Jumat, 20 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Keluarga Jemput Aini-Risky di Malang, Malah Diajak Bergabung

16 Maret 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ninik Suwarni menunjukkan foto resepsi pernikahan Khurotul Aini dan Risky.

Ninik Suwarni menunjukkan foto resepsi pernikahan Khurotul Aini dan Risky. (Khudori Aliandu/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Tidak hanya mengajak keluarga. Zainuddin juga mengajak sejumlah santri atau pengikutnya. Adalah pasutri Khurotul Aini, 23, dan Risky, 25, warga Dusun/Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojoketo.

Keduanya berangkat pada Kamis (7/3) mengikuti Jemaah Thoriqoh Muso dari sebuah pesantren di Malang. Keberangkatan itu dibenarkaan ibu Khoirotul Aini, Ninik Suwarni, 69, saat ditemui di rumahnya.

’’Rombongannya sekitar 6 sampai 8 orang kalau dari Mojokerto,’’ ujarnya. Sejumlah orang tersebut diketahui berasal dari Dusun Jetis, Desa/Kecamatan Jatirejo, dan Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Ninik menjelaskan, sebelumnya tak ada yang aneh pada Aini dan suaminya.

Keduanya terlihat seperti biasa. Bahkan, saatmelaksanakan salat mereka selalu berjamaah di musala tak jauh dari rumah. Kendati begitu, ia tak menampik jika setiap minggunya keduanya sering mengikuti kajian rutin. Yakni, pada Selasa dan Rabu di Desa Gemekan, tak lain adalah desa asal Zainuddin. ’’Tapi, saya kurang tahu bersama siapa dan alirannya apa,’’ tegasnya.

Berbeda dengan Zainuddin. Sebelum berangkat, Aini dan Risky izin kepada keluarga. Secara terang-terangan mereka berpamitan akan berangkat ke ponpes untuk mengaji puasa bulan rajab di Malang. Katanya akan kiamat,’’ tegasnya.

Namun, anehnya, lanjut Ninik, sebelum berangkat terlebih dulu mereka menjual semua aset berharga. Seperti sepeda motor, kipas angin, hingga memecah celengan. Sebenarnya, keberangkatan mereka sudah dicegah oleh keluarga. Namun, tetap saja tak mengurungkan niat Aini dan Risky.

’’Saya dan keluarga dari pihak suami anak saya juga sempat ke sana (Malang) menjemput, namun gagal. Keduanya tetap keukeuh bertahan di sana. Bahkan, saya malah diajak (bergabung),’’ terang Ninik.Mereka berangkat ke Malang dengan membawa uang sekitar Rp 8 juta. Uang itu dalihnya dibuat bekal saat berada di pesantren.

’’Memang sangat aneh. Bilangnya mondok, kok malah jual-jual semua barang,’’ kesalnya. Kini dia hanya bisa pasrah dan meratapi kepergian anaknya lantaran doktrin kiamat sudah dekat itu. ’’Yang jelas, keluarga sempat mencegah agar tidak berangkat,’’ tambah Zainul Arifin, kakak kandung Aini. 

(mj/ori/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia