Sabtu, 21 Sep 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Nasib Nasabah BRI, Rp 67 Juta Hasil Jual Tiga Sapi Tersisa Rp 2 Juta

12 Maret 2019, 17: 31: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Suhartoyo menunjukkan rekening tabungan BRI miliknya yang terkuras.

Suhartoyo menunjukkan rekening tabungan BRI miliknya yang terkuras. (Imron Arlado/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO - Menyimpan uang di rekening bank, barangkali sudah menjadi pilihan Suhartoyo. Namun, duda sebatangkara yang tinggal di Dusun Ngepung, Desa Berat Wetan, Gedeg ini, justru kenyataan pahit.

Uang yang rencananya dipakai untuk hari tuanya itu, mendadak lenyap. Tak jelas siapa yang menikmatinya. Wajahnya terlihat sangat lesu. Pun tubuhnya masih nampak lemas. Namun, Suhartoyo cukup semangat saat menceritakan tabungannya yang mendadak hilang di rekening BRI Simpedes.

’’Waktu itu saya baru pulang dari rumah sakit. Saya sakit dan opname,’’ ungkapnya mengawali cerita. Pria yang kini hidup sebatangkara sejak istrinya meninggal beberapa bulan lalu itu, menambahkan, tepat 18 Januari sekitar pukul 15.00, ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal.

Seorang lelaki yang mengaku sebagai petugas BRI. Penelepon menginformasikan jika BRI akan memberikan hadiah berupa pulsa sebesar Rp 500 ribu. Dan tak lama kemudian, pulsa sebesar Rp 80 ribu masuk ke ponselnya. Ponsel Suhartoyo kembali berdering. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai seorang buruh pertanian ini mengaku, penelepon kembali menanyakan perihal pulsa yang akan diberikan.

’’Tak lama orang itu menelepon saya lagi untuk menanyakan pulsa yang dikirim sudah masuk apa belum? Saya jawab sudah masuk tapi hanya Rp 80.000. Tapi penelepon itu langsung menutup percakapan,’’ bebernya.

Janji pulsa Rp 500 ribu yang diberikan penelepon tak kunjung masuk, duga 59 tahun ini mulai menaruh curiga. Dia kemudian menanyakan perihal bonus pulsa ke Agen BRI di kawasan Gedeg. Setelah itu, pihak agen membantu Suhartoyo untuk mengecek saldonya. Suhartoyo pun terkejut melihat saldo di rekeningnya yang hanya tersisa Rp 2 juta.

Padahal, sebelumnya saldo Suhartoyo sebesar Rp 67 juta. Uang senilai Rp 67 juta itu berasal dari hasil menjual tiga ekor sapi, dan puluhan ayam peliharaannya. ’’Saya sudah tidak punya keluarga. Saya ingin menikmati masa tua saya. Dan saya jual semuanya,’’ harapnya.

Keesokannya, Suhartoyo mencetak rekening koran ke kantor BRI Kantor Cabang Jalan Majapahit, Kota Mojokerto. Dari rekening koran terbukti jika tabungan Suhartoyo terkuras Rp 65 juta.

Di rekening koran itu terdapat penarikan sebanyak empat kali. Pertama, penarikan sebesar Rp 10 juta, Rp 40 juta, Rp 10 juta, dan terakhir senilai Rp 5 juta. Jangka waktu penarikan tak kurang dari 20 menit.

Dalam rekening koran juga diketahui terdapat dua nama di balik penarikan saldo tabungan. Yakni, Yuli dan Nurfitria. Tak hanya itu, di depan bukti uraian transaksi tertera BRIVA (BRI Virtual Account) disambung dengan nomer kode.

Terkejut dengan lenyapnya tabungannya, Suhartoyo langsung melapor dan mengusutnya. Ia dijanjikan proses pengusutan selama 20 hari dan mendapat kabar dari pihak BRI Kantor Cabang Mojokerto.

Akan tetapi, hingga 20 hari, kabar itu tak kunjung datang. Rencana untuk melapor ke kepolisian pun, dilarang pihak bank. ’’ Saya sudah tiga kali ke sana. Saya bertanya ke pihak BRI apakah saya harus lapor polisi? Mereka menjawab tidak perlu karena BRI mempunyai polisi. Polisi BRI masih memproses kasus ini,’’ ceritanya.

Akibat penipuan ini, Suhartoyo pun menderita. Untuk biaya obat saja dia harus meminjam ke saudaranya. Selain itu, untuk menyambung hidup dia juga terpaksa menjual 50 ekor ayamnya. Suhartoyo hidup sebatang kara di rumah semipermanen. Istrinya, Hayati, beberapa tahun lalu meninggal dunia.

’’Saya disarankan menarik saldo sisa Rp 2.071.187 oleh pihak bank agar tak dikuras. Kini tak ada lagi saldo di ATM. Saya bergantung hidup ke saudara. Saya tak lagi bisa bekerja karena sakit tifus dan lambung. Hewan ternak saya juga sudah habis terjual,’’ tandasnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pegawai BRI di kantor Cabang Mojokerto juga tak ada yang berani berkomentar. Mereka menyarankan langsung ke kantor wilayah BRI Jatim di Surabaya. Pun demikian saat Jawa Pos Radar Mojokerto mencoba mengklarifikasi Natasha, Humas BRI Kanwil Jatim. Sayangnya, hingga tadi malam belum berhasil dikonfirmasi.

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia