Selasa, 25 Jun 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto
18 Desa Penjaga Garis Batas (7)

Desa Lengkong, Wacanakan Integrasi Wisata Air dan Kuliner

08 Maret 2019, 22: 21: 39 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dam Rolak Songo di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar nampak di malam hari.

Dam Rolak Songo di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar nampak di malam hari. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

Bagi warga Mojokerto dan sekitarnya, tentu sudah tak asing lagi dengan bendungan Rolak Songo di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar. Bangunan kokoh pengendali aliran sungai terbesar di Jawa, Sungai Brantas, yang dibangun Belanda.

Disebut Rolak Songo karena bendungan ini mempunyai sembilan pintu air berukuran raksasa. Deretan lampu penerang menambah keindahan pengendali sungai itu di saat malam tiba.

PESONA kemegahan dan keindahan Rolak Songo ini banyak menarik para pengunjung. Meski awalnya hanya sekadar beraktivitas atau nongkrong di saat siang maupun malam. Namun, perlahan kemudian tumbuh para penjual makanan dan minuman di sekitar bendungan.

Potensi perputaran ekonomi terlihat nyata di bendungan ini. Peluang inilah yang kemudian coba dikembangkan oleh pemerintah Desa Lengkong. Konsep pengembangan wisata desa ini tampaknya sudah wacana serius. Karena bakal memasuki bahasan penggodokan dengan BPD serta pihak terkait.

”Kita memang tengah menggagas konsep wisata yang berpusat di Rolak Songo,” kata Nuroso, Kepala Desa Lengkong. Dari konsep yang digambarkan Nuroso, terlihat suatu konsep wisata yang terintegrasi. Menggabungkan potensi air yang luar biasa dengan kuliner setempat.

”Lahan untuk kuliner akan kita siapkan di sepanjang sisi Rolak Songo. Dan disitu akan kita pasang lampu-lampu lampion untuk memperindah saat malam,” imbuh Nuroso. Tak hanya itu, ia juga menggagas berdirinya kios-kios wisata di sepanjang sisi bendungan. Di kios ini akan dijual semua suvenir khas Rolak Songo dan Mojokerto.  

Sementara untuk wisata air, Nuroso berencana akan memanfaatkan dermaga di sisi bendungan. Ia menggagas wisata berperahu di sepanjang sekitar 3 km pada sisi sungai. Mulai dari Rolak Songo melintasi wilayah kota menuju TBI (Taman Brantas Indah).

Wisata perahu ini menurut Nuroso akan menjadi satu paket dengan kuliner. ”Jadi, hanya dengan membayar tiket perahu, pengunjung juga bisa menikmati kuliner dengan sistem kupon.” terangnya. Tak hanya kenyamanan pengunjung, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan Nuroso.

Selain dengan selalu memantau debit air sungai serta menyiapkan semacam petugas lifeguard, ia juga menggandeng pihak asuransi. Dengan demikian, para pengunjung bisa berwisata dengan tenang. Ia melihat banyak keuntungan dari wisata ini. Selain perekonomian warga yang pasti bakal meningkat, jumlah pengangguran serta kenakalan remaja juga bisa ditekan.

”Dan tentu saja ada pemasukan untuk pemerintah daerah,” ujar Nuroso. Efek domino positif lainnya tentu saja pada kebersihan sungai. Jika wisata air sudah berjalan, Nuroso yakin kebersihan sungai di sepanjang aliran sungai Brantas juga akan mendapat perhatian lebih besar.

Termasuk masih banyaknya pembuangan sampah dan limbah di sungai hingga saat ini. Namun sayangnya, meski konsep wisata yang digambarkan demikian matang dan menarik, masih terdapat ganjalan untuk merealisasikannya.

Pemerintah desa saat ini mesti menunggu pergantian BPD terlebih dulu yang sudah habis masa baktinya. Pun demikian pula dengan lampu hijau dari Jasa Tirta sebagai pemangku lahan calon tempat wisata.

Kendala lain yang mungkin dihadapi adalah terkait regulasi dalam penggaran dana desa untuk pembiayaan pembangunannya. Namun, Nuroso tetap merasa yakin, konsep wisata ini akan bisa terealisasi pada tahun ini.

”Jika penggunaan anggaran desa tidak diperbolehkan, kita siap menggandeng pihak ketiga sebagai investor,” tegasnya. (nto)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia