halaman rumah-rumah penduduk. Salah satunya nampak di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis. Asmuin, petani setempat, mengatakan, harga gabah tahun ini anjlok dari masa panen tahun lalu. Tahun lalu, harga jual gabah mampu menembus angka Rp 5.500 per kg. Namun, tahun ini hanya Rp 4.300 per kg.

Jika dihitung nilai yang didapat tersebut tak sebanding dengan biaya tanam dan perawatan. Memang, di kawasan Jetis dan Dawarblandong mereka terbantu dengan pendapatan panen holtikultura. Seperti cabai, jagung, dan kacang. ”Meski harganya juga sama-sama anjlok,” kata Asmuin.

Sedangkan di Mojoanyar petani memilih menjual hasil tanam padi kepada tengkulak dengan sistem tebas. Artinya, biaya tenaga panen dibebankan pada tengkulak. ”Lebih praktis, meski untungnya juga tak seberapa.” ujar Rofiah, salah satu pemilik lahan. Mereka berharap agar pemerintah segera turun tangan dan membuat standar harga gabah lebih tinggi melalui harga pembelian pemerintah (HPP).

Selain itu, tentunya dengan mengurangi impor beras. Petani optimistis dengan luas lahan dan sistem pertanian yang modern saat ini, Indonesia mampu swasembada pangan. Dengan demikian akan mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri.

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia