Selasa, 12 Nov 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Jejak Pabrik Gula di Mojokerto, Belasan Lenyap, Tersisa Gempolkrep

14 Maret 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jembatan yang merupakan akses menuju PG Gempolkrep, Gedeg, Mojokerto.

Jembatan yang merupakan akses menuju PG Gempolkrep, Gedeg, Mojokerto. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

Pada abad Ke-19, Mojokerto menjadi salah satu wilayah dengan produksi gula terbesar di Jawa. Betapa tidak, pada masa kolonial itu, terdapat belasan industri gula yang berdiri di Mojokerto.

Namun,sebagaian besar telah hilang tak berbekas. Satu-satunya yang masih tersisa dan tetap produktif hingga saat ini adalah pabrik gula Gempolkrep.

SEJARAWAN Ayuhanafiq, menceritakan, keberadaan pabrik gula (PG) atau suiker fabriek (SF) pertama di Mojokerto diawali dengan berdirinya SF Sentanen Lor, Kota Mojokerto pada tahun 1834.

Sejak saat itu, industri gula di Mojokerto semakin berkembang pesat. Pasalnya, secara beruntun disusul berdirinya PG baru yang tersebar daerah lainnya. Setidaknya, hingga akhir abad Ke-19, tercatat ada 12 PG yang berdiri di wilayah Mojokerto.

’’Salah satunya PG Gempolkrep yang menjadi pabrik gula terbesar di Mojokerto saat itu,’’ terangnya. Pabrik yang berada di Kecamatan Gedeg itu dibangun pada masa tanam paksa tahun 1845. Ketika sistem tanam paksa dihapuskan dan diganti dengan sistem pasar bebas tahun 1870-an, hal itu memberi peluang pada pengusaha swasta menamakan modalnya.

Taipan asal Belanda, Gerrit Eschauzier adalah orang yang mengajukan diri untuk mengelola PG Gempolkrep dan mengantongi izin kontrak berjangka 25 tahun. Dia menjelaskan, selama dinakhodai Eschauzier, PG Gempolkrep mampu menghasilkan produksi gula yang cukup besar.

Bahkan, memasuki abad Ke-20, hasil produksi di PG Gempolkrep mencatat yang paling tinggi di antara pabrik gula lainnya. Katua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menyatakan, hasil produksi diangkut menggunakan moda kereta api (KA).

Jalur KA tersebut dibuat  membentang dari Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang hingga Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. ’’Jalur tersebut untuk melayani tiga pabrik gula sekaligus,’’ ujarnya.

Selain PG Gempolkrep, juga mengangkut produksi dari PG Perning dan PG Balongbendo. Akan tetapi kejayaan itu tidak berlangsung lama. Berkecamuknya perang dunia kedua, produktivitas PG di Mojokerto turut terdampak.

Pasalnya, pihak perusahaan meminta semua pegawai untuk menjadi tenaga sukarela dalam menghadapi kemungkinan peperangan. Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menceritakan, pada Mei 1940 para pekerja dilatih untuk membongkar instalasi pabrik.

Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi agar industri tidak jatuh ke tangan musuh. ’’Namun, upaya itu gagal terlaksana lantaran Hindia Belanda menyerah sebelum dilakukan pembongkaran,’’ tandasnya.

Dengan demikian, PG Gempolkrep tetap berdiri utuh. Pasukan Jepang kemudian mengambil alih pabrik dan meminta tawanan Eropa untuk menjalankan aktivitas produksi. Hasilnya digunakan untuk kebutuhan pangan para prajurit Nipon.

Setelah Jepang tunduk, PG Gempolkrep dijadikan markas tentara pejuang. Pabrik di utara Sungai Brantas itu sempat dijadikan asrama dari anggota Laskar Hizbullah Mojokerto dan kesatuan pejuang lainnya. Namun, pada 24 Maret 1947, Belanda kembali merebut pabrik tersebut.

Kendati demikian, PG Gempolkrep bernasib lebih baik dibandingkan pabrik gula lainnya di Mojokerto. Sebab, bangunan fisik maupun mesin produksi tetap utuh karena tidak sempat dibumi hanguskan.

Yuhan memaparkan, saat penyerahan kemerdekaan, hanya ada tiga pabrik gula yang kondisinya baik. Selain PG Gempolkrep, ada juga PG Bangsal dan PG Brangkal. Namun, hanya PG Gempolkrep yang tetap bisa menjalankan produksinya. ’’Maka, hanya PG Gempolkrep yang tersisa dari 12 pabrik yang pernah ada hingga kini,’’ paparnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia