Minggu, 18 Aug 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Kerajinan Bedug di Jeruk Seger, Kec. Gedeg

Suara Kulit Sapi Nyaring, Kulit Kerbau Rendah tapi Kuat

17 Maret 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang pekerja membuat bagian badan bedug di rumah Zainal Arifin di Jeruk Seger, Kec. Gedeg.

Seorang pekerja membuat bagian badan bedug di rumah Zainal Arifin di Jeruk Seger, Kec. Gedeg. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

Bedug menjadi salah satu ciri khas masjid di nusantara. Para perajin alat penanda waktu salat ini bertebaran di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya di Dusun/Desa Jeruk Seger, Kecamatan Gedeg.

BUNYI alat perata permukaan kayu meraung-raung di halaman depan rumah Zainal Arifin, kemarin siang. Seorang tukang tampak meratakan permukaan badan bedug setengah jadi. Itu menjadi salah satu proses penting tahapan pembuatan bedug.

’’Itu menghaluskan permukaan kayu yang menjadi badan bedug,’’ ungkap Zainal Arifin, pemilik bengkel kerajinan bedug di Dusun/Desa Jeruk Seger, ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto. Tahapan penghalusan itu dilalui setelah badan bedug sudah terbentuk. Sekitar puluhan bilah kayu yang dimekarkan disusun melingkar.

Beberapa bedug setengah jadi tampak ditaruh pula di halaman. Zainal mengaku terus membuat bedug kendati belum ada pesanan. Ukuran bedug bervariasi, mulai yang 50 sentimeter hingga 1,5 meter. Bedug berukuran kecil ditaruh teras rumah, tampak telah dilengkapi kulit.

Menjelang Ramadan yang diperkirakan tinggal sebulan lagi ini, biasanya ditandai dengan banyaknya pesanan. Meski begitu, Zainal mengaku belum banyak orang yang pesan. ’’Sejauh ini pemasaran masih getok tular. Kalau online belum banyak,’’ tukas pria 46 tahun ini.

Dia menekuni usaha pembuatan bedug ini sejak beberapa tahun silam. Profesi utamanya seorang guru bahasa Inggris di SMPN 1 Gedeg Kabupaten Mojokerto. ’’Setelah belajar sana-sini membuat bedug ini prospeknya menjanjikan,’’ sambung dia.

Untuk membuat bedug memang butuh keahlian. Zainal dibantu seorang tukang bedug yang membuat tiap hari. Proses pembuatannya dimulai penggergajian bahan berupa kayu pilihan. Biasanya, kayu nangka digunakan. Karena kerap dipercaya menghasilkan suara yang lebih nyaring.

Meski begitu, banyak pula pemesan yang meminta menggunakan jenis kayu lain. Itu seperti konsumen asal daerah Bojonegoro dan Lamongan. Kayu yang diminta itu jati. ’’Pada dasarnya semua kayu bisa digunakan. Tapi, kalau jati itu lebih kuat dan tahan lama,’’ tukas pria lulusan IKIP Malang ini.

Setelah pemotongan kayu, dilanjutkan pemekaran kayu. Ada cara sedemikian rupa sehingga kayu jika nanti diaplikasikan sebagai badan bedug tak sampai patah. Lalu, dilanjutkan pemasangan bilah kayu. Proses ini dilakukan dengan hati-hati.

Bedug setengah jadi berupa tabung yang belum dilengkapi tutup kedua sisinya. Bentuk badan bedug bikinan Zainal terbilang khas. Yakni memiliki gembung pada bagian tengahnya. ’’Sebenarnya tiap perajin punya ciri sendiri. Kalau saya, ada gembung di tengah. Ini agar resonani suaranya menggelegar,’’ sebut pria tinggi kurus ini.

Untuk pemasangan kulit sebagai penutup kedua sisi tabung bedug, digunakan bahan pilihan pula. Yang populer digunakan adalah kulit sapi atau kerbau. Keduanya punya keunggulan dan kelemahan sendiri. Kalau kulit sapi, suara bedug yang dihasilkan lebih nyaring. Jika kulit kerbau, suara lebih rendah tapi lebih kuat dan tahan lama.

Pemasangan kulit pada penutup kedua sisi bedug dilakukan dengan menarik kulit. Paling tidak kulit diolor mulai 10 hingga 15 sentimeter. ’’Kalau kulit bisa dimolorkan seperti itu, resonansi suara baru keluar dan bagus,’’ sebut Zainal.

Diakuinya, bedug bikinannya masih melintasi pasar Jawa Timur. Dengan sistem getok tular, dirinya turut dibantu sales. Meski begitu, dirinya mengaku bakal memasarkan lewat online pula. Ini agar jangkauan pemasaran lebih luas lagi.

’’Prospeknya menjanjikan. Sesuai apa yang dibilang Alm KH Hasyim Muzadi. Masjid di Indonesia itu ada 1 juta. Nah, ini terus berkembang. Dari situ, kebutuhan akan bedug muncul,’’ bebernya.

Usaha kerajinan bedug ini terbilang memakan modal besar. Dengan variasi harga jual mulai Rp 5 juta hingga Rp 75 juta, menjadikan modal produksi cukup tinggi. Yakni untuk beli bahan, pemrosesan, ongkos tukang, hingga distribusi. Satu set komplit bedug berisi bedug, jagrak, hingga kentongan.

Selain memproduksi bedug, dirinya juga memproduksi mebel. Ini agar produksi di tempatnya tetap terus berjalan. Keduanya tetap bisa dilakukan di segala musim. Baik kemarau maupun penghujan bsia diproduksi. ’’Proses pengovenan bisa dilakukan dengan pembungkusan bedug yang di bawahnya dikasih bara,’’ tukasnya.

Ke depan, dirinya tetap terus produksi bedug. Hanya saja, ia ingin membuat roadshow bedug. Dengan menyajikan kesenian tetabuhan, bedug jidor, dan lain-lain sebagai media promosi. ’’Selain produksi bedug, reparasi, dan persewaan bedug juga dilayani,’’ pungkasnya. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia