Senin, 20 May 2019
radarmojokerto
icon featured
Sportainment

Gagal ke Babak Utama Porprov, Wasit Jadi Kambing Hitam

05 Maret 2019, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Para pemain tim sepak bola Porprov Kabupaten Mojokerto sebelum menjalani laga terakhir melawan Kabupaten Blitar di Stadion Gajayana, Malang.

Para pemain tim sepak bola Porprov Kabupaten Mojokerto sebelum menjalani laga terakhir melawan Kabupaten Blitar di Stadion Gajayana, Malang. (Askab PSSI for radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Mimpi tim sepak bola Kabupaten Mojokerto lolos ke babak utama Porprov 2019 akhirnya pupus.

Laga terakhir yang ditargetkan mampu membawa pulang tiga poin tak bisa direbut Arief Catur dkk setelah kalah tipis 2-1 atas Kabupaten Blitar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Senin (4/3).

Kekalahan itu pun yang membuat tim Kabupaten Mojokerto hanya bisa mengumpulkan 3 poin dari 3 kali laga. Dan menempati posisi tiga klasemen Grup C.Sementara tuan rumah Kota Malang berhasil duduk di ranking teratas dengan raihan 6 poin dan berhak mengantongi tiket lolos babak utama.

Kapten tim Porprov Kabupaten Mojokerto, Arief Catur mendapat perawatan medis usai dilanggar pemain Kabupaten Blitar hingga terluka.

Kapten tim Porprov Kabupaten Mojokerto, Arief Catur mendapat perawatan medis usai dilanggar pemain Kabupaten Blitar hingga terluka. (Askab PSSI for radarmojokerto.id)

Disusul kabupaten Blitar di posisi runner-up dengan raihan 4 poin yang masih harus bersaing memperebutkan empat runner-up terbaik dari 7 grup yang bertanding sebagai syarat lolos ke babak utama. Kekalahan tersebut yang disadari tim pelatih sebagai kekalahan paling menyakitkan.

Sebab, secara permainan, Arief Catur dkk mendominasi sejak menit awal laga berjalan. Bahkan, anak asuh Nono Srihartowo itu sempat unggul lebih dulu di menit ke-10. Setelah Dandy dengan mudah melewati lawannya hingga dengan mudah mengarahkan bola ke pojok kanan gawang tim Blitar.

Namun, sikap dan keputusan wasit selang beberapa menit kemudian mengubah keadaaan. Blitar yang juga ingin lolos mendapat peluang mencetak gol lewat hadiah penalti yang diberikan.

Hal ini yang dituding tim pelatih Kabupaten Mojokerto sebagai keputusan yang merugikan. ’’Di menit ke-30 kita justru kena penalti. Padahal, pelanggaran yang dilakukan tidak terbukti jelas,’’ ungkap Nono Srihartowo, pelatih tim Kabupaten Mojokerto.

Tudingan wasit kontroversial pun berlanjut di babak kedua. Di mana, serangan demi serangan ynag dibangun Arief Catur dkk harus patah oleh keputusan offside yang diberikan wasit. Bahkan, jumlahnya cukup banyak. Hingga 5 kali.

Keputusan kontroversial wasit bahkan mampu memunculkan emosi ofisial hingga terpaksa diusir dari pinggir lapangan. ’’Gol Dandy di menit ke-70 lewat heading dari belakang malah dianulir. Itu yang membuat asisten pelatih kita tersulut emosi. Sampai harus dikartu wasit dan disuruh ke tribun,’’ tambahnya.

Dan petaka akhirnya datang di 15 menit jelang laga bubar. Pemain depan Blitar yang jelas terperangkap offside justru dibiarkan lolos hingga dengan mudah melesakkan bola ke gawang Aditya. Sehingga, skor akhir berubah menjadi 2-1 untuk kemenangan Blitar. (far/abi)

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia