Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mata Lensa

Travesti di Balik Panggung Karya Budaya

11 Maret 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dua pemain Ludruk Karya budaya saat berdandan.

Dua pemain Ludruk Karya budaya saat berdandan. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

SUARA gamelan sudah bertalu-talu. Kelap-kelip lampu panggung terihat dari kejauhan. Dalam sekejap penonton sudah memadati depan panggung sembari duduk memenuhi jalan desa.

Kala itu, Ludruk Karya Budaya tanggapan di wilayah Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Mata Lensa berkesempatan merekam aktivitas pemain ludruk di balik panggung. Segala aktivitas persiapan di atas panggung mereka lakukan sendiri, tanpa dibantu make over dan pengarah busana atau wardrobe.

Karya Budaya merupakan grup ludruk Jawa Timuran yang masih erat menerapkan pakem.Semua pemain ludruk dimainkan oleh pria.Maka dari itu, jika ada peran perempuan biasa diperankan pria yang berdandan ala perempuan.Dalam dunia seni tradisi disebut travesti.

Pemain Ludruk Karya Budaya memasang rambut palsu.

Pemain Ludruk Karya Budaya memasang rambut palsu. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

Para travesti ini datang dari berbagai wilayah disekitar Mojokerto saat Karya Budaya pentas.Mereka terbiasa hidup ber-caravan.Berpindah-pindah dari tempat satu ketempat yang lain, mengikuti rombongan sesuai tanggapan.

Di belakang panggung disediakan tempat khusus untuk berdandan dan ganti kostum bagi seluruh pemain. Ruang ganti biasanya hanya tertutup kain hitam yang melingkar kurang lebih 6 meter. Di dalamnya seluruh pemain sibuk mempersiapkan diri.

Didalam bilik itulah Mata Lensa merekam satu persatu aktivitas pemain.Seperti yang tersaji di edisi minggu ini. Merekam aktivitas dibalik panggung tentu mendapatkan visual yang berbeda.Kita bisa berinteraksi langsung dengan para pemain sebelum mereka melakoni peran sesuai arahan sang sutradara.

Ada peran antagonis hingga jenaka. Cerita-cerita ludruk merupakan realitas dinamika sosial nyata, yang dibawakan dengan jenaka dan bercorak egaliter. Tak hanya itu, kritik sosial maupun biasanya dibawakan dengan jenaka saat kidungan. Meski pedas, namun seluruh penonton tertawa. Menertawakan realitas yang ada.

(mj/fan/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia